
Malam harinya Rian membantu Maudy mengurus Nura. Ia ingat pesan Alya jika Maudy butuh perhatian lebih.
"Kamu istirahat saja dek, biar Mas yang jagaian Nura" titah Rian kepada Maudy.
"Tapi Mas" Maudy hendak menolak.
"Sudah tidak apa-apa, kamu istirahat aja"
Maudy akhirnya mengangguk, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Sementara Rian menggendong Nura yang matanya masih saja menyalang.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan Nura belum juga tidur berulang kali Rian menguap karena rasa kantuk terus menyerang
"Anak Papa bobok ya ! udah malam ini Nak" ucap Rian pada Nura.
Sesekali bayi yang baru beumur 10 hari itu bergumam namun Rian tidak mengerti apa yang di inginkan anaknya.
"Begini rasanya menjadi ayah, ya Allah lelah sekali rasanya". Kata Rian dalam hati.
Setenga jam kemudian Nura sudah tertidur membuat Rian bernafas legah. Rian menidurkan Nura di samping Maudy dengan sangat pelan supaya tak kembali membangunkan Nura.
"Alhamdulillah akhirnya tidur juga" gumam Rian yang saat ini sudah merebahkan diri di samping Nura.
Mata Rian mulai terpejam. Namun saat ia akan berkelana kedalam mimpi suara lengkingan keras berhasil membuat Rian kembali terjaga.
Rasa pening bercampur mengantuk sangat Rian rasakan. Ia juga melihat sang istri terbangun dari tidurnya.
"Pipis atau apa dek ?" tanya Rian dengan kepala yang teramat pusing. Karena dirinya baru saja tertidur satu jam.
"Biasa Mas Nura haus" jawab Maudy.
"Oh" Rian menyandarkan diri di kepala ranjangnya, menemani sang istri yang sudah menyusui buah hatinya.
"Mas kalau ngantuk tidur lagi aja !" titah Maudy.
Rian menggeleng "Mas akan menemani kamu dek, kita urus Nura sama-sama"
Maudy tersenyum mendengar apa yang di katakan sang suami. Beruntung setelah menyusu Nura kembali terlelap membuat Rian legah.
"Tidur lagi dek, mumpung Nura langsung terlelap"
"Iya Mas"
__ADS_1
Mereka berdua tidur sembari memeluk tubuh Nura yang berada di tengah..
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Suara Adzan subuh berkumadang, saling bersahutan dari masjid satu ke masjid lainnya. Setengah jam yang lalu Afnan sudah terbangun karena hendak ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat subuh.
"Assalamualaikum anak-anak Abi" sapa Afnan kepada kedua putri kembarnya yang berada di atas ranjang tempat tidur. Karena Dewi masih berada di kamar mandi.
Kedua bayi lucu itu menendang dan bergumam dengan suara yang menggemaskan. Afnan terkekeh dan merasa bersyukur karena di anugerahi dua anak sekaligus.
"Nanti kalau Arin dan Kia udah besar kita ke Masjid nya bareng-bareng"
Tidak berapa lama Dewi keluar dari kamar mandi. Afnan tersenyum ke arah sang istri.
"Mas berangkat ke Masjid dulu ya sayang" ucap Afnan pada Dewi dengan suara yang amat lembut.
"Iya Mas, Alwi juga udah nungguin di bawa kayanya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah Afnan pergi Dewi bermain bersama si kembar, bercerita layaknya pada orang dewasa.
"Oh ya malam ini kan Alwi menginap di rumah Mas Rian" gumam Dewi yang baru mengingat kalau malam ini adalah jadwal Alwi tidur di rumah Rian.
"Kenapa cepat sekali Sih" gerutu Dewi.
Selalu saja jika Alwi akan menginap di rumah Rian Dewi merasa sedih. Rasanya tak rela Alwi dimiliki orang lain selain dirinya dan Afnan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Jam 06 pagi Afnan dan Alwi kembali dari masjid, saat melihat Dewi berada di samping rumah sedang menjemur pakaian si kembar, Afnan langsung menghampiri.
"Kenapa gak nungguin Mas aja sih Dek ? kan Mas udah bilang jangan capek-capek, urusan nyuci sama jemur pakaian biar jadi tugas Mas" omel Afnan
"Sekali-kali Mas" jawab Dewi
Afnan melipat lengan baju kokonya dan langsung menggantikan Dewi menjemur pakaian. Dewi hanya menggelengkan kepalanya melihat Afnan yang begitu posesif terhadapnya.
"Ngapain diliatin terus ? Mas tau kalau Mas tampan" seloro Afnan hingga membuat Dewi mencibir.
__ADS_1
"Iya ganteng tapi udah tua" cibir Dewi.
Afnan menole "tua tapi kamu sayangkan" Afnan kembali menggoda.
Dewi hanya mengulum senyumnya, lalu berbalik untuk pergi dari hadapan Afnan, membiarkan Afnan menyelesaikan tugasnya menjemur baju.
Ia berjalan kearah dapur untuk membuatkan suaminya teh, Afnan tak bisa minum kopi karena jika sudah minum kopi perut Afnan akan kembung.
Tepat jam 10 Rian datang kerumah Dewi untuk menjemput Alwi, barang yang akan di bawa Alwi sudah di siapkan oleh Dewi. Walaupun berat berpisah pada Alwi tetap saja Dewi tak akan egois.
"Datang sendiri Mas Rian ?" tanya Afnan
"Iya, Maudy di rumah" jawab Rian lesu.
Afnan dapat menangkap kalau Rian sedang ada masalah. "Ada masalah ya Mas ?" tanya Afnan
"Iya, Istriku kena baby blues, jadi sikapnya beruba-rubah, kadang marah, nangis dan juga lelah. Ini salahku karena aku tak memberikan Maudy perhatian" jelas Rian dengan raut wajah yang begitu memilukan.
Dewi langsung teringat dengan masalalu nya saat baru saja melahirkan Alwi. Dewi dulu juga terkena Baby Blues, bahkan begitu parah karena mental Dewi juga masih sangat lemah pasca di perlakukan kasar oleh Rian..
"Seandainya kamu tau Mas, aku dulu lebih parah dari Maudy. Aku menderita hatiku sakit, pisikku juga sakit dan batinku sangat tertekan. Semua itu karena sikap kamu Mas. Sikap kamu yang membuat aku hampir depresi. Sikap kamu yang selalu menyalahkan aku karena kehilangan calon anak kita. Apalagi kamu menalak aku dan mengusir aku malam hari. Kamu gak tau kan seberapa menderitanya aku waktu itu" batin Dewi dengan mata yang berkaca-kaca
Afnan menggenggam tangan Dewi."Mas tau apa yang kamu rasakan sayang, pasti kamu kembali teringat dengan masa lalu kamu" batin Afnan.
"Sabar ya Mas Rian. Beri terus perhatian pada Maudy. Ibu nifas yang terkena baby blues karena kurangnya perhatian di tambah ia merasa beban nya begitu berat. Apalagi tiap malam begadang" Afnan menasehati Rian.
"Iya Mas Afnan, ini memang salah ku yang tak bisa peka terhadap wanita"
"Kalau memang sedang ada masalah tidak apa-apa kalau Alwi belum di bawa menginap disana. Alwi pasti akan mengerti"
"Tidak Mas. Alwi akan tetap menginap di rumah, Papa juga menanyakan Alwi terus" balas Rian.
"Ya sudah kalau begitu, ini barangnya Alwi. Orangnya masih di kamar"
Dewi berdiri untuk memanggil Alwi.
" Apa Dewi tidak terkena baby blues Mas Afnan ?" tanya Rian
Afnan tersenyum "Alhamdulillah tidak, karena ia sudah pernah merasakan nya" jelas Afnan.
"Maksud Mas Afnan ?".tanya Rian terbata-bata.
__ADS_1
"Iya Dewi pernah meraskan baby blues sehabis melahirkan Alwi bahkan parah karena mental Dewi begitu hancur saat itu"
Deeeggggg.