Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Sakit


__ADS_3

Sinar matahari pagi yang terpancar terasa hangat menembus ke dalam tenda, deru ombak masih terdengar berkejaran, membangunkan Brian yang masih terlelap. Ia mulai membuka matanya perlahan, tangannya meraba ke samping kanannya. Ia tak menemukan sosok Nafiza, hanya ada selimut yang teronggok yang di pakainya semalam.


Lalu terdengar seseorang membuka resleting pintu tenda, Nafiza sudah rapi. Ia masuk ke dalam dan menemukan Brian yang masih merebahkan dirinya.


"Kamu belum bangun?" tanyanya duduk di samping Brian.


"Hemmm, kamu habis dari mana?" Brian menarik tangan Nafiza dan memeluknya, membuat Nafiza terkejut.


"Pelan-pelan, aku habis mandi dari kamar mandi umum. Cepatlah bangun kita sarapan, aku lapar"


"Iya sebentar lagi" Nafiza memandang wajah Brian yang berada di atas kepalanya. Wajahnya sedikit berbeda ia agak memerah. Penasaran Nafiza akhirnya memegang dahi Brian.


"Kamu demam? badanmu panas" Nafiza beralih memegang pipi Brian.


"Benarkah? pantas saja rasanya kepalaku sedikit pusing" jawab Brian enteng.


"Kenapa tidak bilang kalau tidak enak badan" Nafiza melepaskan pelukan Brian ia kembali duduk dan memegang dahi Brian mengeceknya kembali, Nafiza bukan hanya memegang dahi Brian, ia memegang pipi dan lehernya lalu membandingkannya dengan dahinya sendiri. "Demammu cukup tinggi, kita tidak membawa persiapan obat. Lebih baik sekarang kita langsung pulang ya"


"Bukannya kamu masih ingin bermain di pantai? tak apa, aku baik-baik saja. Aku masih bisa berdiri kok" Brian berusaha mendudukan dirinya tetapi rasa sakit kepalanya semakin bertambah. "Ah!" Brian memegang kepalanya.


"Tuh kan sudah tahu sakit masih bilang baik-baik saja, Kamu keluarlah lebih dulu aku akan merapikan tenda dan peralatan kita. Kamu duduk saja di dalam mobil ya"


"Ini hanya demam biasa Nafiza jangan khawatirkan aku, aku akan membantumu merapikannya"


"Tidak usah, kan masih ada kak Troy yang membantuku"


"Troy belum pulang? aku lupa menyuruhnya pulang semalam. Dia tidur dimana?"


"Dia sekretaris yang setia, belum di suruh pulang ya tidak pulang, sepertinya semalam dia tidur di dalam mobil. Cepat keluarlah setelah semuanya beres kita akan ke rumah sakit"


"Tidak usah ke rumah sakit, aku bisa istirahat di rumah"


"Jangan bicara lagi, menurutlah pada istrimu ini!"


"Baiklah" Brian pelan-pelan berjalan keluar tenda, ia dapat melihat pemandangan pantai di pagi hari yang indah. "Padahal aku juga masih ingin liburan" Brian berbicara sendiri.


Nafiza dan Troy membereskan semua peralatan camping yang di bawanya dan di masukkan kembali ke dalam mobil.


"Troy panggil orang untuk membawa mobil Nafiza pulang" ucap Brian ia sedari tadi hanya duduk, sekarang ia merasa tubuhnya sedikit menggigil.


"Baik tuan" Troy mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.


"Semua beres, ayo kita pulang dan pergi ke rumah sakit" ajak Nafiza.

__ADS_1


"Tapi. ."


"Tidak ada tapi-tapi!" Nafiza merangkul tangan Brian dan mengajak masuk ke dalam mobil. Troy juga sudah bersiap dan duduk di depan memegang setir. "Ayo kak Troy kita jalan"


"Baik nona" Troy melajukan mobilnya pelan, Brian menyandarkan kepalanya di bahu Nafiza merasakan tubuhnya yang terasa panas tetapi juga terasa dingin. Nafiza menyelimuti tubuh Brian.


***


Setelah sampai di kota tempat tinggal mereka, Troy langsung menuju rumah sakit. Kini Brian sudah berada di ruangan VVIP dan sedang di periksa oleh dokter.


"Bagaimana dok? Brian sakit apa?" tanya Nafiza khawatir melihat Brian yang semakin pucat.


"Tidak ada penyakit yang serius nona, tuan Brian hanya kelelahan, tensi darahnya juga turun. Meski begitu alangkah lebih baiknya jika ia di rawat dulu di sini, agar tubuhnya lebih stabil." Ucap dokter Danu, dokter kepercayaan keluarga Brian.


"Iya dok kalau harus di rawat tidak apa-apa"


"Aku mau di rumah saja Nafiza" ucap Brian memelas.


"Sudah pokoknya sementara kamu harus di rawat di sini!"


"Huft" Brian memanyunkan bibirnya seperti anak kecil, ia memang merasa tubuhnya sedikit lemah sehingga tidak bisa melawan kemauan Nafiza.


"Saya akan mengurus administrasinya dulu nona" ucap Troy mengikuti dokter yang keluar dari ruangan.


Brian menganggukkan kepalanya, Nafiza memijit kening Brian pelan. Tak lama kemudian seorang suster datang.


"Maaf pak Brian kami akan memasang infus dulu ya" ijinnya.


Suster tersebut mulai mempersiapkan jarum dan selang infusnya lalu menggantungnya. Ia menelentangkan tangan Brian.


"Rasanya akan sedikit sakit, tahan ya pak dan tidak usah kaku, lemaskan" ucap suster, Brian menutup matanya, tangan satunya memegang tangan Nafiza erat.


Nafiza tersenyum tipis melihat tingkah Brian. Suster mengusap tangan Brian dengan tisu yang mengandung alkohol.


"Aww!!" teriak Brian pelan.


"Jarumnya belum di pasang Brian" Nafiza terkekeh melihat Brian ketakutan membuat Brian sedikit malu.


"Tarik nafas ya pak" perintah suster mulai menancapkan jarum untuk infus Brian.


"Adududuh" Brian kembali mengaduh. Suster berhasil memasang jarum di tangan Brian, ia memberi plester dan memastikan kecepatan tetesan cairan infus mengalir tepat dan pas.


"Sudah selesai, sebentar lagi waktunya makan untuk pasien. Saya permisi dulu" pamit suster.

__ADS_1


"Terima kasih sus" ucap Nafiza melihat suster pergi. "Pantas saja kamu tidak mau di rawat, rupanya kamu takut jarum suntik ya" ledeknya melihat Brian memandang tangannya yang di infus.


"Bukan takut cuma ngeri"


"Sama saja tahu!"


Ceklek


Suara pintu ruang rawat Brian terbuka, seorang suster membawa nampan yang berisi makanan.


"Pak Brian waktunya makan, di habiskan ya dan obatnya di minum setelah makan" ucap suster ramah sambil menaruh makanan di meja samping ranjang.


"Terima kasih suster" ucap Nafiza kembali melihat suster pergi. Ia mengambil nampan makanan tersebut dan membuka plastik yang menutupinya.


"Boleh tidak aku makan nasi padang saja Nafizaku sayang, makanan di rumah sakit tidak enak" pinta Brian melirik makanan yang akan di suapkan Nafiza padanya.


"Mana boleh orang sakit makan nasi padang, ya ampun"


"Kalau orang sakit kan permintaannya suka aneh-aneh Nafiza, lebih baik di turuti supaya lebih cepat sembuh" rayunya.


"Kamu harus menuruti aturan rumah sakit Brian supaya lebih cepat sembuh bukannya egois begini ingin memakan semua yang kamu mau padahal sedang sakit. Sekarang buka mulutmu. Aaaa" Nafiza menyuapi Brian.


"Kan tidak ada rasanya, aku tidak suka" rengeknya Brian membuat Nafiza menggelengkan kepalanya.


"Manjanya padahal sudah dewasa"


***


Hai Readers semoga sehat selalu ya


Jangan sampai sakit seperti Brian. Hehe


Sebenarnya author juga sedang tidak enak badan


Tetapi tidak separah Brian


Mangkanya maaf ya jika cerita kali ini kurang menarik 😁


Terima kasih untuk Readers dan Author yang selalu mendukung cerita abal-abal ini


Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa istirahat ya


Saranghaeyo πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2