Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Hari H


__ADS_3

Tibalah hari ini, hari yang di tunggu-tunggu oleh Troy dan Tita. Sebuah gedung yang berada di dalam Hotel bintang lima kenamaan di Jakarta sudah di hias dengan bunga yang berwarna warni semakin menyerbakan nuansa mewah serta asri.


Rombongan calon pengantin pria telah berada di dalam gedung, lelaki tampan yang mengenakan jas hitam putih itu terlihat gugup saat akan berjalan di atas karpet merah menuju singgasana panas tempatnya akan melaksanakan ijab kabul.


Semua mata tertuju padanya, Ibu yang melihatnya sedikit gemetar segera menghampiri dan merangkul tangan Troy.


"Jangan lupa baca doa jika kamu gugup" nasihatnya, Troy menganggukan kepalanya. Perasaannya sudah campur aduk, bahkan ia tak melihat wajah-wajah orang lain, menurutnya saat ini wajah semua orang sama dan tak ada yang berbeda. Rasanya ia ingin segera menyelesaikan pengucapan ijab kabul ini sekarang juga tetapi ia juga merasa takut, takut salah.


Troy mulai melangkahkan kakinya, iringan calon pengantin pria mengikutinya dari arah belakang. Kehadirannya di sambut oleh penari daerah yang melemparinya dengan beberapa kelopak bunga. Troy berjalan pelan mengikuti iringan musik yang mengalun hingga duduk di kursi yang di hadapannya sudah ada penghulu, dua orang saksi dan calon mertuanya.


Acarapun di mulai dengan sambutan dan doa, kemudian tibalah di saat-saat yang menegangkan yaitu pengucapan ijab kabul.


"Nak Troy sudah siap?" tanya sang penghulu.


"Siap" jawab Troy tegas.


"Silahkan jabat tangan calon mertuanya" Troy menurut berjabat tangan dengan ayah Tita.


"Sudah latihan sebelumnya?"


"Sudah" jawab Troy, jantungnya seperti akan meloncat karena berdegub dengan kerasnya.


"Jadi mau langsung saja tidak latihan?" tanya penghulu memastikan.


"Iya"


"Kalau begitu silahkan bisa di mulai pak" ucap penghulu pada ayah Tita.


"Ananda Troy Mahendra bin Almarhum Radi saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anakku yang bernama Tita Widya binti Danu Iskandar dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas sebanyak 100gr di bayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Tita Widya binti Danu Iskandar dengan mas kawin tersebut tunai!!"


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.


"Sah!!" jawab kompak keduanya.


"YEEESSSS!!!" sontak Troy berdiri dan mengangkat kedua tangannya melakukan selebrasi.


Semua orang yang melihatnya tertawa.


"Sepertinya kak Troy sangat senang" ucap Nafiza berada duduk di barisan paling depan bersama Brian.


"Tentu saja, menuntaskan bacaan ijab kabul itu jika sudah berhasil akan sangat melegakan untuk semua laki-laki"

__ADS_1


"Kamu sepertinya dulu biasa saja tidak sebahagia Troy saat menikahiku?" Nafiza memandang Brian lekat, tangannya memegang satu cup eskrim, sebelum duduk tadi Brian sudah mengambilkannya untuknya.


"Kita dulu menikah kan karena di jodohkan tapi sebenarnya aku sangat bahagia kok hanya tidak menampakkannya saja"


"Bohong!!"


"Kalau bohong kamu sekarang tidak akan hamil si triplet ini sekarang" Brian mendekatkan wajahnya pada perut Nafiza sambil mengelus-ngelusnya. "Benarkan kesayangan ayah?" ucapnya mengajak jabang bayi mereka berbicara.


"Sudah, aku mau makan eskrim dulu" Nafiza mendorong kepala Brian pelan menjauhkannya dari dari perutnya.


"Makan yang banyak, mumpung semua makanan ini gratis" ucapnya mengelus kepala Nafiza.


Rupanya ucapan Brian terdengar oleh penjaga catering yang berjaga saat acara lamaran Tita waktu itu, entah kenapa ia masih menghapal wajah Brian.


Brian merasa di perhatikan ia tersenyum kaku, sadar jika ia salah berbicara sedangkan penjaga catering tadi membalasnya menatapnya sinis.


Tita memasuki gedung, ia di tuntun berjalan menuju kursi samping Troy, penampilannya sangat anggun, ia memakai kebaya putih dan wajahnya sangat cantik. Sampai membuat Troy terpesona, setelah prosesi ijab kabul tadi selesai, barulah wajah setiap orang terlihat oleh Troy dia kini berada di mode manusia normal.


Troy dan Tita menandatangi buku nikah, momen seperti ini di abadikan oleh juru potret yang sudah siap sedia di sana. Tita menyalami tangan Troy, pemuda itu merasa sangat bahagia dan gemas. Ia menarik kepala Tita dan mencium pipinya, semua orang kembali tertawa melihat tingkah Troy.


"Sepertinya Kak Troy memang kebelet nikah ya mak" ucap Gea adik Troy pada ibunya.


"Bukan kebelet lagi sepertinya kakakmu itu memang sudah tidak tahan" keduanya terkekeh membicarakan Troy.


Nafiza dan Brian menghampiri Troy dan Tita ke podium pernikahan. Mereka menghambur memeluk sekretaris dan sahabatnya.


"Selamat ya semoga kalian bahagia selalu" ucap Nafiza.


"Troy sudah siapkan stamina untuk nanti malam?" tanya Brian bersemangat.


"Sudah tuan"


"Bagus, cepat menyusul si kembar triplet ya"


"Ini untukmu Ta, khusus dariku" Nafiza menyerahkan sebuah paper bag padanya.


"Apa ini Fiz? yang kemarin juga sudah cukup" sekedar informasi Brian menghadiahi Tita dan Troy sebuah mobil sedan keluaran terbaru sebagai hadiah pernikahan.


"Itu kan dari Brian, kalau yang ini dariku. Maaf ya aku tidak bisa memberikan barang mewah sebagai kadonya"


"Kamu sudah hadir saja rasanya sudah cukup, dari Brian atau kamu kan sama saja"


"Hadiah dariku ini harus kamu buka duluan dari pada kado yang lain ya, oke" amanat Nafiza.

__ADS_1


"Baik" jawab Tita.


***


Hari sudah malam, resepsi pernikahan sudah selesai. Pasangan pengantin baru ini di giring menuju sebuah kamar hotel. Kali ini tentunya akan menjadi malam bersejarah mereka berdua.


Kini Tita dan Troy sudah berada di dalam kamar yang di dekor dengan lilin-lilin dan bunga, suasananya persis seperti saat itu Troy menyewa kamar hotel saat melamar Tita.


Jantung keduanya berdegub kencang hampir ambyar, mereka berdua sangat gugup, malam ini rasanya berbeda dari malam saat lamaran waktu itu.


"A-aku akan mandi dulu, tubuhku rasanya lengket" ucap Troy, ia segera pergi ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Tita.


Sedangkan Tita hanya duduk dan termenung melihat kepergian Troy, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk, rupanya pesan itu dari Nafiza.


"Jangan lupa buka kadoku"


Bunyi pesan singkatnya, Tita hampir saja melupakan hal itu. Ia segera menyambar paper bag pemberian Nafiza dan membukanya.


Tita mengangkat sebuah pakaian dari dalamnya.


"Lingerie, seksi sekali" baju itu amat transparan rasanya memakainya baju ini pun seperti telanjang. Ada secarik kertas juga di dalamnya.


"Langsung di pakai ya, selamat bersenang-senang"


Tita menelan salivanya, haruskah ia menuruti perkataan Nafiza dan mengenakan pakaian ini sekarang juga?.


Tita rasa tidak ada salahnya, malam ini adalah malam spesialnya dengan Troy akhirnya Tita membulatkan tekad dan mengganti pakaiannya.


Troy berada di dalam kamar mandi sudah selesai membersihkan dirinya, sebenarnya ia mandi bukan hanya karena tubuhnya yang lengket akan tetapi ia merasa harus mendinginkan kepalanya.


"Aduh 'dek' kenapa kamu berdiri terus, padahal belum bertemu Tita tetapi kamu sudah tegangnya minta ampun" ucap Troy berbicara sendiri sambil memandang ke bawahnya. "Lemas sedikit jangan tegang-tegang aku merasa sedikit sakit jadinya" keluhnya lagi seolah benda di tubuhnya itu mengerti padahal tidak sama sekali.


Troy membalut tubuhnya dengan handuk dan mencoba untuk keluar, ia berjalan menghampiri Tita yang duduk di tepi ranjang.


"Tita" panggilnya tetapi saat Tita menoleh dan berdiri Troy jadi tak bisa mengatakan apa-apa, bibirnya terbuka menganga dan lidahnya kelu, awalnya ia akan meminta Tita mengambilkan pakaiannya, sepertinya tidak jadi.


Troy menelan salivanya, pemandangan indah. Tubuh Tita terlihat semuanya, lingerie yang di pakainya menampakkan bentuk tubuh aslinya, seolah tubuh itu hanya tertutup oleh celana segitiga dan penutup dua bungkus melon kecil saja.


Troy berjalan ingin lebih dekat dengan Tita dan mencengkramnya, memakannya hingga tak berdaya, ia melangkahkan kakinya, belum sampai pada Tita bahkan handuknya sudah jatuh melorot.


"KYAAAAAAA" Tita menjerit melihat benda besar yang berdiri di tubuh Troy, ia menutup matanya dengan kedua tangannya.


"KYAAAAAA" Troy ikut berteriak latah mendengar teriakan Tita, ia mencoba menutup adik besarnya tetapi rasanya percuma kedua tangannya tak berhasil menutup seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2