
“SAH”
Begitu Suara beberapa saksi yang di tunjuk untuk menjadi saksi pernikahan Rian dan Maudy, suara menggelegar itu berhasil menjadikan sepasang kekasih yang dulu belum halal sekarang sudah resmi menjadi suami istri yang SAH di mata hukum dan Agama.
Di lanjutkan dengan membaca doa yang di pimpin oleh seorang Ustadz disana.
Maudy yang duduk di samping Rian langsung mencium punggung tangan suaminya, setelah sebelum nya Rian menyematkan sebuah cincin di jari manis Maudy begitupun sebaliknya.
Ketika punggung tangan Rian menempel pas di bibir Maudy membuat perasaan Rian semakin menghangat, sekarang dialah imam untuk wanita yang masih membungkukkan badan nya itu, dialah pemimpin di keluarga mereka nanti.
Rian tersenyum kearah Maudy, lalu mengecup kening Maudy dengan penuh kasih sayang.
“Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang Sakinah mawaddah Warahmah”
“Semoga bahagia selalu ya !”
“Cepat di beri momongan”
Ada banyak lagi kata yang para tamu dan kerabat ucapkan di hari bahagia Rian dan Maudy.
Senyum keduanya tampak selalu menghiasi wajah mereka.
“Capek ya” tanya Rian saat melihat Maudy sedang meringis sambil memegangi kakinya.
“Lumayan hehe” jawab Maudy sambil terkekeh.
“Sebentar lagi kita istirahat, sabar ya sayang”
Maudy mengangguk, ketika semua orang sudah bersalaman dengan pengantin, Rian dan Maudy di persilahkan makan terlebih dahulu barulah mereka di biarkan istirahat untuk memulihkan tenaga besok, supaya pas resepsi keduanya tampak semangat.
“Istirahat bukan yang lain” seloroh Kenan terdengar begitu menyebalkan.
“Aku tau" jawab Rian sambil mendelik kesal kearah sang Kakak.
“Kalau dia mau ngapa-ngapain teriak aja !" Titah Kenan kepada Maudy.
“Udah deh, jangan ledek mereka terus” sahut Alya kemudian. “Ya sudah Rian sama Maudy istirahat aja ya, jangan dengerin omongan dia, kalian juga berhak mau ngapa-ngapain kan udah halal” ujar Alya lagi.
“I--ya Kak Alya” jawab Maudy gugup.
Rian dan Maudy langsung masuk ke kamar, para tamu sudah banyak yang pamit, dan besok akan datang lagi di acara resepsi, tinggal keluarga saja yang masih berada disana.
---------
Malam harinya, entah kenapa kegugupan menyerang Maudy dengan dahsyat, ia tahu setiap pengantin baru akan merasakan seperti ini.
__ADS_1
Dari tadi sehabis melaksanakan sholat Maghrib jantungnya tak pernah berhenti berdegup dengan kencang, apalagi sekarang Rian sudah berjalan mendekati dirinya setelah selesai berganti pakaian.
“Udah ngantuk ?” tanya Rian.
“Be--lum” jawab Maudy bertambah gugup, keringat dingin sudah menyerang di telapak tangan nya.
Rian mengernyit menatap Maudy, namun sesaat kemudian ia justru tergelak, wajah Maudy yang terlihat gugup begitu menggemaskan di mata Rian.
“Iiihhh, jangan ketawa Mas” ucap Maudy
“Habis kamu lucu Dek, kalau gugup sampai segitunya” Rian masih saja terkekeh.
“Udah ah, aku males kalau Mas masih ketawa terus”
Akhirnya Rian menyudahi tawanya, lalu menatap wajah Maudy lekat-lekat, tangan nya menggenggam tangan Maudy.
“Jika Adek belum siap tidak apa-apa, Mas tidak akan memaksa, Mas akan menunggu sampai dimana waktunya Adek siap” ujar Rian terdengar sangat serius.
“Maaf” Maudy menundudukan kepalanya. Sebenarnya ia siap saja memberikan hak Rian sebagai suami, namun Maudy hanya takut dengan rasa sakit yang akan ia rasakan.
“Hei” Rian mengangkat wajah Maudy agar berhadapan dengan nya “Kenapa harus minta maaf, kamu gak salah sayang, wajar kalau kamu belum siap dalam hal ini” ucap Rian lagi.
Maudy memandang wajah suaminya, begitu tampan sampai ia langsung terpikat saat pandangan pertama, dan malam ini ia tidak menyangka kalau Rian akan tidur bersama dengan nya, di atas kasur yang sama dan satu selimut yang sama.
“Tidur yuk ! udah malam besok kan mau resepsi, kita butuh tenaga banyak karena tamunya pasti lebih banyak dari yang tadi” titah Rian
Dengan pelan Maudy merebahkan diri di samping suaminya, namun saat Maudy sudah terlentang, Rian malah menyangga kepalanya menggunakan tangan, lalu menanatap wajah Maudy dengan seksama.
Helaian anak rambut yang menutupi wajah Maudy, Rian rapihkan menggunakan jari telunjuknya.
Seeerrrr
Aliran darah Maudy terasa berhenti begitu saja, rasa gugup kian mendera, entah apa yang akan terjadi selanjutnya ia hanya pasrah.
“Belum bisa begituan juga tidak apa-apa, tapi ada hal lain yang bisa kita lakukan malam ini” ucap Rian.
Sebelum Maudy berhasil menjawab sebuah serangan mendadak langsung ia terima, ketika sentuhan lembut yang Rian berikan berhasil membawanya terbang ke angkasa.
Entah gerakan dari mana, namun tiba-tiba kedua tangan Maudy sudah bertengger di leher suaminya, sensasi yang di berikan Rian semakin membawa hawa panas dalam dirinya.
Ketika pasokan udara sudah mulai habis, Rian menghentikan penyatuan mereka, nafas kedua terengah-engah namun Rian hanya tersenyum simpul.
“Ya sudah tidur yuk, makasih yang tadi, selamat malam istriku” ucap Rian kemudian.
Hah, udah gitu aja ?
__ADS_1
“Apa-apaan Mas Rian ini”batin Maudy.
Jelas karena penyatuan mendadak itu berhasil membuat suasana lain di diri Maudy, ada desiran aneh karena ia merasakan ingin meminta hal yang lebih dari ini.
Namun untuk meminta duluan, jelas malu bukan ? apalagi mereka baru saja menikah, lain cerita jika posisi mereka bukan pengantin baru lagi.
Dengan hati yang gelisah, serta tidak bisa tidur, pikiran Maudy berkecamuk.
“Aaahhh” ingin rasanya Maudy berteriak, tapi itu tidak mungkin ia lakukan
“Ada apa Sayang ?” Rian membalikan badannya sehingga mereka saling berhadapan.
“T-idak" jawab Maudy.
Rian mengu Lum senyum “Ya sudah tidur sayang, udah jam 10 tu” tunjuk Rian kearah Jam dinding Yang sedari tadi terus berdetak.
“Iya" jawab Maudy singkat
Maudy menghadap ke sisi lain sehingga posisinya membelakangi Rian.
“Kamu ingin yang lebih kan Sayang ? Aduuh rasanya Mas ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah kamu yang begitu menggemaskan” batin Rian.
1 detik, 2 detik, hingga 5 menit kemudian tidak ada gerakan dari Maudy, Dan Rian merasa kalau istrinya itu sudah tertidur, ia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Akan tetapi salah, Maudy juga belum bisa memejamkan matanya, pikiran nya masih berkelana entah kemana, dan ketika suaminya memeluk dari belakang membuat Maudy semakin gelisah saja.
“Mas” panggil Maudy.
“Hmmm” jawab Rian persis suara seseorang yang sedang mengantuk.
“Mas” panggil Maudy lagi.
“Iya Sayang” Rian akhirnya terbangun karena suara Maudy begitu mengejutkan dirinya.
“Ak--u, Hmmm, A-ku” Maudy bingung harus mulai dari mana mengatakan semuanya, ia masih terlalu malu untuk hal ini.
“Apa dek kamu mau apa ?”
“Aku ingin anu, hmmm itu Mas”.
“Itu apanya ?”
“Aku ingin memberikan hak mu sebagai suami”
Dan detik itu juga Rian rasanya ingin tertawa terpingkal-pingkal..
__ADS_1
-
BERSAMBUNG..