
Hari telah malam, Brian dan Nafiza di antar pulang oleh Troy. Lima hari sudah Nafiza menjalani ospek, suami dan sekretarisnya itu benar-benar tidak bekerja, mereka terus mendampingi Nafiza tanpa bosan dan tanpa lelah. Tentu ini bukan demi keamanan Nafiza saja tetapi juga untuk keamanan si kembar triplet yang sedang di kandung Nafiza. Tubuh Nafiza benar-benar Fit, ia di anugrahi tubuh sehat dan kuat di masa-masa kehamilan awalnya.
Nafiza sudah membersihkan dirinya, ia mencari keberadaan Brian yang tak di temukannya di kamar.
Saat ia hendak menuruni tangga, ia melihat ruang kerja Brian pintunya sedikit terbuka, akhirnya Nafiza mengurungkan niatnya, ia bermaksud menghampiri Brian yang mungkin sedang memeriksa beberapa pekerjaannya yang menumpuk. Benar saja, suaminya itu sedang berkutat dengan laporan dan berkas-berkas baik dalam bentuk dokumen maupun online.
Nafiza berjalan mendekati Brian, ia menyandarkan tangannya di kursi kerja yang Brian duduki.
"Pekerjaanmu banyak sekali, maaf ya sudah membuatmu lembur untuk mengerjakannya, ini karena kamu menemaniku menjalani ospek" ucapnya dengan sedikit murung.
Brian mendongakkan kepalanya, ia memegang tangan istrinya dan memutar kursinya menghadap Nafiza.
"Tak perlu minta maaf ini semua bukan salahmu, bekerja tiap hari juga selalu merepotkan, aku tidak keberatan menunda pekerjaanku demi menjaga kamu dan anak kita" Brian memeluk pinggang Nafiza dan mencium perut istrinya yang masih rata.
Nafiza mengelus pucuk kepala Brian perlahan.
"Mereka senang sekali memiliki ayah yang begitu mencintai keluarganya"
"Benarkah? kamu tahu dari mana? apa mereka berkata sesuatu di dalam perutmu?" Brian menggoda Nafiza. "Sini ayah ingin dengar kalian berbicara apa? oh begitu iya iya" Brian mengangguk-anggukan kepalanya seolah benar-benar mendengar sesuatu dari perut Nafiza.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Nafiza.
"Mereka mempunyai satu keinginan"
"Masa masih dalam perut sudah punya keinginan" Nafiza terkekeh mendengarnya.
"Serius sayang, tuh iya kan ayah mengerti, ayah akan mengatakannya pada bunda kalian" Brian masih menggoda Nafiza dan menempelkan telinganya pada perut Nafiza.
"Memangnya apa yang mereka inginkan?"
"Mereka meminta di jenguk oleh ayahnya"
"Hah? di jenguk maksudnya?" Nafiza tak mengerti.
__ADS_1
"Di tengok Jun sayang"
"Ooohhh itu sih bukan permintaan mereka tapi itu maumu Brian!"
"Hahaha, ayo mereka sangat merindukan ayahnya" Brian bangkit dari duduknya dan menggiring Nafiza keluar dari ruangan kerjanya.
"Gendooooong" Nafiza melebarkan tangannya menghadap Brian.
"Siap bunda" suaminya itu bersiap dengan posisinya, perlahan ia mengangkat tubuh Nafiza menggendongnya dengan gaya bridal style dan membawanya ke kamar.
"Ngerjain bunda dulu baru ngerjain yang lain" lirihnya meletakkan tubuh Nafiza di ranjang king size miliknya.
Dengan pelan namun pasti Brian mencium bibir Nafiza, kedua tangannya juga sibuk melucuti mini dress yang di pakainya, ia tak menyisakan sehelai kainpun menutupi tubuh mulus istrinya.
"Anak-anak Jun comiiinggg" seru Brian sangat bersemangat. Nafiza hanya bisa tersenyum melihat gelagat nakal nan lucu suaminya. Malam itu kamar bumil dan pamil sedikit berisik dengan suara desau yang dikeluarkan, beruntung tidak ada orang yang tinggal di lantai 2 selain mereka.
***
Berbeda dengan Brian yang sedang berbahagia 'menjenguk' anak-anaknya, Troy sedang termenung di depan mobil. Ia berada di depan rumah Tita, menunggu pujaan hatinya keluar untuk menemuinya. Beberapa hari ini Tita kecewa dan marah padanya, setelah sibuk menemani Nafiza ospek, Troy selalu tertidur di rumahnya tanpa menghubungi Tita. Gadisnya itu mempertanyakan kesungguhannya lagi, ia tak suka di acuhkan dan tidak di beri kabar. Sehingga malam ini meski sudah mulai larut Troy nekat menemuinya, hanya jika ada ayah Tita mungkin ia akan segera kabur dan pulang.
Nampak seorang gadis menggunakan cardigan sambil melipat tangannya berjalan ke arahnya.
"Mau apa kak Troy kemari?" tanya Tita ketus.
"Maaf ya Tita aku beberapa hari ini lupa menghubungimu" Troy memberikan sebuket bunga mawar merah pada Tita. Sebetulnya Tita masih kesal dan ingin marah padanya tetapi wajahnya malah merona dan bibirnya tak bisa berhenti tersenyum.
Tita menyandarkan tubuhnya pada kap mobil Troy dan membuang wajahnya, ia tak mau terlihat murahan dengan memaafkan Troy cepat. Troy masih memegang buket bunganya mendekatkannya pada Tita.
"Tita jangan marah lagi ya, aku benar-benar tidak sengaja. Aku selalu ketiduran setelah pulang bekerja, jadi lupa menghubungi Tita" Troy memasang wajah memelas.
"Aku tidak penting ya untuk kak Troy? aku bukan prioritas?"
"Tita sangat penting buatku, hanya saja aku tidak bisa menahan kantuk lebih lama Tita, maafkan aku ya, aku berjanji akan selalu mengabari Tita setiap hari" Tangan Troy beralih memegang tangan Tita dan memohon, gadis itu tersentuh, ia tak bisa menahannya lagi, Tita menghambur memeluk Troy erat.
__ADS_1
"Aku benci, aku tidak suka kak Troy jika tidak ada kabar, aku selalu ingin kak Troy bercerita tentang kegiatan kak Troy dan juga aku pun sama, aku ingin selalu menceritakan hal yang terjadi padaku setiap harinya, apa kak Troy tahu aku sangat sedih ketika mendengar teman-temanku yang lain di terima di universitas yang mereka inginkan dan mengikuti ospek, sedangkan aku sekarang hanya seorang pengangguran" Tita menghela napasnya, Troy jadi mengerti alasan Tita marah dan uring-uringan ia hanya ingin di dengarkan.
"Maaf ya aku tidak peka dan tidak paham dengan kondisi yang Tita sedang alami saat ini, Tita tidak boleh menyerah, suatu hari nanti Tita pasti bisa menyusul teman-teman yang lain untuk berkuliah" Troy mengusap kepala Tita lembut.
"Saat ini aku hanya butuh kak Troy, jangan jauh-jauh ya, temani dan dengarkan aku terus" Tita semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya aku akan selalu ada untuk Tita, aku sangat menyayangi Tita"
"Aku juga sangat menyayangi kak Troy" lelaki itu mendorong tubuh Tita pelan, tangannya beralih memegang dagu Tita dan mengangkatnya perlahan mendekatkan bibirnya dengan bibir Tita.
"Sabar 'Dek' jangan bangun, cuma ciuman doang, jangan bertingkah yang aneh-aneh deh" tangan Troy menarik sedikit celananya yang terasa kencang, ada yang salah berdiri di dalam sana.
"Uhuk!!" suara batuk yang pernah di dengar oleh mereka rasanya seperti tak asing.
"Om" ucap Troy, mereka berdua langsung menjauhkan diri salah tingkah.
"Tita" panggil ayahnya dengan wajah seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
"Iya ayah, kak Troy Tita masuk dulu ya. Selamat malam" Tita mengambil buket bunga dari tangan Troy kemudian ia sedikit berlari masuk ke gerbang pintu rumahnya.
"Saya juga pamit om sudah malam" Troy menyalami ayah Tita dan segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat.
Ayah Tita memandang mobil Troy sampai pergi tak terlihat.
"Anak muda jaman sekarang, kalau tidak di pantau, baru cium sedikit langsung pegang-pegang celananya, dasar nafsuan kaya ayah dulu" ayah Tita terkekeh sendiri ingat masa mudanya, dia hanya berusaha menjaga anaknya agar tidak bertindak lebih jauh sebelum menikah. Jadi sebenarnya ayah Tita sejak tadi mengintip anaknya yang sedang berpacaran dari balik pagar.
Sedangkan Troy yang di dalam mobil hanya bisa menyesali situasi dan kondisinya yang selalu kurang beruntung dalam hal mesum yang akan di lakukannya pada Tita.
"Dek dek gagal maning lagi dek, sepertinya harus ganti tempat kalau mau mesum tidak boleh di situ" Troy mulai berpikir, akan pergi membawa Tita kemana agar tidak ada yang mengganggunya.
***
Troy jadi nakal ya mesum ππ
__ADS_1
Semangat sore semoga terhibur
love you full semuanya ππ