
Rian......
Ia mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang. Mendahului para kendaraan yang berada tepat di depan mobilnya. Namun bukan nya membelokkan mobil kearah rumah nya ia malah mampir ke sebuah Mall untuk jalan-jalan sebentar.
Setelah menemukan tempat parkir ia langsung memarkirkan mobilnya. Lalu turun dan berjalan untuk memasuki Mall tersebut.
Toko pakaian ia lewati. Toko sepatu juga ia lewati. Hingga tiba di tempat hiburan yaitu Bioskop untuk menonton Film.
Ada begitu banyak tayangan Film yang akan di tayangkan. Ia sendiri bahkan bingung untuk memilih mau menonton apa. Hingga ia memutuskan untuk menonton Film bernuansa Religi..
Entah dapat Ilham dari mana ia mau menonton film seperti itu. Film yang menceritakan tentang kesabaran seorang Ustadz untuk menemukan jodohnya.
Ia tertawa sumbang, karena Film yang saat ini dengan ia tonton seperti menggambarkan tentang kehidupan nya. Hanya beda nya ia sudah menjadi seorang Duda.
Hingga tak berapa lama matanya mulai berkaca-kaca demi melihat adegan dimana seorang Ustadz sudah menemukan jodohnya. Mungkin kah ia juga sama seperti pria di Film itu jika ia mampu bersabar sedikit saja dan berusaha memperbaiki diri ia akan segera menemukan jodoh.
Ya lebih baik begitu !!
Jadi sekarang ia harus menjauh dari Maudy. Bukan melupakan semua perasaan nya. Yang ingin ia lakukan adalah memperbaiki diri untuk bisa menemukan wanita yang baik untuk nya.
-----------------------
Maudy.....
Terhitung sampai hari ini berarti sudah tiga hari Rian tak pernah mengabarinya. Ini tak bisa di biarkan. Enak saja laki-laki itu meninggalkan nya setelah semua perasaan sudah ia tujukan kepada Rian.
Esok ia akan menanyakan langsung kenapa Rian menghindari dirinya.
Ataukah Rian sudah dekat dengan wanita lain sehingga sekarang dirinya di abaikan ??
Oh No..
*Itu tak boleh terjadi
Kalau Rian menemukan wanita lain lalu bagaimana dengan dirinya ?? bagaimana dengan hatinya* ??
Ia menggelengkan kepala. Tak akan bisa membuat Rian menjauh seperti ini.
*
*
Hingga esok paginya ia langsung datang lebih awal. Menunggu di latar rumah sakit supaya bisa cepat berbicara dengan Rian.
Tak sampai 30 menit terlihat Rian sudah membelokkan kemudi ke arah parkiran. Matanya terus memperhatikan setiap gerakan Rian.
__ADS_1
“Aku mau bicara !!” ujarnya cepat setelah Rian berdiri tak jauh darinya. Rian sempat membuka mulut mungkin untuk menyapa tapi ia keburu langsung memotong. Rasanya sudah tak sabar ingin membahas masalah mereka.
“Bicara apa ??”
Tuh kan Rian benar-benar berubah. Di saat mereka sudah tiga hari tak saling kabar, Rian bukan nya peka malah bertanya. Harusnya kan Rian sadar kalau selama tiga hari ini mereka berdua tak ada komunikasi.
“Penting pokoknya”
“Nanti saja. Soalnya sekarang sudah masuk jam kerja”
“Tapi..”
Ia belum sempat melanjutkan ucapan nya. Rian langsung pergi meninggalkan dirinya “Ya udah aku duluan ya, semoga lancar pekerjaan nya” begitu kata Rian saat hendak meninggalkan dirinya.
Tak bisa di pungkiri kalau hatinya mendadak sakit. Sikap yang Rian tunjukan begitu melukai perasaan Nya.
Matanya mulai memanas, ketika cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya. Yang sekali ia mengedipkan mata maka air bening itu akan mengucur dengan deras.
“Kamu udah berubah Rian”. batinnya sedih
Hingga sejak pertama mulai pekerjaan dan membimbing para mahasiswa yang sedang menjalani Coas. Ia tak bisa berkonsentrasi. Pikiran nya kacau dan tak bisa berpikir dengan jernih
Beginikah dampak atas sikap Rian. Membuat semua pekerjaannya berantakan. Sialan.
-----------------
“Maudy mau ngajak gue bicara” ucapnya kepada Seno saat mereka sedang menikmati makan siang.
“Lah tinggal bicara dong. Apa susahnya” Sesaat Seno menatap wajahnya lalu kemudian kembali menikmati semangkok Lontong sayur yang kuahnya sudah hampir habis.
“Emang apa yang harus di bicarakan ?? bukan nya gue sama dia gak ada hubungan apa-apa”
Seno hanya mengangkat kedua bahunya. Mungkin tak bisa menjawab semua pertanyaan nya.
“Mungkin mau menanyakan kenapa Lo menghindar dari dia” balas Seno dengan mulut penuh.
“Gue gak menghindar. Hanya saja gue gak mau terluka atas rasa yang tak pasti” ia mulai menerawang kejadian demi kejadian dimana Ia dan Maudy sering bertengkar.
Mungkin salahnya juga karena tak terlalu memaksa Maudy untuk menerima ungkapan nya. Sebuah ungkapan namun terlihat penekanan.
Tapi tidak ada salahnya jika Ia dan Maudy berbicara sebentar. Mungkin ada ia akan menemukan jawaban atas rasa yang selama ini terpendam.
“Lo temuin dulu aja, siapa tau Maudy mau Nerima Lo jadi suami”.Seno meletakkan sendok sebagai tanda kalau Seno telah selesai makan siang. Sementara dirinya masih tertinggal setengah mangkok.
“Ia nanti gue temuin”
__ADS_1
“Gue doakan semoga Lo dan Maudy segera halal”
Ia tertawa sumbang namun di dalam hati ia begitu tulus mengatakan “Aamiin Ya Allah”
----------
Saat sudah pulang bukan Maudy yang menunggu tapi dirinya. Ia sengaja menyetujui keinginan Maudy untuk bicara sebentar.
“Mau bicara dimana ??” tanya nya sambil mengemudikan mobil untuk keluar dari area parkiran rumah sakit.
“Mana aja yang penting tempat sepi” jawab Maudy jutek.
Ini yang ia tak suka dari Maudy. Cara bicara Maudy yang selalu membuat nya kesal.
Ia terdiam lalu mencari tempat yang di katakan Maudy. Hingga tatapan nya tertuju kepada Halte bus yang sedang tak ada orang yang menunggu.
“Ngapain berhenti disini ??” tanya Maudy sambil mencibir.
“Katanya mau tempat yang sepi” jawabnya berusaha untuk sabar “Tuh lihat sepi kan” ia menunjuk kearah luar yang memang tak ada orang selain mereka berdua.
“Iya tapi gak di sini juga kali” sungut Maudy kesal..
“Makanya kalau aku nanya dimana ya jawab” ia pun membalas dengan kesal juga.
“Tak jauh dari sini ada taman. mau gak disana” Ia pun kembali bertanya.
“Terserah”
Astaga !! ia bahkan sampai mengusap wajahnya dengan gusar. Hari ini ia tau dan paham tentang watak dan sikap Maudy. Kenapa selama ini ia tak paham akan hal itu.
“Yuk turun !!” ucapnya setelah memarkirkan mobil.
Maudy mengikuti langkah kakinya. Hingga mereka berdua duduk di sebuah bangku panjang.
“Mau ngomong apa ??” tanya nya berusaha selembut mungkin.
“Kamu kenapa ngindarin aku terus ?? udah tiga hari ini kamu gak ngabarin aku” Maudy berbicara dengan penuh emosi mungkin meluapkan rasa yang selama tiga hari ini terpendam.
“Aku gak ngehindar, kan emang kita gak ada hubungan apa-apa. Jadi tak ada kabar bagiku hal biasa kecuali kalau kita ada hubungan” jelasnya sambil menatap lurus ke depan.
“Kamu jahat Rian” Maudy sudah mulai terisak.
“Aku gak pernah jahat sama kamu Dy, aku bahkan tak pernah melukai perasaan kamu, hanya saja aku lelah karena kamu selalu mengabaikan perasaan ku”
BERSAMBUNG...
__ADS_1