
Dewi terdiam mematung, dia pandangi mobil suaminya yang terus melaju, meninggalkan dirinya yang saat ini merasa tertekan.
Setelah mobil Rian tak terlihat lagi, Dewi masuk kembali dan dia langsung masuk kedalam kamarnya, di dalam sana Dewi menangis meratapi nasibnya, tangan nya terulur untuk membuka laci disana ada album foto pernikahan nya bersama Rian.
Tangan Dewi mengelus setiap lembar foto yang dia buka, air matanya semakin deras, ada rasa sakit saat menatap wajah tampan sang suami.
“Mungkin memang sebaiknya kita berpisah dan kamu mendapatkan istri yang lebih baik dariku, yang bisa memberimu keturunan” ucap Dewi lirih.
“Jika memang bulan depan aku juga belum juga hamil maka aku siap untuk bercerai dengan mu, dan semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang lain”
Dewi terpaksa akan melakukan itu, karena dia juga tak tahan harus bertahan dengan Rian dengan perasaan tertekan seperti ini.
“Aku butuh teman”
Dewi mengambil ponselnya dia menghubungi Alya dan Fina mudah-mudahan mereka berdua bisa menemani Dewi saat ini, dia sangat membutuhkan kan kehadiran seseorang yang bisa menguatkan dirinya yang sangat rapuh.
“Halo Al” sapa Dewi saat panggilan sudah di jawab oleh Alya.
“Iya Wi ada apa ? Suara mu kenapa ?? Kamu menangis ??” tanya Alya beruntun di seberang sana.
Dewi tersenyum ternyata Alya masih sangat perhatian dengan nya, mungkin sudah saat nya dia menceritakan semuanya kepada Kakak ipar nya sekaligus sahabatnya.
“Aku baik-baik saja, bisa kah kita bertemu hari ini ?? Aku butuh teman Al” suara Dewi semakin serak mungkin karena menahan tangis.
“Dimana Wi ?? Akan aku usahakan”
“Di rumah ku aja, kebetulan Mas Rian kerja”
“Baiklah, aku akan kesana”
“Makasih Al”
“Sama-sama, kamu itu sahabat ku dan juga adik ipar ku, jadi jangan sungkan”
Setelah panggilan terputus Dewi kembali menelfon seseorang, sekarang yang dia hubungi adalah Fina, walaupun kecil kemungkinan Fina bisa tapi tetap saja Dewi hubungi.
***********
Di sisi lain Alya baru saja selesai memandikan anaknya, dia duduk termenung karena bingung kemana harus menitipkan Keyla karena dia akan bertemu dengan Dewi.
__ADS_1
CEKLEK.
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Kenan yang baru keluar, di lihatnya sang istri tengah melamun entah kenapa, Kenan mendekat masih menggunakan handuk saja.
“Kamu kenapa Yang ?” tanya Kenan.
“Aku mau pergi, tapi aku gak bisa membawa Key”
Kenan mengernyit bingung, mau kemana istrinya pergi tidak biasanya dia meminta izin seperti ini apalagi harus meninggalkan Keyla.
“Kamu mau kemana ??” tanya Kenan
“Aku mau ketemuan sama Dewi”
“Kenapa gak di ajak Key nya ?? Kan ketemuan sama Dewi”
“Aku gak bisa Yang, karena seperti nya Dewi ingin bicara serius, apa kamu bisa menjaga Key dulu, aku janji tidak akan lama, lagian kasian kalau Key selalu di ajak keluar bukan nya kemaren dia juga habis di ajak ke Mall” Alya menjelaskan kepada suaminya berharap Kenan mengerti dan mau menjaga Keyla saat dirinya pergi.
“Tapi aku kan harus ke kantor Yang, suruh Bik Mina saja bagaimana ??” ucap Kenan sambil memberikan ide, dia tahu istrinya butuh waktu untuk berkumpul bersama teman-teman nya, karena semenjak Alya melahirkan Alya jarang ada waktu sendiri.
“Memang boleh sama kamu ??”
Mendengar itu Alya tersenyum bahagia, tak menyangka kalau dia akan di bolehkan pergi sama suaminya.
“Makasih suami ku Sayang”
Alya berdiri dan mencium pipi suaminya dengan semangat empat lima, Alya turun ke dapur untuk menemui Bik Mina serta mengambil pompa Asi untuk kebutuhan Keyla nantinya.
*************
Beberapa jam setelah nya Alya, Dewi dan Fina sudah berkumpul di rumah Dewi, Alya juga kaget melihat Fina juga ada disana apalagi dengan perut yang sudah sedikit membuncit.
“Kangen banget sama kalian berdua” ucap Alya bahagia dia pun langsung memeluk sahabatnya satu per satu.
“Kita juga kangen Al” sahut mereka hampir serempak.
“Ya sudah ayo masuk” ajak Dewi mempersilahkan kedua sahabatnya masuk kedalam rumah.
Sekarang mereka bertiga duduk di taman belakang rumah Dewi, ada kolam ikan juga disana, di atas meja ada tiga buah jus yang menemani mereka.
__ADS_1
“Bagaimana kandungan kamu Fin ? Baik- baik saja kan ?? Apa keluhan nya ??” tanya Alya bertubi-tubi.
Dewi pun ikut mendengarkan.
“Alhamdulillah baik-baik saja, tidak ada mual dan muntah berlebihan” sahut Fina sambil mengelus perut nya.
“Wah hebat kamu Fin, dulu aku saat hamil mual dan muntah parah banget, semua makanan gak ada yang enak aku makan”
Hingga akhirnya Alya dan Fina asik membicarakan soal masa kehamilan, sementara Dewi hanya diam saja, telinga nya tak lagi mendengar kan apa yang di bicarakan kedua sahabatnya, karena itu akan membuat dia bertambah sedih.
Seketika Alya tersadar dia menjadi merasa bersalah karena dia yang pertama kalinya membahas masalah kehamilan.
“Wi maafin kita ya !! Kita gak bermaksud buat kamu sedih” ucap Alya merasa bersalah.
“Iya Wi maafin aku sama Alya” sahut Fina yang juga merasa tak enak hati.
Dewi tersenyum sambil menatap wajah kedua sahabatnya
“Tidak apa-apa, aku mengerti” balas Dewi dengan lembut.
Alya dan Fina benar-benar merasa tak enak hati, karena telah membuat Dewi menjadi seperti ini.
“Terus kenapa kamu mengajak kita ketemuan seperti ini ?? pasti ada-apa kan ??” tanya Fina yang mengingat ajakan Dewi untuk berkumpul di rumahnya.
“Aku sama Mas Rian mau cerai” jawab Dewi menunduk menyembunyikan air matanya.
“Apa ??” sontak ucapan Dewi membuat kedua sahabatnya terkejut terutama Alya.
“Kenapa bisa Wi ?? apa masalah kamu sama Rian ??” tanya Alya yang memang tidak tahu bentuk permasalahan antara Rian dan Dewi.
“Keguguran ku waktu itu membuat Mas Rian selalu marah, dia selalu menyalahkan aku atas semua yang terjadi, aku tahu aku salah tapi gak gini cara nya, aku sudah berusaha untuk meminta maaf sama Mas Rian bahkan sujudpun aku lakukan hanya untuk mendapatkan maafnya tapi Mas Rian memberiku syarat supaya dia mau memaafkan aku” jelas Dewi mengenang kejadian dua bulan yang lalu dimana suaminya mengucapkan Syarat kepadanya.
“Syarat apa Wi ??” tanya Alya lagi.
Sementara Fina hanya diam saja mendengarkan, karena dia tahu Alya lebih berhak tau Maslaah Dewi karena memang Alya adalah kakak iparnya.
“Syarat jika dalam waktu 3 bulan aku juga gak hamil maka Mas Rian akan menceraikan aku, dan sekarang sudah dua bulan tinggal satu bulan lagi Al, aku gak kuat di giniin bahkan aku tak menceritakan masalah aku sama Mama dan Papaku” air mata Dewi menetes dengan deras...
“Rian benar-benar gila, aku akan ceritakan semua ini sama Kenan, biar tahu rasa si Rian” umpat Alya kesal dengan kelakuan adik satu-satunya suaminya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...