Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Belajar Keras


__ADS_3

Sinar matahari masuk melalui celah-celah gorden, Brian masih tidur sepertinya dia sangat lelah setelah seharian kemarin pergi kencan dengan istrinya. Nafiza sudah membuka matanya, mengedarkan pandangannya pada langit-langit kamar, jendela dan berakhir pada pria di sampingnya. Senyum manis menghiasi wajah putihnya, cukup lama Nafiza memandang suaminya.


"Hmmmm pantas saja perempuan di luar sana terpesona jika melihatmu, kamu memang sangat tampan." ucap Nafiza pelan. Selesai menatap wajah suaminya Nafiza segera bangun dan melihat ke luar jendela.


"Hari ini cuacanya pasti akan cerah" Nafiza segera keluar dari kamar Brian, ia harus bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah rapi ia kembali ke kamar Brian dan membangunkannya.


***


Mobil Brian sudah menepi di depan gerbang sekolah, Nafiza membuka sabuk pengamannya.


"Aku sekolah dulu ya" Nafiza mengecup pipi suaminya, seakan sudah terbiasa Brian hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Nafiza keluar dari mobil Brian dan langsung menuju kelasnya, suasana di kelas sudah ramai tetapi ketika Nafiza masuk beberapa temannya memandangnya dan saling berbisik.


"Ini ada apa lagi" gumamnya heran melihat teman-teman yang lain. Tak lama Tita pun datang.


"Halo sahabatku" Tita memeluk Nafiza. "Bagaimana apa masalahmu dengan Brian sudah selesai?"


"Sudah Ta, aku dan Brian sudah tidak salah paham lagi" Tita melepas pelukannya.


"Aku sudah melihat video klarifikasinya, aku sudah bilang kan Brian tidak mungkin berselingkuh"


"Iya aku tahu, berkat kejadian ini hubungkanku dengan Brian menjadi lebih dekat, tetapi Ta kenapa yang lain bersikap aneh lagi? apa mereka belum melihat berita itu?"


"Jadi kamu belum mendengar berita baru lagi?"


"Berita apa?"


"Septa pindah sekolah, katanya dia tersandung kasus yang cukup rumit. Aku juga tidak tahu masalahnya apa, padahal sebentar lagi akan ujian tetapi dia malah membuat masalah dan harus di pindahkan. Mereka memperhatikanmu mungkin menyangka kamu ada kaitannya dengan masalah Septa."


"Oh aku memang tahu masalahnya"


"Jadi ini benar ada kaitannya denganmu Fiz?" Nafiza mengangguk dan menjelaskan masalahnya dengan Septa.


"Aku tidak menyangka Septa seperti itu"


"Aku juga, Ta kamu jangan bilang sama yang lain ya masalah ini"


"Iya aku mengerti"


"Masalahnya sudah selesai, Brian memintaku untuk tidak membahasnya lagi. Katanya lebih baik aku memikirkan masalah ujian"


"Betul juga sih kata Brian, kita tidak usah membicarakannya lagi. Lebih baik kita fokus belajar dari sekarang, jadi belajar bersama di rumahmu?"


"Jadi dong" tak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi, semua murid duduk di kursinya masing-masing.


***


Tita sudah berada di rumah Nafiza, mereka sedang mengerjakan soal bersama.


"Aku lelah, kita istirahat dulu ya" ajak Tita.


"Aku juga" Nafiza meletakkan buku dan pensilnya, ia mengambil cemilan yang di siapkan Bi Inah.


"Fiz aku ingin menanyakan ini dari dulu."


"Tanya apa?" jawab Nafiza sambil mengunyah makanannya.


"Bagaimana rasanya melakukan hubungan intim?" Tita mendekati nafiza memandangnya sangat dekat.


Uhuk uhuk


Nafiza tersedak mendengar pertanyaan Tita.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?" pipi Nafiza memerah.


"Aku hanya ingin tahu, ayo ceritakan padaku Nafiza" Tita semakin penasaran, ia menggoyangkan bahu Nafiza beberapa kali.


"Aku belum melakukannya Ta, kami hanya sebatas berciuman" jawab Nafiza malu-malu.

__ADS_1


"Apa? cuma ciuman begini? tidak lebih?" Tita mengerucutkan kedua tangannya dan membenturkannya.


"Iya, aku menolaknya Ta"


"Menolaknya? lalu Brian tidak memaksa?" mata Tita melebar.


"Awalnya sedikit memaksa tetapi dia bersedia sabar dan menunggu sampai aku lulus sekolah dulu"


"Wah Brian hebat sekali, aku pikir dia akan jadi pria yang liar di ranjang"


"Dia sangat lembut Ta, dia selalu menciumku dengan mesra" Nafiza memegang kedua pipinya panas.


"Aaaaaaaa kamu membuatku iri, kapan ya ada pria yang mau menciumku"


Nasib jomblo πŸ˜„


"Sudahlah jangan membicarakannya lagi, nanti kamu semakin mau" ledek Nafiza, keduanya tertawa. Tak lama mereka melanjutkan kembali kegiatan belajarnya.


***


Satu minggu kemudian tibalah esok hari ujian pertama Nafiza, ia berada di kamarnya masih berkutat dengan pensil dan buku.


"Kamu masih belajar?" Suara Brian berada di belakangnya, Nafiza sangat fokus sehingga ia tidak sadar Brian masuk ke kamarnya.


"Iya aku sangat gugup memikirkan ujian"


"Tenanglah, kalau kamu belajar dengan keras kamu pasti lulus, tapi ini sudah malam beristirahatlah".


"Sebentar lagi, aku ingin menyelesaikan ini"


"Baiklah, aku pergi ke kamar ya. Jangan tidur terlalu malam." Brian mengecup kening Nafiza, ia menanggukan kepalanya.


***


Hari ini tidak biasanya Nafiza bangun kesiangan, ia berjalan menuruni anak tangga, jalannya sedikit tidak beraturan dan sempoyongan. Brian juga sudah bangun, dia menatap punggung Nafiza dari belakang.


Sampai di bawah beberapa senti lagi Nafiza menabrak tembok, rupanya ia berjalan sambil menutup mata. Tangan Brian segera melingkar di perut Nafiza menariknya menjauhi tembok.


"Nafiza jangan tidur sambil berjalan" tegur Brian.


Nafiza membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya bersandar di dada Brian.


"Maaf Brian"


"Sebentar lagi kamu akan menabrak tembok"


Nafiza mengucek matanya, juga menguap sangat lebar.


"Aku begadang semalam, rasanya belum mengerti materinya jadi aku terus belajar"


"Apa sesulit itu? sampai kamu tidak bisa tidur."


"Sangat sulit"


"Pelajaran apa?"


"Matematika, seharusnya aku ikut les privat jika tahu akan begini."


"Ya sudah biar aku saja yang mengajarimu. Nanti sepulang kerja kita akan belajar."


"Memangnya kamu bisa?"


"Bisa, sudah sana cepat mandi. Ini sudah mulai siang jangan sampai terlambat untuk ujian hari pertama."


"Oh iya baiklah aku mandi dulu" Nafiza kembali ke kamarnya sambil berlari.


***

__ADS_1


Ujian hari ini berjalan cukup lancar, sedangkan besok ujian untuk pelajaran matematika memikirnya saja sudah membuat Nafiza pusing, ia lemah dalam hal berhitung.


Brian sudah berjanji akan mengajarinya, mereka kini sudah berada di kamar Nafiza. Brian duduk di samping Nafiza yang sedang mengerjakan beberapa soal.


Nafiza sedikit kesulitan dengan rumus-rumus yang di ajarkan Brian, beberapa kali suaminya itu menegur Nafiza karena jawabannya salah. Dia benar-benar tidak sungkan memarahinya dan Nafiza harus mengulang kembali catatannya.


"Aku sudah tidak kuat lagi, otakku bisa meledak" rengek Nafiza, ia tidak sanggup mengingat rumus-rumus yang di pelajarinya.


"Aku baru tahu kalau kamu sangat bodoh Nafiza"


"Aaaaaaa Brian jangan berkata seperti itu"


"Kamu hanya menghafal rumus ini dan ini, cepat kerjakan lagi soalnya" Brian mengetuk meja dengan pensilnya.


"Ya ampun Brian kamu lebih parah dari pada guruku di sekolah"


"Aku ini bukan guru nona"


"Tapi saat ini kamu sedang jadi guru kan, guru yang galak"


"Sudah jangan mengalihkan pembicaraan, cepat kerjakan!"


Nafiza sudah mulai mengerjakan kembali soal yang di berikan Brian, ia sedikit malas dan terus memasang wajah cemberut. Brian terus memandang wajah Nafiza yang ngambek baginya itu sangat lucu.


"Lain kali aku tidak mau diajari olehmu lagi" Gerutu Nafiza.


"Sayang sekali kamu sudah menerima tawaranku"


"Haha aku menyesal" Nafiza tertawa terpaksa.


"Kerjakan yang benar"


"Iya" Nafiza mengerjakan soalnya lagi, sekarang ia mulai fokus dan akhirnya ia berhasil menyelesaikan tugasnya. Tetapi saat mau memperlihatkan kertas jawabannya ternyata Brian tertidur di sampingnya, wajahnya bersandar pada meja dengan bantal kecil di atasnya.



Nafiza ikut menyandarkan wajahnya dekat wajah Brian, di pandangnya wajah suaminya itu, pipinya menjadi merah.


"Kasihan sepertinya dia lelah"


Kemudian terlintas di benak Nafiza ingin mencium bibir Brian. Ia mengerucutkan bibirnya mendekati bibir Brian.


10 senti


5 senti


3 senti


Sebuah tangan menutup wajah Nafiza dan sedikit mendorongnya menjauh.


"Jangan coba melakukannya saat sedang belajar!"


Nafiza segera bangun dari duduknya, jantungnya mau copot, rasanya malu.


"Kamu pura-pura tidur?"


"Tidak, aku benar-benar tertidur kok. Mana hasil belajarmu"


"Ini!" Nafiza menyerahkan kertas yang di pegangnya. Brian memperhatikan jawaban yang di tulis oleh Nafiza.


"Oke lumayan" Brian mengedarkan pandangannya pada jam dinding yang tergantung di kamar. "Ini sudah larut malam sebaiknya kita beristirahat jangan seperti kemarin"


"Hoooaaammm iya aku juga sudah ngantuk" Nafiza membereskan alat tulis yang ada di mejanya berusaha melupakan kejadian tadi.


***


Jangan lupa like dan komennya readers πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


Semoga bahagia selalu 😍


__ADS_2