
Maudy mengajak Dewi mengobrol. Mungkin bisa membuat Dewi sedikit menghilangkan kesedihan nya.
Tapi nyatanya tidak. Dewi terus menangis. Mengabaikan setiap ucapan Maudy. Membuat Maudy menghela nafas panjang karena bingung harus bagaimana lagi.
"Bagaimana keadaan si kecil di dalam perut Mbak ?" tanya Maudy mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sehat, tendangan nya juga aktif. Jadwal dokter tinggal dua minggu lagi" jawab Dewi.
"Udah deket ya Mbak. Gak sabar deh lihat si kembar" ujar Maudy antusias.
Akhirnya obrolan antara Dewi dan Maudy mengalir dengan hangat. Membahas masalah lahiran apalagi Maudy begitu banyak pertanyaan karena memang ia belum pernah merasakan yang namanya lahiran.
"Pokoknya kamu tetap harus optimis ya. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Awalnya memang sakit tapi setelah anak kita keluar sudah tak ada lagi rasanya bahkan di ingatan pun tidak ada" jelas Dewi dengan sangat lembut.
"Operasi sama Normal sakitan mana Mbak ?" tanya Maudy lagi.
"Dua-duanya sakit Maudy. Beda nya kalau normal sakit nya di awal dan kalau operasi sakitnya di akhir" jawab Dewi lagi.
Hingga sore pun datang. Rian mengajak istrinya pulang.
"Sayang ayo pulang !" ajak Rian kepada Maudy.
"Baik Mas" jawab Maudy lalu beralih kepada Dewi "Aku pulang dulu ya Mbak. Baik-baik disini ! insya Allah Mas Afnan akan segera sadar" ujar Maudy kepada Dewi.
Dewi membalas dengan senyuman.
"Aamiin..Makasih ya Maudy atas doanya. Hati-hati di jalan !" balas Dewi tulus.
Rian juga ikut tersenyum "Kami pulang dulu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi kami" pinta Rian
Dewi hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Rian dan Maudy meninggalkan Dewi. Namun baru beberapa langka Dewi memanggil.
"Mas Rian" panggil Dewi.
Serentak Rian dan Maudy menghentikan langkanya.
"Ada apa ?" tanya Rian.
"Tolong jagain Alwi dulu. Jika ia bertanya bilang saja kalau Abi dan Bundanya ada kerjaan. !" pinta Dewi
"Baiklah. Alwi aman bersama kami"
Setelah itu Rian dan Maudy benar-benar pergi dari rumah sakit itu.
-
-
Sesampai di rumah Rian langsung menyuruh sang istri istirahat. Ia takut Maudy kelelahan dan tak lupa Rian mengecek tekanan darah Maudy. Itulah yang selalu ia lakukan setiap hari.
__ADS_1
Berharap tekanan darah Maudy kembali normal.
"Masih tinggi dek" ucap Rian lesu.
Maudy hanya tersenyum "Tidak apa-apa Mas. Masih ada waktu 1 bulan setengah lagi sampai lahiran" balas Maudy.
Rian memandang wajah sang istri. Rasa cinta Rian semakin besar kepada istrinya. Bagaimana Maudy selalu sabar menghadapi dirinya dan selalu memberikan pengertian kepada Rian.
"Mas mencintai mu sayang" bisik Rian.
"Aku juga mencintaimu Mas. Sangat !" Maudy juga membalas dengan bisikan.
Malam harinya setelah makan malam bersama Rian menemani Alwi bermain. Mendengarkan cerita dari Alwi tentang keseruan nya hari ini bersama Keyla dan Zio.
"Abi mana ya Pa kok belum pulang-pulang ? padahal Abi janjinya pergi cuman seminggu" tanya Alwi dengan mata yang berkaca-kaca.
Rian mengelus rambut Alwi dengan penuh kasih sayang "Sebentar lagi Abi pulang Nak, katanya Abi masih banyak kerjaan" jawab Rian berbohong.
Alwi menatap wajah Rian "Aku sayang banget sama Abi. Rasanya Alwi sekarang rindu sekali sama Abi"
Untuk kesekian kalinya Rian merasakan sakit tapi tak berani untuk mengungkapkan nya. Karena walau dirinya sebagai Papa Kandung tapi tetap saja keberadaan dirinya hanya nomor dua di hati Alwi karena sampai sekarang hanya Afnan yang menjadi sosok nomor satu di hati Alwi.
"Abi juga pasti merindukan Alwi" ucap Rian dengan suara bergetar.
-
-
Papa dan Mama sudah khawatir dengan keadaan Dewi. Namun berbeda dengan Dewi ia malah tenang dan terus siang malam menjaga suaminya.
Seperti saat ini setelah mengenakan pakaian serba hijau yang di sediakan rumah sakit. Lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang sang suami.
"Selamat pagi Mas ! lama banget sih tidurnya ? apa gak capek tidur terus ?"
"Mas udah melewatkan semuanya, melewatkan hari dimana aku periksa kandungan, cari pakaian untuk si kembar"
"Kamu kapan nemenin aku Mas. Ini udah lewat dua hari, kamu gak khawatir Mas"
Hingga pertahanan Dewi runtuh ia kembali menangis membenamkam wajah di lengan sang suami..Wajah Afnan sudah banyak perubahan. Wajah yang dulu bersih tapi sekarang jenggot dan kumis sudah tumbuh di sekitar wajahnya..
"Masih ganteng kok walaupun wajahnya di penuhi brewok seperti ini"
Begitu kata Dewi saat melihat wajah sang suami.
Hiks--Hiks--Hiks.
Tangis Dewi masih terus terdengar bersahutan dengan suara di layar monitor yang setiap hari selalu membuat degup jantung Dewi berdetak kencang.
Tiba-Tiba..
"Awwwaw" Dewi merintih sambil memegangi perutnya
__ADS_1
Sakit sekali. Sampai Dewi harus berpegangan pada pinggir ranjang tempat Afnan terbaring tak berdaya.
"Sus tolong !" teriak Dewi.
Seorang suster yang memang berjaga di luar langsung masuk kedalam saat mendengar suara Dewi menjerit.
"Astaga ibu kenapa ?" tanya suster
"Perut saya sakit sekali Sus. Sepertinya saya mau melahirkan"
"Ayo saya bantu kita keruang bersalin sebentar"
Dengan di bantu Suste, Dewi di papa menuju ruang bersalin. Beruntung Dewi sudah meminta satu dokter kandungan untuk menanganinya saat melahirkan nanti.
"Tolong hubungi kedua orang tua saya !" pinta Dewi karena memang Papa dan Mama Dewi sedang pulang sebentar kerumah kontrakan yang Dewi sewa.
Di dalam ruangan bersalin itu Dewi terus menjerit rasa sakit di perutnya makin terasa. Air mata nya kembali menetes saat mengingat kalau dirinya akan lahiran tanpa suami.
"Tega kamu Mas, sampai aku lahiran kamu juga belum sadar" batin Dewi.
Tidak berapa lama Mama Mira masuk keruang bersalin untuk membantu Dewi melahirkan anak-anaknya. Seperti dulu saat Dewi akan melahirkan Alwi walaupun Afnan ada tapi ia menunggu di luar.
Mama Mira mengelap keringat yang bercucuran di kening Dewi. "Istighfar Nak ! nyebut nama Allah" bisik Mama Mira
"Ya Allah tolong berikan keajaiban mu, sadarkan lah suamiku. Hamba ingin di temani saat lahiran ini" batin Dewi penuh harap.
Di ruangan lain saat seorang suster memeriksa keadaan Afnan tiba-tiba jari-jari tangan Afnan bergerak. Lalu perlahan matanya mulai terbuka.
"S-a-y-a-n-g" ucap Afnan terbata-bata.
"Bapak Afnan sudah sadar ?" tanya sang suster yang sedang bertugas.
"Di-mana istriku ?"
"Istri bapak sedang di ruang bersalin. Tadi ia mengalami kontraksi"
Tes.
Air mata Afnan menetes seketika.
"Antarkan aku ke ruang bersalin. Aku sudah berjanji untuk menemani dia saat melahirkan"
"Tapi Bapak baru sadar"
"Inysa Allah saya tidak apa-apa"
*****
Ok guys jangan tegang ya ! πππ
lanjut besok ya !
__ADS_1