Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Rindu Troy


__ADS_3

Sehari setelah hari lamaran Troy dan Tita memutuskan untuk melakukan sesi foto prewedding, Tita memilih konsep indoor dan outdoor. Ia sudah memakai gaun pengantin berwarna putih dan sedang di rias wajahnya, sedangkan Troy memakai setelan jas berwarna hitam, Troy sebenarnya tak ingin memakai make up ia merasa tak nyaman, wajahnya terasa lengket tetapi Tita memaksanya. Ini demi hasil foto yang sempurna, akhirnya Troy menurut.


Photografer untuk foto prewedding ini adalah salah satu kenalan Tita, mereka sudah cukup dekat sehingga Tita tidak merasa gugup saat lensa dan cahaya kamera mengarah kepadanya, berbeda dengan Troy, ia sangat grogi dan kaku. Mereka berdua sedang melakukan sesi pemotretan di dalam studio.


"Troy tersenyumlah lebih natural jangan kaku seperti ini, relax saja" pinta sang photografer. Troy berusaha mengambil napas dalam agar sedikit tenang dan mulai berusaha tersenyum lemas selemas lemasnya.


"Seperti ini?" Troy mengangkat tangannya, cahaya kamera pun menyala.


"Yaaahhh tetap saja kaku, kita ganti pose kali ini kalian bisa berdiri. Kita juga akan pindah ke studio sebelah" perintah photografer.


"Tita maaf ya jika nanti hasil fotonya kurang bagus, aku benar-benar kaku seperti kanebo kering saat di foto" sesal Troy sambil membantu Tita berjalan, gaun panjangnya menjuntai, Troy memegangi gaun tersebut dari belakang.


"Yah mau bagaimana lagi kak Troy kan memang bukan seorang model, jadi wajar saja jika tegang dan kaku, bagiku sudah punya foto prewedding saja aku sudah bahagia"


"Bahagiamu sederhana sekali" puji Troy membuat Tita tertawa.


"Memangnya bahagia harus semewah apa? aku sudah mendapatkan hal mewah itu, menikah dengan kak Troy adalah mimpi tingkat tinggi yang pernah aku miliki dan sebentar lagi hal itu akan terwujud" senyum Tita tulus menggetarkan hati Troy. Ia belum pernah menemukan seseorang yang begitu bersyukur dan bahagia karena ada dirinya. Troy tak ingin mengecewakan Tita kali ini ia akan berusaha bergaya dengan lebih luwes agar hasil fotonya menjadi lebih baik.


Mereka telah sampai di studio sebelah, Tita dan Troy berdiri saling berhadapan.


"Ayo Tita rangkul tangan calon suamimu" perintah photografer.


Tita merangkulkan tangannya dan membisikkan sesuatu di telinga Troy.


"Aku mencintai kak Troy dan bahagia memiliki kak Troy"


Bisikan itu membuat hati Troy berdesir dan merasa sejuk, ia memegang tangan Tita sambil tersenyum ke arah kamera.


"Aku mencintai Tita lebih dari Tita mencintaku" balasnya pelan. Mereka berdua tersenyum tulus.



Kamera itu memotretnya beberapa kali.


"Oke bagus" photografer itu menyudahi. "Sekarang kita akan menuju taman di depan untuk pemotretan selanjutnya"


Troy kembali membantu Tita berjalan, lokasi taman tersebut tidak terlalu jauh sehingga mereka lebih cepat sampai.


Troy dan Tita melakukan sesi pemotretan dengan duduk di bangku taman, sang photografer dengan setia memberi arahan, mereka berdua menurut dan pemotretan pun selesai. Mereka kini harus kembali ke studio.


Pria tampan itu masih setia membantu calon istrinya mengangkat gaun panjangnya tetapi sepertinya Tita kelelahan, kakinya berjalan mulai melambat dan hampir keseleo, maklum saja ia tak terbiasa memakai high heels.


"Tita kenapa?" tanya Troy khawatir dan menangkap tubuh Tita cepat.

__ADS_1


"Aku lelah kak Troy dan kakiku sakit memakai sandal ini" keluhnya sambil merengek dan memperlihatkan kakinya yang memerah.


"Mau aku gendong?" tawar Troy tak tega melihat calon istrinya kesusahan.


"Tapi aku berat loh kak Troy"


"Masih lebih berat cintaku dari pada berat badanmu Tita" gadis itu terkekeh mendengarnya, Troy yang sekarang ini sudah pandai merayu.


"Kak Troy bisa saja" senyumnya mengembang.


"Ayo naik ke punggungku" Troy memasang kuda-kuda sedikit membungkuk di depan Tita.


"Benar ya kuat menggendong aku"


"Iya aku kuat kok"


Tita mulai menaikan tubuhnya ke punggung Troy, kini lelaki itu sudah mengangkat tubuh Tita sepenuhnya dan mulai berjalan.


"Kak Troy pegal tidak?" tanyanya merasa tak enak menyusahkan Troy.


"Tidak, aku masih sanggup untuk berlari malah" benar saja Troy menggendong Tita sambil berlari kencang, Tita merangkul leher kuat sambil tertawa.


"Pelan-pelan kak Troy" pinta Tita.


Photografer yang melihat adegan pasangan calon pengantin gendong-gendongan itu pun tak menyia-nyiakan moment tersebut, dia memotretnya.



"Foto ini alami, lebih sempurna dari foto-foto sebelumnya" photografer tersebut memandang hasil foto dadakannya.


***


Brian tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya, sebenarnya ia sedikit kerepotan tidak ada Troy yang membantu. Dia membuka dua dokumen sekaligus, pandangannya beralih dari dokumen satu ke dokumen yang lainnya.


"Haaahhh" Brian menghela napasnya, ia memijat pangkal hidungnya pelan, sedikit merasa frustasi.


Tok tok tok


"Masuk" perintahnya.


"Selamat siang tuan Brian" sambutnya, suaranya tidak asing, Brian mendongakkan kepalanya mencari tahu apakah dugaannya benar.


"Nafiza? ada apa kamu ke kantorku?" tanyanya melihat sang istri datang memakai kemeja putih dan rok hitam seperti seorang pegawai magang berjalan menghampiri Brian sambil membawa beberapa berkas.

__ADS_1


"Hari ini kamu akan mendapat bantuan spesial, aku akan jadi sekretaris sementara untukmu. Hebat kan ideku" Nafiza tersenyum sambil mengangkat-angkat alisnya.


"Memangnya kamu bisa jadi sekretaris?"


"Bisalah, hanya menerima telepon dan memeriksa jadwalmu, kalau dokumen kamu bisa mengajariku tentang apa yang harus aku lakukan" jawabnya enteng.


"Kamu lebih diam rumah Nafiza, berisitirahat" saran Brian.


"Aku bosan di rumah" rengeknya.


"Hemmmm ya sudah tapi kamu tidak perlu duduk di depan, duduklah saja di sofa ini" tunjuknya pada sofa di dalam ruangannya.


"Siap bos!!" Nafiza kemudian berjalan keluar dan membawa tasnya, rupanya dia membawa dua plastik besar yang berisi makanan dan cemilan untuk bekal di kantor Brian, suaminya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


Nafiza mendudukan dirinya, dia membuka tablet yang berisi jadwal pertemuan Brian. Dia bekerja sambil makan, suara kunyahan mulutnya terdengar cukup kencang.


Mau mengeluh pun Brian tak bisa.


"Nafiza" panggil Brian.


"Iya bos" dia beranjak bangun dan menghampiri meja Brian.


"Tolong kamu tandai semua data yang jumlah pengeluarannya di atas lima juta" tunjuk Brian sambil menyerahkan sebuah berkas.


"Baik bos" Nafiza memasukan bengbeng yang masih utuh ke dalam mulut, kedua tangannya mengambil berkas pemberian Brian, ia kembali menuju sofa.


Nafiza mulai memberi tanda dengan stabilo pada data-data sesuai arahan Brian, kini dia bekerja sambil bernyanyi, membuyarkan fokus Brian, lagi-lagi dia tidak bisa marah.


Tok Tok Tok


Nafiza berdiri dan berjalan membuka kan pintu ruangan Brian, rupanya seorang pengantar makanan.


"Pizza?"


Nafiza mendatangi suaminya mengadahkan tangannya.


"Apa?" tanya Brian tak mengerti.


"Aku tidak membawa dompet, bagi uang untuk membayar pizzanya" dia memasang wajah memelas.


"Haaahhhh" Brian membuang napasnya kasar dan memberikan dompetnya pada Nafiza.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Nafiza kini sibuk memeriksa dokumen sambil memakan pizza. Melihatnya sedari tadi tidak berhenti mengunyah makanan Brian merasa engap.

__ADS_1


"Troy dimanakah dirimu, aku rindu" lirih Brian.


__ADS_2