
Mobil Rian terparkir di depan rumah Dewi, ia ssengaja tidak memasukan mobil nya karena tidak akan lama.
“Loh Maudy mana ?” tanya Afnan saat melihat hanya Rian sendiri yang datang.
“Dia gak mau ikut Mas, katanya ini waktu untuk kami berdua, Maudy ingin memberikan banyak kesempatan untuk ku bersama Alwi”
Afnan mengangguk kan kepalanya, ia mendukung keputusan Maudy.
“Sudah siap Nak ?” tanya Rian kepada Alwi
“Sudah Om” jawab Alwi.
Rian tersenyum kecut saat mendengar bahwa Alwi masih memanggilnya dengan sebutan “OM” bukan “Papa” seperti yang ia harapkan.
Tapi tak apa, mengetahui kalau Alwi sudah mau jalan bareng dengannya saja sudah membuat Rian begitu bahagia, untuk panggilan nanti lama-kelamaan Alwi akan mengerti.
“Yok berangkat !” ajak Rian.
Alwi mencium punggung tangan Afnan.
“Hati-hati ya, Nurut apa kata Papa, jangan bandel” pesan Afnan kepada Alwi
“Baik Abi” jawab Alwi.
“Jalan dulu Mas” pamit Rian
“Iya hati-hati, semoga harinya mengenang kan”Balas Afnan.
Rian menggandeng tangan Alwi menuju mobil, laku membuka pintu depan mobil untuk Alwi, barulah ia memasuki kursi kemudi.
“Mau kemana nih tujuannya?” tanya Rian sebelum menyalahkan mesin mobil.
“ Ke Kidzania aja Om, Alwi baru satu kali kesana jadi belum puas” jawab Alwi antusias.
“Baiklah”
Rian melajukan mobilnya membela jalanan ibu kota yang terlihat sangat padat, demi mendapatkan hati seorang anak kecil Rian rela meninggalkan pekerjaan nya.
Semuanya akan Rian lakukan asal bisa melihat Alwi bahagia.
“Kenapa mau kesana ?” tanya Rian
“Disana Alwi bisa jadi pemadam kebakaran, dokter, pilot dan banyaaak lagi”
“Wah, keren Dong, Papa juga penasaran ingin main disana”
“Memangnya Om belum pernah kesana ?”
Walaupun sudah pernah tapi Rian menggeleng, bukan karena dia ingin berbohong hanya saja Rian ingin mendengar lebih banyak lagi cerita dari Alwi.
Hingga tak terasa obrolan di antara mereka berdua mengalir dengan hangat, Alwi bahkan tertawa terbahak-bahak saat menceritakan permainan nya.
“Udah sampai, yuk masuk” ajak Rian setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang tela di sediakan.
__ADS_1
Tanpa di suruh Alwi langsung menggandeng tangan Rian, membuat suasana hati Rian benar-benar bahagia.
Pertama Rian membeli tiket dulu, lalu masuk ke area permainan, ternyata di sana banyak sekali anak kecil seusia Alwi atau bahkan ada juga yang sudah besar mungkin sudah SMP. Ada yang memerankan seorang pilot, dokter dan lainnya.
“Alwi mau memerankan yang mana ?” tanya Rian.
“Polisi Om” jawab Alwi.
“Yuk kita ganti kostum dulu”
Rian menemani Alwi mengganti pakaian nya dengan seragam kepolisia lengkap dengan topi serta pistol mainan.
“Anak Papa ganteng banget” puji Rian.
Alwi tersenyum, lalu segera menuju pusat permainan dimana Alwi bertugas layaknya polisi beneran, Rian menonton sembari tersenyum tidak lupa mengabadikan apapun yang Alwi lakukan.
Tawa nyaring Alwi begitu menggelegar, menampakkan gigi putih dan Rapih, setelah 2 jam berada disana Rian memesan minuman, ia tau pasti Alwi akan kehausan setelah selesai bermain.
“Capek banget Om” ucap Alwi.
“Ini minum dulu !” Rian memberikan botol Aqua kepada Alwi.
“Makasih Om”
Rian duduk di samping Alwi. “Senang gak mainnya ?” tanya Rian
“Senang banget Om”
Hingga suara Adzan Zuhur berkumandang. “Om Sholat dulu yok ! udah Adzan, kata Abi jangan menunda Sholat” ucap Alwi.
“Yok !”
-
-
Selesai melaksanakan sholat Dzuhur Rian mengajak Alwi makan siang dulu, Alwi memilih langsung tempat makannya.
“Ke KFC saja Om, Alwi paling suka makan Ayam goreng”
“Hobbi kita sama” seloroh Rian
Seperti biasa ia akan menggandeng tangan Alwi memasuki KFC, memesan makanan mereka berdua, Rian sengaja menyamakan pesanan nya karena ingin terlihat dekat dengan Alwi.
“Kok sama Om ?” tanya Alwi.
“Biar kompak” sahut Rian
Namun justru Alwi mencibir “Harusnya jangan sama Om, seperti Abi kalau pesan makan selalu beda dari Alwi supaya Alwi bisa nyicip makanan yang lain, kalau sama seperti ini akan gak bisa”
Rian tersenyum masam “Ya sudah Papa ganti”
“Udah Om makan aja yang itu, nanti kalau pesan lagi yang ini gak dimakan, nanti Allah marah”
__ADS_1
Dan ucapan Alwi membuat Rian menelan ludah nya berkali-kali, anaknya begitu pintar dalam urusan agama, pasti karena Afnan yang mendidiknya.
Sebelum makan Alwi membaca doa dulu, lalu menyuapkan makanan nya dengan amat pelan, tak buru-buru seperti kebiasaan orang.
Cara makan Alwi saja begitu bersih, tidak ada nasi yang berceceran dimana-mana.
“Alhamdulillah” kata Alwi setelah selesai makan dan meminum air putih.
“Mau kemana lagi kita ” tanya Rian
“Pulang aja Om” jawab Alwi.
“Ke toko mainan dulu mau gak ? ada mainan baru disana” tawar Rian.
Alwi nampak berpikir, lalu kemudian mengangguk membuat Rian tersenyum bahagia.
Setelah dari kafe Rian langsung menjalankan kembali mobilnya ke sebuah toko mainan terbesar di Jakarta.
“Silahkan Alwi pilih yang mana saja yang Alwi mau” ucap Rian
Alwi mengelilingi toko mainan itu, banyak sekali aneka mainan yang bagus-bagus, hingga pilihan nya jatuh pada sebuah mainan berjenis mobil-mobilan yang bisa berubah Robot.
“Enggak mau yang ini ?” tanya Rian sembari menunjuk motor kecil yang bisa di naiki oleh Alwi.
“Emang boleh Om ?” tanya Alwi
“Kalau Alwi suka ya boleh dong, kan Papa udah bilang Alwi boleh membeli apa saja yang Alwi inginkan”
“Tapi” Alwi nampak ragu “Nanti di marah sama Bunda” ucap Alwi lagi.
“Biar Papa yang bicara sama Bunda”
Sesekali mata Alwi melirik motor berjenis ninja itu, ia ingin sekali memiliki itu, kemaren ia pernah melihat anak tetangganya yang punya itu. Namun Alwi begitu takut untuk mengatakan nya kepada Dewi bukan karena tidak di belikan hanya saja Dewi khawatir Alwi akan kenapa-napa, bahkan sepeda saja tidak di izinkan oleh Dewi jika keluar lingkungan rumah.
Apalagi saat kecelakaan yang menimpah Alwi membuat Dewi selalu waspada.
“Bagaimana mau gak ?” tanya Rian lagi
“Mau Om, tapi nanti Om yang bicara sama Bunda ya !”
“Baik Nak”
Rian membayar seluruh nya, lalu memasukan kedalam bagasi mobil dengan di bantu karyawan toko.
Didalam perjalanan pulang, Alwi kembali banyak cerita, dengan semangat.
Hingga tak berapa lama mereka sudah sampai di depan rumah Dewi, Rian menurun kan motor kecil dan mainan yang lain nya, Dewi yang saat itu sedang duduk di teras depan menatap kaget.
“Punya siapa Mas ?” tanya Dewi.
Rian langsung menjelaskan semuanya, hingga membuat Dewi mengerti dan membiarkan Alwi memakainya dengan catatan harus di temani.
Setelah itu Rian pamit pulang, namun langkanya terhenti karena panggilan dari Alwi.
__ADS_1
Alwi langsung menerobos memeluk tubuh Rian, lalu menciumi wajah Rian dengan bertubi-tubi. “Makasih untuk hari ini Papa” ucap Alwi.