
Malam harinya Rian sudah siap dengan baju batik di padukan celana bahan, terlebih dahulu Rian meneliti penampilan nya malam ini agar tidak ada yang salah.
Setelah merasa pas Rian langsung keluar kamar, di ruang keluarga sudah menunggu, Papa Bayu, Kenan, Alya serta kedua keponakan nya yang tersayang.
“Sudah selesai ??” tanya Kenan. Ia memakai baju batik yang senada dengan yang di kenakan Alya serta Keyla dan Zio.
“Sudah Kak” jawab Rian.
Pandangan Rian beralih kepada sang Papa, dimana Papa Bayu menatap Rian dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, Rian menatap Papanya dengan tersenyum.
Alih-alih membalas senyuman Rian, Papa Bayu justru memeluk Rian dengan erat.
"Semoga bahagia, papa meretui mu" ucap Papa Bayu.
Rian menyusut air matanya, ia juga membalas memeluk sang Papa dengan erat.
"Aamiin, terima kasih Pa" ujar Rian dengan suara serak.
Papa Bayu melepaskan pelukan nya, lalu menatap wajah putra bungsunya itu, selama beberapa tahun terakhir banyak hal yang sudah Rian dapatkan. Salah satunya yaitu terluka.
Semua itu tak luput dari perhatian Papa Bayu, sebagai seorang Ayah ia juga tidak tega melihat anaknya menderita walaupun semua yang terjadi di hidup Rian adalah salah Rian sendiri.
“Ayo berangkat Pa” ajak Kenan karena hari juga sudah malam di tambah Kenan membawa dua anaknya.
Papa Bayu mengangguk. Ia langsung menggendong cucu laki-lakinya sementara Alya menggendong Keyla.
Didalam perjalanan kerumah Maudy, hati Rian begitu deg-deg kan, ia mendadak gugup saat akan menjalani proses lamaran ini.
-------------
Sementara di rumah Maudy. Perempuan itu juga terlihat sangat cantik, dengan balutan kebaya di padukan dengan rok batik serta rambut yang di sanggul rapih.
Ia memandang wajahnya di cermin, hatinya bahagia sekarang karena sebentar lagi ia akan di persunting oleh pria pilihan nya. Berharap semoga semuanya lancar dan hubungan nya dengan Rian bisa awet selamanya.
“Maudy sudah siap Nak ??” tanya sang Mama dari luar kamar.
“Sudah Ma” jawab Maudy, ia berjalan kearah pintu untuk membukanya.
“Cantik sekali anak Mama ini” ucap Melda kagum melihat penampilan putri nya itu.
Maudy tersipu “Mama bisa aja”
“Ya sudah ayo turun, itu calon nya sudah sampai” ajak Melda.
__ADS_1
Jantung Maudy berdegup kencang, mendengar kalau Rian beserta keluarganya sudah berada di rumahnya. Dengan di gandeng oleh sang Mama Maudy menuruni setiap anak tangga.
Tangan nya bergetar, keringat dingin terus ia rasakan. Melda hanya tersenyum melihat kegugupan putrinya, ia tau apa yang di rasakan oleh Maudy karena dulu ia juga merasakannya.
“Ini putri kami, namanya Maudy” ucap Lukman setelah Maudy dan Melda sudah berada di ruang keluarga dimana acara lamaran berlangsung.
Maudy menelungkup kan tangannya dengan sopan, ketika pandangan nya tertuju kepada Rian yang juga menatapnya dengan kagum. Maudy hanya tersenyum kecil kepada Rian.
------------
Acara lamaran Rian dan Maudy sudah selesai saatnya mereka menikmati makanan Yang sudah di sajikan, Sementara dua orang manusia Yang sudah terikat dengan tali pertunangan sedang duduk di halaman samping sambil menghadap ke kolam renang.
“Gak nyangkah ya akhirnya Papa kamu merestui hubungan kita” ucap Rian memulai pembicaraan.
“Iya Mas, Maudy juga gak nyangkah” jawab Maudy, matanya fokos menatap kedepan.
“Senang gak ??” Sekarang Rian menoleh kesamping cahaya lampu yang kerlap-kerlip menampakan wajah cantik Maudy.
“Senang banget” jawab Maudy.
“I Love You” bisik Rian di telinga Maudy.
Perlakuan Rian membuat Maudy tak bergeming, bisikan maut itu seolah membuat aliran darah Maudy berhenti, ia tak mampu menjawab karena rasanya bibirnya terkunci dengan rapat.
“Kok diam balas dong !!” Rian kembali berbisik.
Rian tersenyum dengan menggunakan jari telunjuknya ia menarik dagu Maudy sehingga wajah mereka berhadapan, hembusan nafas Rian begitu terasa di wajah Maudy, wanita itu menutup matanya bukan karena menikmati hembusan wangi nafas Rian melainkan Maudy tidak ingin bertatapan dengan lelaki itu.
Melihat Maudy menutup mata, Rian menyatukan dirinya. Menempelkan bibirnya ke Bibir Maudy. Rian kembali memandang Maudy ternyata Maudy masih menutup matanya, Rianpun kembali melanjutkan aksianya.
Maudy mencengkram roknya, Sensasi yang di berikan Rian suskes membuat dirinya bagai terbang menembus awan. Ketika ia merasakan Li dah Rian menari-nari di dalam rongga mulutnya.
Ciuman mereka semakin menuntut, tidak ada dari mereka yang ingin melepaskan diri, hingga suara seseorang berhasil membuat Rian dan Maudy salah tingkah.
“Om ngapain ??” tanya Zio yang entah muncul dari mana.
Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Maudy langsug memalingkan wajahnya karena malu.
“Om cium Tante ya ??” tanya Zio lagi.
“En--ggak” jawab Rian salah tingkah. Bahaya kalau Zio beneran melihat kegiatan mereka. Bisa hebo satu rumah.
“Zio loh lihat sendiri”
__ADS_1
“Anak kecil tau apa sih” Rian langsung mengangkat keponakan nya.
“Zio lihat Om tadi lagi cium Tante” ternyata Zio masih saja membahas masalah itu.
“Enggak sayang, tadi ada kotoran di pipi Tante makanya Om bersihkan” ralat Rian sementara Maudy semakin memerah wajahnya.
“Kok bersihin nya pakai Bibir ??” Zio kembali bertanya.
“Mana ada, Zio salah lihat kali”
Rian memandang ke arah Maudy, bibirnya seolah mengisyaratkan kata “Maaf”.
Namun Maudy hanya mendelik kesal, untung ini hanya anak kecil yang melihat bagaimana kalau Papa, Batin Maudy. ia hanya belum kenal saja dengan Zio yang mulutnya lebih ember dari emak-enak kompleks.
“Ayo kedalam pasti udah mau pulang" ajak Rian.
Tangan satunya menggendong Zio sementara yang satunya ia gunakan untuk menggandeng Maudy. Rasanya ia tak ingin lepas dari wanita itu.
“Zio kamu dari mana Nak ?? Mommy cariin juga” ucap Alya yang langsung mengambil alih menggendong Zio.
“Tadi Zio ke sana Mom” Zio menunjuk pintu yang ia lewati tadi “Lihat Om Rian ciuman”
Uhhuuuuk
Lukman yang sedang menghabiskan tehnya langsung tersedak, sementara Kenan dan Papa Bayu langsung menatap Rian dengan tajam.
“Astaga Zio !!” batin Kenan kesal dengan mulut ember keponakannya itu.
Untuk yang kedua kalinya Maudy menahan malu, ia tidak menyangka kalau Anak kecil itu akan mengatakan semuanya kepada semua orang. Untuk kedepan nya ia harus hati-hati.
“Zio salah lihat” ujar Rian membela kebenaran.
“Mommy” panggil Zio, bukan nya menjawab ucapan Rian, Zio malah memanggil Alya.
“Iya Nak ada apa ??” tanya Alya.
“Nanti kalau udah besar Zio juga mau ciuman kayak Om Rian”
Semakin gawat saja Rian, apalagi melihat tatapan mematikan dari Kenan.
“Iiihh, enggak boleh gitu, kata siapa Om Rian ciuman tadi Zio salah lihat kan udah di kasih tau sama Om” jawab Alya.
Namun Zio hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Om Rian keren, kalau Cium Tante ada suaranya”
Rasanya Rian ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup untuk menghindari tatapan mematikan dari semua orang..