Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Imut


__ADS_3

Pagi menjelang siang, seorang laki-laki dan seorang perempuan yang duduk berdampingan di sebuah kursi panjang saling diam, sama-sama membuang wajahnya pada arah yang berlawanan.


"Yessss setidaknya walau pun ada kejadian buruk tetap ada hal baik di dalamnya, aku bisa ada dalam dekapan kak Troy meski hanya beberapa menit. Rasanya luar biasaaaaa" Tita mengepalkan tangannya sambil tersenyum bahagia padahal tadinya ia sempat menangis-nangis, Troy menjadi mood booster baginya.


"Kenapa jantungku berdebar-debar, tidak mungkin karena nona Tita kan, ini pasti efek sehabis lari-lari. Ingat Troy kamu hanya iba melihatnya menangis" Troy bergulat dengan kata hatinya sendiri.


"Emmm terima kasih ya kak Troy sudah mau mendengarkan sedikit curahan isi hatiku" ucap Tita mencoba menghangatkan kembali suasana.


Troy menjawabnya hanya dengan anggukan sambil menenggak air mineral yang di pegangnya.


"Lain kali boleh tidak jika aku curhat lagi padamu?"


"Boleh" Troy menutup botol minumannya.


"Kalau mengirimimu pesan?"


"Boleh"


"Menelponmu?"


"Jika aku tidak sedang sibuk boleh"


"Jadi pacarmu?"


"***. . ." Troy menghentikan perkataannya dan menoleh pada Tita sedikit membulatkan matanya.


"Hehe becanda, aku tidak akan bertindak secepat itu kok Kak Troy" ucapnya sambil tersenyum.


Troy kembali membuka tutup pada botol minumannya dan meminumnya, tenggorokan menjadi terasa kering kembali.


"Aku tidak mau jadi pacarmu, kalau bisa sih aku mau langsung jadi istrimu"


Brussshhh


Troy menyemburkan minumannya, matanya kini benar-benar terbelalak.


"Dia sudah kembali lagi pada jati dirinya, agresif dan terang-terangan"


"Hahaha, maaf ya kak Troy karena ucapanku kamu jadi tersedak" Tita mengambil beberapa lembar tisu dari dalam plastik putih miliknya. Ia mencoba mengusap air yang tersisa pada bawah bibir Troy tetapi Troy menjauhkan wajahnya, ia mengambil tisu yang berada di tangan Tita dan mengusap wajahnya.


"Aku bisa membersihkannya sendiri" Troy tak menanggapi ucapan Tita.


"Kak Troy" panggil Tita lembut. "Kak Troy belum punya pacar kan?"


"Belum"


"Kenapa belum punya?"


"Ya belum punya saja"

__ADS_1


"Ada wanita yang kak Troy suka?"


"Tidak ada"


"Kak Troy normal kan?"


"Tentu saja!"


"Kalau begini terus dia akan bertanya kemana-mana lebih baik aku pergi saja" Troy berdiri dan mulai melangkahkan kakinya.


"Loh kak Troy mau kemana? aku belum selesai berbicara"


"Maaf nona aku harus pulang karena hari ini harus bekerja, lain kali saja ya kita mengobrol laginya" Troy berlari meninggalkan Tita.


"Huuuhhh padahal aku masih ingin bertemu dengannya" Tita membereskan sisa makanan dan sampah cup es krim yang di makannya. Kepalanya tertunduk tetapi seorang lelaki menghampirinya, ia mendongakkan kepalanya.


"Kak Troy kembali lagi, mau mengajakku pulang bersama ya?" Tebak Tita kepedean.


"Maaf kunci mobilku ketinggalan" Troy mengambil kuncinya dan lari dengan cepat meninggalkan Tita. (lagi)


"Hey kak Troy . . padahal aku ingin pulang berasamamu, boleh kan?" awalnya Tita berteriak tetapi kemudian suaranya menjadi pelan saat Troy bahkan tak menengok sedikitpun padanya. "Dia sepertinya tidak menyukaiku, dadaku rasanya menjadi sesak" Tita mendudukan dirinya lemas sambil menundukan kepalanya.


***


Berbeda dengan Tita, sepasang suami istri yang tengah berada di kampus ini sedang sibuk mempersiapkan beberapa berkas yang di butuhkan Nafiza untuk daftar ulang sebagai mahasiswa baru jurusan psikologinya. Antrian mendaftar ulangnya pun cukup panjang, mereka harus tenang dan sabar menunggu giliran.



"Mendaftar jadi mahasiwa baru ya seperti ini, prosesnya panjang dan rumit" timpal Brian.


"Kamu saat kuliah di luar negeri pun mengantri seperti ini?"


"Iya sama saja" Brian tahu Nafiza akan sangat mudah bosan, ia dengan sengaja tidak pergi bekerja untuk menemani Nafiza.


Waktu terus bergulir, Brian dan Nafiza masih harus menunggu, nama Nafiza masih belum di panggil.


Nafiza semakin menekuk wajahnya dan menguap-nguap tanda kebosanannya sudah akut. Brian hanya bisa tersenyum melihatnya, tiba-tiba ia menepuk-nepuk pundak Nafiza agar menoleh kepadanya.


Brian bergaya-gaya sok imut sambil tersenyum polos, memasang beberapa gaya untuk menghibur Nafiza. Seketika Nafiza menjadi tertawa.



"Kamu sedang apa?" Nafiza tertawa renyah.


"Membuatmu tertawa, ayo istri kecilku semangatlah sebentar lagi pasti namamu terpanggil" Brian berbicara masih dengan gaya imutnya.


"Sudah Brian, malu di lihat orang" Nafiza meraih tangan Brian menurunkannya dari wajahnya.


Brian mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya, memang sebagian orang juga tersenyum melihat tingkah Brian.

__ADS_1


"Walau pun gayanya lebay tapi tetap tampan" puji beberapa orang terdengar oleh Nafiza dan Brian.


"Kamu memang selalu poluler di manapun, para perempuan pasti selalu kagum melihat wajahmu" Nafiza harus menerima kenyataan mempunyai suami tampan memang harus tahan mental.


"Yah mau bagaimana lagi wajah ini kan karunia Tuhan, aku hanya bisa menerima dan menikmatinya tapi tenang saja Nafizaku sayang. Wajah tampan dan tubuh seksiku ini hanya milikmu seorang" Brian mengenggam tangan Nafiza dan memandangnya lekat.


"Mulai lagi lebay" Nafiza menepis genggaman Brian.


"Aku serius"


"Lebay!"


"Kamu cemburu ya?"


"Tidak!"


"Ayo mengaku"


"Aku tidak cemburu, silahkan saja jika mereka mau mendekatimu. Bagiku tidak masalah tetapi jika kamu meladeninya jangan harap pintu kamar akan terbuka!"


"Itu sih namanya sama saja kamu cemburu" Brian menggoda Nafiza menyentuh-nyentuh dagunya.


"Tidak"


"Hahhhh masih saja tidak mau mengaku padahal kenyataannya begitu" Brian menyerah tak mau menggoda Nafiza lagi. Nafiza merasa ekspresi lesu Brian menjadi lucu, ia pun tertawa.


"Cup cup cup Brianku sekarang merajuk dan ngambek" Nafiza mengelitik dagu Brian dengan tangannya.


"Ih geli Nafiza" Brian mendorong tangan istrinya, mereka menjadi terus saling menggoda dan tertawa, tak terasa akhirnya nama Nafiza di panggil untuk mengumpulkan beberapa berkasnya.


Hingga proses untuk daftar ulangpun telah selesai, Brian dan Nafiza memutuskan untuk pergi ke kantin kampus.


Mereka terlihat menikmati beberapa makanan ringan dan minumannya, tak jauh dari tempat duduknya seorang lelaki memperhatikan Nafiza.


"Itu seperti Nafiza, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, lebih baik aku menyapanya" lelaki tersebut berjalan mendekati Nafiza dan mengetuk meja di depan Nafiza. "Hai Nafiza apa kabarmu?" lelaki tersebut tersenyum. Nafiza mengadahkan pandangannya.


"Kamu?"


***


Halo maaf ya kemarin author libur. Hehe


Biasa ni semangat author lagi kendor


Minta suplemen semangatnya dong dari Readers semua


Cukup kasih like dan komen aja kok author udah bahagia. 😁


Love buat kalian semua πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2