Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 2


__ADS_3

RIAN_________


___________________________


Setelah makan malam bersama keluarga. Ia langsung masuk ke kamar. Tak seperti biasa yang selalu bermain dengan Keyla ataupun Zio. Saat ini hatinya mendadak ingin sendiri untuk kembali mengenang kejadian penyatuan dan Maudy tadi soreh.


Bayangan saat Ia menyatukan diri dengan Maudy jelas terbayang di ingatan nya. Ia tersenyum dengan perasaan bahagia.


“Maafin aku Ya Dy. Maaf udah lancang mencium kamu” ucap nya dalam hati.


Mengingat wanita itu ia merasakan rindu yang amat dalam. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Maudy.


Lagi apa Dy ???


Pesan singkat namun sebuah pertanyaan membuat ia tak bisa bersabar untuk menerima balasan dari Maudy.


*1 detik.


2 detik


Hingga sampai 5 menit*.


Pesan singkat nya tak kunjung ada jawaban. Membuat nya menghela nafas sebentar sebelum memutuskan menelpon Maudy. Ia takut kalau Maudy marah karena kejadian tak mengenakan tadi soreh.


“Aiiisss. Maudy kemana sih ??” cibirnya kesal “Di SMS gak di balas di telpon gak diangkat” Gerutunya lagi.


Namun ia tak kehilangan kesabaran terus berusaha menelpon dan mengirim SMS kepada Maudy.


Pokoknya harus ada jawaban.


Akhirnya kesabaran nya membuahkan hasil. Ketika pesan singkat yang ia terima membuatnya terlonjak senang.


Tidur 🥱


Apa ?? sesingkat itukah balasan dari Maudy. Membalas sederetan pesan yang ia kirim dan puluhan telpon yang ia lakukan. Menyebalkan memang.


Ternyata sesusah ini menaklukan hati wanita. Terlalu banyak perjuangan yang harus ia berikan.


Dengan malas ia meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Kemudian kembali merebahkan diri di atas kasur dan memandang langit-langit kamarnya.


Jam dinding terus berputar, memberikan suara di atas keheningan yang menerpa.


Tiba-tiba ia mendadak mengingat kejadian masalalu, dan seperti biasa hatinya akan kembali sakit. Sungguh sakit dan begitu sakit.


Hanya satu kata itu yang mampu menggambarkan perasaan nya ketika ia mengingat kejadian masalalu. Hanya bisa berandai supaya kejadian itu tak terjadi dalam hidupnya. Namun sayang beribu sayang semua nya telah terjadi meninggalkan secercah rasa sakit yang menjadi pelajaran dalam hidupnya.


“Semoga Maudy bisa menerima semua masalalu ku”


Lagi lagi nama Maudy yang ia ingat saat kejadian masalalu melintas di pikiran nya.

__ADS_1


-------------------------


Maudy....


Ketika Puluhan telpon yang masuk kedalam ponsel nya dan banyak nya SMS yang ia terima. Membuat perasaan yang tadi marah mulai terasa lebih baik.


Namun ego yang ia rasakan ternyata belum bisa mengalahkan sebuah perasaan yang menghangat. Kejadian tadi soreh dimana Rian tiba-tiba mencium nya membuat ia merasa ingin marah.


Baginya Rian terlalu lancang karena telah mengambil kesucian bibirnya. Padahal ia begitu berharap semua itu ia berikan kepada suaminya kelak entah itu Rian sendiri atau laki-laki lain.


Sebenarnya ia tau tentang masalalu Rian karena saat itu ia iseng bertanya kepada Seno tapi tak di sangka kalau Seno menceritakan semua masalalu Rian.


Rian itu pria terluka. Ada kejadian masalalu yang membuatnya seperti ini. Begitu kata Seno waktu itu saat ia bertanya tentang Rian.


*Sebenarnya itu semua salahnya juga,tapi setelah kehilangan Rian menyadari kalau dirinya salah. Jadi Lo gak usah ragu untuk menerima Rian.


Rian pria yang rapuh dan butuh kasih sayang. Dengan kejadian masalalu membuat Rian bisa berpikir lebih dewasa..


Dia sayang sama Lo Dy. Percayalah Lo akan di buat bahagia sama dia.


Jadi jangan ragu. Cepat terima dia dan suruh Rian melamar kamu*.


Sederetan kalimat yang Seno ucapkan tentang Rian membuatnya mendadak kasihan. Tapi ada juga ketakutan di hatinya. Takut kalau Rian hanya akan menjadikan dirinya pelampiasan saat berpisah dengan mantan istri.


Ia tidak ingin seperti itu. Jelas ia ingin bahagia setelah menikah dan ingin menikah satu kali seumur hidup.


---------------


Rian............


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun matanya masih enggan untuk menutup. Matanya masih menyala. Masih menatap langit-langit kamarnya yang tak ada warna lain selain putih.


Suasana rumah semakin sunyi. Karena semua penghuni rumah sudah terlelap dengan nyenyak. Hanya menyisahkan dirinya yang belum bisa dapat tertidur.


Pesan singkat yang ia terima membuat perasaan nya bersalah. Ia berpikir kalau Maudy akan marah ataupun malah akan membencinya tentang kelancangan itu.


Sial.


Mungkin karena haus dengan kasih sayang ia tak bisa menahan nafsu yang menggebu.


------------------


Tok---Tok----Tok....


“Om Rian bangun !!”


“Om Rian !!”


Samar-samar telinga nya mendengar panggilan dan teriakan dari dua keponakan nya. Keyla dan Zio.

__ADS_1


Tapi matanya masih terlalu berat untuk terbuka. Ia masih sangat mengantuk karena tidur sudah lewat tengah malam.


Namun ia tak bisa mencegah ketika dua keponakan kesayangan nya Sudah masuk kedalam kamar dan naik keatas ranjang miliknya. Astaga.


“Om Rian bangun. Kata Daddy Om Rian mau kelja” ucap Zio dengan suara cadalnya.


“Kalau gak bangun juga Zio silam nanti”


Dengan cepat ia membuka matanya. Dari pada di siram oleh Zio. Karena setau dia Zio bukan anak yang bisa bercanda ketika apa yang Zio ucapkan maka akan ia lakukan. Ia tak ingin di siram oleh Zio dan menjadikan kasur nya basah kuyup.


“Iya nih Om bangun” ucapnya dengan suara serak.


Prok--Prok--Prok.


Zio langsung bertepuk tangan demi melihat nya sudah membuka mata.. Sementara Keyla hanya mencibir dengan tatapan sengit.


“Berhasil. Belahasil.” Zio kembali bersorak membuat paginya sudah senang.


Sedikit melupakan kepenatan dan rasa bersalahnya. Keyla dan Zio adalah obat ketika ia lelah.


“Ya sudah kalian tunggu disini . Om mau mandi dulu” ucapnya sambil mengacak rambut Zio.


“Siap Om” jawab Zio senang.


“Males Ah. Kakak Key mau ke bawah aja sama Mommy”


“Telselah !!”


“Dadah dedek Zio”


Ia tersenyum mendengar percakapan kedua ponakan nya. Ingat tentang masa kecil nya dengan sang Kakak. Beda dengan Keyla dan Zio yang punya Mommy kalau ia dulu di besarkan dan dididik oleh Papa dan Kakak.


Setelah selesai mandi ia kembali ke kamar. Matanya langsung menangkap dimana Zio sedang memainkan ponselnya.


“Ponsel siapa itu Zi ??” tanya nya sambil mengambil pakaian kerjanya.


“Poncel Om” jawab Zio


“Main apa ??”


“Main cacing Om”


Zio memang begitu ia suka sekali dengan game cacing yang ada di ponselnya. Hanya melalui ponselnya Zio bebas bermain karena kalau sama Mommy dan Daddy maka Zio akan di larang. Tak ada ponsel kalau belum sekolah.


Tentu saja ia akan mendiamkan dan tak pernah bilang ke kakak iparnya. Karena tak ingin kalau Zio kena marah. .


BERSAMBUNG...


MAAFKAN KALAU BANYAK TYPO YA !!

__ADS_1


__ADS_2