Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Episode 147


__ADS_3

Aska membawa bungkusan plastik putih yang isinya adalah alat tes kehamilan, dengan senyum semangat dia melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Ceklekkk.


Aska membuka pintu kamar, sosok wanita yang sangat dia cintai sedang berbaring di atas ranjang, mungkin karena lelah mengalami mual jadinya Fina istirahat.


“Sayang ini udah aku beliin apa yang kamu mau” kata Aska sambil duduk di pinggir ranjang.


Fina membalikan badan nya yang mana sebelumnya dia membelakangi suaminya, dia tersenyum saat matanya melihat barang yang di bawah oleh suaminya. Pelan-pelan Fina bangun dia langsung menerima plastik yang di berikan Aska.


“Makasih” Fina membuka bungkusan plastik tersebut, melihat ada begitu banyak alat tes kehamilan membuat Fina bingung.


“Kok banyak banget belinya ?? satu aja cukup” tanya Fina.


“Tidak apa-apa lagian itu murah” jawab Aska enteng.


“Murah sih murah tapi ini kebanyakan satu aja cukup lagian kan belum tentu hasil nya positif bisa jadi aku mual karena memang masuk angin”


Entahlah ada perasaan sedih saat mendengar ucapan Fina, tapi Aska sadar keturunan sudah di takdir kan oleh yang kuasa jika memang belum di kasih iya dia bisa apa, mungkin memang Allah belum mempercayai mereka.


“Tidak apa-apa Sayang, yang penting tes dulu kalau memang negatif kita coba lagi”


Fina tersenyum, suaminya begitu mengerti tentang perasaan nya, walau Fina tahu kalau Aska sudah sangat ingin mempunyai keturunan.


“Ya udah aku tes dulu”


“Ikut !!”


“Gak usah lah kamu tunggu aja disini, enggak lama paling cuma 15 menit"


Fina beranjak dari tempat duduknya, dia langsung menuju kamar mandi, sementara Aska menunggu dengan perasaan yang tak karuan, tapi Aska selalu meyakinkan hatinya untuk hasil yang akan dia terima.


10 menit telah berlalu akan tetapi Fina juga belum keluar, Aska semakin penasaran, dia berdiri dan berjalan mondar-mandir rasanya sudah tak sabar menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.


“Kenapa lama sekali ??” gerutunya kesal.


Sementara di dalam sana, Fina juga tak sabar menunggu hasil tes tersebut, perlahan garis merah itu naik keatas saat Fina mencelupkan nya ke dalam wadah yang berisi air kencingnya, mata Fina terpejam dengan detak jantung yang berpacu dengan kuat, menunggu hasil nya apa kah garis dua atau garis satu.


Perlahan mata Fina terbuka, sedikit demi sedikit dan mengamati benda persegi empat dan panjang itu, seketika mata Fina terbuka dengan sempurna karena tak menyangka akan apa yang dia lihat.

__ADS_1


“Ya Allah garis dua, itu tandanya .....” Fina bahkan tak mampu mengatakan kelanjutan nya, dengan nada bergetar menahan tangis Fina mengelus perutnya yang masih rata bahwa di dalam sana sudah ada calon buah hatinya bersama Aska.


Cekleeeek.


Pintu kamar mandi terbuka, Aska langsung mendekat, melihat mata istrinya yang berkaca-kaca Aska berkesimpulan bahwa hasilnya negatif segera Aska memeluk istrinya.


“Sabar Sayang kita coba lagi" ucap Aska tanpa bertanya terlebih dahulu kenapa istrinya menangis.


“Aku tau hasilnya apa” lanjutnya berkata.


Fina mengernyit bingung, niatnya ingin membuat Aska haru malah dirinya di buat kebingungan, apalagi kata Aska dia tau hasilnya, tau dari mana ?? sedangkan Fina saja belum mengatakan apapun.


“Memangnya hasilnya apa ??” tanya Fina sambil melepaskan diri dari pelukan sang suami.


“Negatif kan ??”


Fina menggeleng, tentu saja Aska salah karena hasilnya ada positif.


“Kenapa menggeleng ?? apa perkataan ku salah ??” tanya Aska.


Sekarang Fina mengangguk.


“Positif”jawab Fina sambil memperlihatkan hasil tes nya kepada Aska.


Aska menerima hasil tes itu, kemudian dia membaca bungkusan Test Pack tersebut, ada dua garis merah disana dan Aska membaca jika hasilnya dua garis merah berarti istrinya hamil.


“Jadi kamu hamil Sayang ??” tanya Aska memastikan.


“Iya, selamat ya sebentar lagi akan jadi Papa” jawab Fina tersenyum.


Aska sangat bahagia, dia segera mengangkat tubuh istrinya dan mengajaknya berputar, tawa bahagia menghiasi kamar mereka, kabar kehamilan sang istri membuat Aska tak dapat berkata apa-apa lagi selain Bahagia.


-


-


-


“Mas makan siang dulu !!” ucap Dewi memanggil suaminya yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi, hari ini Rian dinas malam.

__ADS_1


“Makan aja sendiri aku gak lapar” jawab Rian ketus.


Dewi menghela nafas kasar, suaminya masih saja marah padanya membuat Dewi bingung harus bagaimana lagi membujuk dan meminta maaf sama Rian.


Dewi melangkahkan kakinya mendekati Rian, duduk di sofa dan memandang wajah suaminya, namun Rian tak menggubris keberadaan Dewi matanya masih fokus ke layar televisi.


“Mas” panggil Dewi dengan suara lembut.


“Hmmmm”


“Mau sampai kapan kamu seperti ini ?? aku mohon maafkan aku !! kita coba lagi Mas, aku yakin kita pasti akan punya anak lagi”


Rian menoleh dan menatap wajah sang istri, terdapat ketulusan cinta yang dapat Rian lihat, namun dengan cepat Rian kembali menatap kedepan nya.


“Aku mau tidur jangan ganggu aku !!” ujar Rian sambil beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Dewi.


“Mas Rian tunggu !!” teriak Dewi.


Rian menghentikan langkahnya, tanpa menoleh dia bertanya.


“Ada apa lagi ?? sudah ku bilang aku mau tidur kau jangan ganggu !!”


“Apa Mas Rian sudah tak mencintai aku lagi ??” tanya Dewi yang sudah di banjiri air mata.


Rian terdiam sejenak, entah bagaimana dia mengutarakan perasaan nya, bingung sendiri dengan apa yang dia rasa, tapi untuk rasa cinta tentu saja masih ada hanya saja kemarahan dalam diri Rian mengalahkan semuanya.


Tanpa menjawab Rian langsung meninggalkan istrinya, disana Dewi terduduk dengan lesu, dia pikir Rian sudah tak mencintai dan menyayangi dirinya, sekarang apa yang harus dia lakukan lagi ?? haruskah dia berpisah dan memilih jalan sendiri-sendiri dengan Rian ??


Tidak, Dewi tidak sanggup, dia masih sangat mencintai Rian, perjuangan mereka untuk sampai menjadi halal bukanlah hal yang mudah,Dewi hanya perlu sedikit bersabar lagi, dia yakin suatu hari nanti suaminya akan kembali seperti dulu lagi.


“Aku akan selalu mencintai mu Mas ” ucap Dewi lirih.


Dewi bangkit dia menuju meja makan,seperti biasa dia akan makan sendiri, Dewi melirik kursi di sampingnya biasanya tempat itu sering diduduki Rian, tapi sekarang tidak pernah lagi karena Rian sering makan di luar ataupun pulang kerumah Papanya.


Tangan Dewi terulur, dia mengelus bangku kosong itu, biasanya mereka akan bercanda dan saling menyuapi, tapi sekarang hanya angin lalu yang Dewi rasakan, suaminya cepat sekali berubah.


Tanpa Dewi sadari di atas tangga Rian melihat semuanya, hatinya sakit saat Dewi mengelus bangku yang sering dia duduki, dia sadar kalau istrinya merindukan dirinya tapi kenapa saat melihat wajah Dewi , Rian selalu terbayang saat sang istri masih mengandung anaknya.


“Sepertinya aku harus di rukiyah” ucap Rian dan kembali masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2