Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 45


__ADS_3

Malam harinya Afnan tidak bisa tidur, matanya tetap nyalang sambil melihat kearah sang istri yang saat ini sedang tertidur dengan nyenyak.


Cup.


Entah sudah berapa kali bibir Afnan mengecup kening Dewi.


"Mas pasti akan merindukan kamu sayang, pasti itu" gumam Afnan.


Jari telunjuknya menelusuri pipi mulus sang suami. Mata Dewi perlahan terbuka, ia memandang wajah sang suami yang sedang tersenyum manis kearahnya.


"Kok belum tidur Mas ?" tanya Dewi dengan suara serak.


"Belum ngantuk, Mas ganggu ya ?" Afnan balik bertanya.


"Tidak Sayang, kenapa apa Mas minta di temenin ?"


Afnan memandang wajah sang istri begitu dalam, lalu menyatukan diri mereka. Dewi mengimbangi permainan sang suami, membebaskan Afnan menyentuh dirinya sampai puas.


"Apa boleh ?" tanya Afnan.


"Boleh Mas, tapi pelan-pelan Ya !" pinta Dewi.


"Insya Allah Sayang" Afnan kembali menyatukan dirinya, sementara tangan nya terus menelusuri wajah sang istri.


Dewi memejamkan matanya, dan entan kenapa ia meneteskan air mata, ia merasa bahwa ini adalah akhir dari semuanya.


Berulang kali Dewi beristighfar.


"Loh kok nangis dek ?" tanya Afnan.


"Apa Mas menyakiti kamu ?"


"Katakan sayang kenapa menangis ?"


Dewi hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali menarik wajah sang suami, menempelkan bibir nya ke bibir Afnan.


"Jangan tinggalkan aku Mas !"


"Ku mohon jangan !"


Gumam Dewi di sela-sela penyatuan mereka.


Afnan menarik wajahnya,.lalu menghapus air mata sang istri. Di ciumnya pipi Dewi yang terlihat begitu gemuk.


"Tidak akan, Mas tidak akan meninggalkan kamu sayang, sampai kapanpun Mas akan selalu ada di sisi kamu" balas Afnan.


Ia langsung menarik Dewi kepelukan nya, tidak biasanya sang istri seperti ini. Biasanya Dewi tidak terlalu sedih saat akan ia tinggalkan namun entah kenapa saat sekarang.


"Mau ikut sholat malam ?" tanya Afnan.


"Jam berapa sekarang Mas ?" Dewi balik bertanya.


"Setenga dua"


"Mas belum tidur dari tadi ?"


Afnan mengangguk.


"Kenapa ?" tanya Dewi.


"Entahlah, mas rasanya tidak mengantuk dek !" jawab Afnan.

__ADS_1


Afnan kembali merebahkan kepalanya di atas bantal, menatap langit-langit kamar mereka. Begitupun dengan Dewi.


"Aawww" tiba-tiba Dewi merintih.


"Ada apa Sayang ?" tanya Afnan kaget.


"Anakmu ikut bangun sayang, tuh lihat ! mereka menendang" jawab Dewi sambil menunjuk perutnya yang bergerak karena ada gerakan si kecil.


"Masya Allah, anak Abi kenapa ikut bangun juga Nak ?" Afnan mencium perut istrinya.


"Udah tidur lagi ya ! Kasian Bunda dia juga mau tidur" bisik Afnan.


-


-


Keesokan paginya Afnan sudah siap untuk berangkat Ke Turki. Dewi merapihkan kemeja yang di pakai sang suami.


"Mas tu harusnya kalau di luar pakai kaca mata" ujar Dewi.


Afnan meletakkan kedua tangan nya di pinggang sang istri sambil menatap wajah Dewi yang sedang merapihkan kemejanya.


"Kenapa harus begitu ?" tanya Afnan dengan lembut.


"Biar gak keliatan kalau ganteng" seloroh Dewi.


Afnan mengu lum senyumnya . "Cie di bilang ganteng sama istri" goda Afnan.


"Apa sih Mas" Dewi mencubit lengan sang suami.


"Awww. Masya Allah nikmat" Afnan kembali menggoda.


"Jangan dek, panas rasanya" bisik Afnan.


Tidak berapa lama Alwi muncul. Afnan langsung menjauhkan diri dengan sang istri.


"Berapa lama Abi disana ?" tanya Alwi.


"Cuman seminggu sayang, Alwi jaga Bunda ya, jagain dengan baik selama Abi pergi" pinta Afnan .


"Baik Bi" Alwi memberi hormat kepada Afnan.


-


-


Setelah sarapan Dewi mengantarkan Afnan ke depan rumah, awalnya Dewi ingin ikut ke Bandara tapi Afnan melarang karena kondisi Dewi sedang hamil besar.


"Hati-hati ya Mas, cepat pulang" pinta Dewi dengan air mata yang sudah membendung.


"Pasti Sayang, kamu juga jaga diri baik-baik. Titip anak-anak !" Afnan memeluk istrinya.


Dewi tak bisa menahan air matanya, ia langsung terisak saat Afnan memeluknya, tangannya begitu erat memeluk Afnan begitupun dengan Afnan mereka berdua seolah enggan untuk melepaskan.


"Udah ya Mas berangkat !" akhirnya Afnan mengakhiri pelukan nya.


Dewi mengangguk,ia cium punggung tangan sang suami dan di balas ciuman kening, kedua kelopak mata, kedua pipi dan hidung dari Afnan.


"Assalamualaikum" pamit Afnan


"Waalaikumsalam" balas Dewi.

__ADS_1


Afnan pun pamitan kepada kedua mertuanya lalu memasuki mobil karena sang sopir sudah menunggu.


Afnan menurunkan kaca mobilnya lalu melambaikan tangan nya kepada sang istri sembari tersenyum manis.


"Dadah Abi" ucap Alwi


"Dah, jagain Bunda Nak"


Samar-samar telinga Dewi masih mendengar suara Afnan, lalu hilang tertiup angin ketika mobil yang di tumpangi Afnan tak terlihat lagi.


Rasanya ada yang hilang, seperti separuh hidupnya di bawa entah kemana. Dewi masih bergeming ia tak beranjak sedikitpun masih menatap jalanan yang sudah banyak di lalui kendaraan. Bahkan saat ada mobil mendekat ia berharap itu Afnan yang membatalkan kepergiannya.


"Ayo masuk Nak, di luar sudah panas" ajak Mama Mira kepada Dewi.


Dewi menuruti Mamanya, sementara Alwi sudah bermain dengan sang Papa.


"Bi itu bajunya mau di apain ?" tanya Dewi saat melihat baju Afnan di bawa.


"Mau di cuci Non"


"Jangan Bi" segera Dewi mengambil baju suaminya "Jangan di cuci Bi"


"Tapi kan itu kotor Non"


"Tidak, ini tidak kotor"


Dewi langsung membawa baju suaminya kembali kekamar, di dekapnya baju itu dengan erat seolah ada sosok Afnan yang ia peluk.


Air matanya kembali menetes. Seiring dengan jalan nya waktu.


Dewi beralih keatas ranjang, lalu menemukan secarik kertas di bawa bantal, dengan segera Dewi mengambilnya lalu membuka lipatas kertas itu.


"Inikan tulisan Mas Afnan" gumam Dewi.


Mata nya fokus membaca setiap kalimat yang tertulis di kertas itu.


Air mata Dewi kembali menetes saat membaca bait demi bait sebuah puisi yang Afnan berikan.


"Aku merindukan mu Mas" ucap Dewi lirih.


Lalu kembali memeluk kemeja Afnan dimana wangi khas tubuh Afnan masih menempel di kemeja itu. Membuat rasa rindu semakin menggebu padahal belum pun satu jam ia dan Afnan berpisah.


Tingg.


Ponsel Dewi berbunyi, ia langsung mengeceknya.


"Mas berangkat sayang, baik-baik di rumah ya ! jaga kesehatan, jaga diri dan selalu ingat sama Allah. Titip anak-anak ya !" itulah pesan singkat Afnan.


"Mas juga jaga diri baik-baik, segeralah kembali !" balas Dewi namun hanya centang satu mungkin Afnan sudah menonaktifkan ponselnya.


"Jaga suamiku ya Allah !" doa Dewi dalam hati.


Kamar itu menjadi sepi, tidak ada lagi suara Afnan yang selalu membuatnya tertawa karena kini hanya bayangan nya saja.


Tidak ada lagi suara lembut dan menyejukkan dari suaminya, hingga membuat perasaan Dewi tak karuan.


"Mas Afnan !"


"Aku mencintai kamu !"


"Kembali Mas !"

__ADS_1


__ADS_2