Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Hati Nafiza


__ADS_3

Brian terbangun, hari masih gelap. Matahari bahkan masih belum memancarkan sinarnya, kemudian ia memandang sosok gadis yang berada di samping.


"Gaya tidurnya lucu sekali" Brian terkekeh melihat Nafiza yang tidur dengan posisi tangan dan kakinya telentang sangat lebar, bahkan di ujung bibirnya ada sedikit air liur. Ia tidak merasa risih, baginya bentuk kelemahan Nafiza seperti apa pun ia bisa menerimanya. "Mungkin ini yang dinamakan bucin" ia mentertawakan dirinya sendiri yang sikapnya sudah berbeda dari Brian yang dulu, semakin hari rasanya semakin menyayangi Nafiza.


Setelah puas memandangnya Brian memutuskan untuk mandi karena ia harus bekerja, pekerjaannya di kantor sudah menumpuk, ia berusaha bangun dari posisinya pelan-pelan, takut Nafiza terbangun karena gerakannya. Ia mengangkat tangan Nafiza yang berada di perutnya dan menurunkannya pelan, kemudian ia berusaha menurunkan kakinya ke bawah dan berdiri.


"Kamu sudah bangun?" Nafiza melihat ke arah Brian sambil mengucek matanya, tak sengaja ia juga menyentuh bibirnya yang basah dan mengusapnya menggunakan kaos bagian atas yang di pakainya.


"Padahal aku sudah berdiri dengan pelan-pelan, tidurmu pulas sekali sampai air liurmu menempel pada bantal dan bajuku, aku jadi tidak tega membangunkanmu"


"Apa? benarkah? air liurku menempel kemana-mana?" Nafiza mengambil bantal di sebelahnya dan menciumnya. "Uweeekkk bau" Nafiza melempar bantalnya.


"Hahaha kamu ini lucu sekali" Brian duduk di samping Nafiza.


"Sini, bajumu juga kena air liurku?" Nafiza mendekatkan wajahnya pada dada Brian, mencium mencari-cari bau tidak sedap dari mulutnya. "Hehe sedikit bau, maaf ya" Nafiza tersenyum malu.


"Ada lagi, ini juga kena air liurmu semalam, kamu juga harus memeriksanya bau atau tidak" Brian menunjuk bibirnya.


"Ih modus!!!" Nafiza mendorong wajah Brian. "Sudah cepat mandi sana!" Brian membalasnya dengan tertawa.


***


"Apa kamu benar-benar sudah merasa baikan dan kuat untuk pergi sekolah?" tanya Brian, mereka kini berada di dalam mobil, seperti biasa Brian mengantar Nafiza pergi ke sekolah.


"Iya, aku sudah sehat kok, tadi lihat kan makanku banyak?" sambil tersenyum memegang perutnya.


"Kalau begitu jika kamu membutuhkan sesuatu atau merasa tidak enak badan segera telfon aku ya" 


"Siap bos" jawab Nafiza sambil membuka sabuk pengamannya. Mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah. "Aku turun ya" Nafiza mengecup pipi Brian gerakannya begitu cepat.


"Iya se se semangat ya belajarnya" Brian menjadi terbata-bata, pipinya seketika menjadi merah merona. Nafiza membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya.


"Hati-hati suamiku" Nafiza menutup pintu mobil dengan cepat dan berjalan masuk ke gerbang sekolah. Brian mematung tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Suamiku? hari ini dia bersikap manis sekali" Brian memandang punggung Nafiza sampai tak terlihat, tak lama kemudian ia pun melajukan kendaraannya.


***


Nafiza masuk ke dalam kelas, rupanya Tita sudah sampai duluan sedang duduk di kursinya sambil membaca buku.


"Hey tumben kamu datang lebih pagi" ucap Nafiza mengejutkan Tita.


"Kamu sudah sembuh? aku baru akan menjengukmu nanti pulang sekolah" jawab Tita.


"Aku sudah sehat kok Ta, kemarin hanya demam biasa, kamu membaca buku apa? serius sekali"


"Ini buku tentang rumus matematika yang baru, sebentar lagi kan kita akan ujian, aku belum menguasai pelajaran matematika dengan baik" 


"Aku juga sama, bagaimana jika nanti kita belajar bersama-sama?" ajak Nafiza.


"Wah boleh sepertinya menyenangkan, di mana? di rumahmu?" Tita sangat antusias.


"Iya di rumahku saja ya" Nafiza dan Tita asyik berbicara, kemudian seseorang menepuk pundak Nafiza.


"Oh iya aku baik-baik saja" jawab Nafiza singkat.


"Benarkah?" Septa berusaha memeriksa dahi Nafiza tetapi Nafiza mendorong kepalanya menghindari tangan Septa.


"Aku benar-benar sehat Sep" Nafiza tersenyum terpaksa.


"Syukurlah  jika begitu" melihat gerakan Nafiza tadi Septa akhirnya memilih segera duduk di kursinya yang berada tepat di belakang Nafiza, ia menatap tajam punggung Nafiza dan mengepalkan tangannya.


***


Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, Nafiza dan Tita berjalan keluar kelas menuju gerbang sekolah. Mereka menyusuri lorong sekolah seperti biasa tetapi kali ini sedikit berbeda, suasana ramai entah kenapa murid-murid yang lain memperhatikan Nafiza yang sedang berjalan sambil berbisik-bisik, mereka juga memegang ponsel masing-masing.


"Sepertinya mereka memperhatikanku Ta? apa penampilanku ada yang salah?" tanya Nafiza.

__ADS_1


"Penampilanmu tidak ada yang salah Fiz, lebih baik kita bertanya langsung saja pada mereka sebenarnya ada apa" ajak Tita menghampiri dua orang murid yang lain. "Silvi kenapa kalian memperhatikan Nafiza seperti itu? apa ada masalah?" 


"Nafiza bukankah ini suamimu?" Silvi memberikan ponsel miliknya pada Tita dan Nafiza, betapa terkejutnya Nafiza membaca artikel tersebut.


"SEORANG PENGUSAHA TERNAMA YANG SUDAH BERISTRI BERSELINGKUH DENGAN SEKRETARISNYA" 


Di dalam artikel tersebut memuat foto Brian sedang memegang pundak Sabrina, juga foto Sabrina memeluk Brian dan berjalan masuk ke sebuah kamar hotel yang lokasinya berada di Hongkong. Nafiza terkejut rasanya seperti tersambar petir di siang bolong, dadanya sesak juga sakit.


"Kamu baik-baik saja Fiz?" Tita khawatir melihat nafiza yang terdiam sedari tadi.


"Iya"


"Hari ini kita tunda dulu ya belajar bersamanya, kamu lebih baik cepat pulang" ucap Tita yang kemudian mengembalikan ponsel Silvi dan melanjutkan perjalanannya menuju gerbang sekolah.


"Aku yakin Brian tidak seperti itu Fiz, kamu harus berbicara dengan Brian" Tita berusaha menenangkan Nafiza, ia tahu Nafiza sangat syok.


"Iya Ta" lagi-lagi Nafiza menjawabnya singkat. Tak lama kemudian supir pribadi Tita datang.


"Aku akan menunggu sampai pak Ramli datang ya" 


"Tidak usah Ta, kamu pulang sana. Aku baik-baik saja kok" Nafiza mendorong Tita menuju mobil jemputannya.


"Eh" 


"Sudah-sudah sana pulang" Nafiza membuka pintu mobil Tita.


"Nanti hubungi aku ya" Tita menaiki mobilnya.


"Iya" Nafiza melambaikan tangannya pada Tita yang sudah pergi dengan senyum pura-puranya kemudian ia berjalan melangkah dari gerbang sekolah. Ia hanya menundukkan kepalanya, air matanya menetes jatuh menyentuh tanah, sesekali ia menyekanya, ponsel di dalam tasnya terus berbunyi.


***


Terima kasih untuk yang sudah membaca sampai sini, author sedikit sedih karena banyak reader yang tidak meninggalkan jejaknya.

__ADS_1


Jadi jangan lupa like dan komennya teman-teman.


Salam hangat dari Brian dan Nafiza 💗💗


__ADS_2