
Throwback In Hongkong
Brian dan Sabrina berada di restoran hotel tempat mereka menginap, mereka baru saja pulang setelah bertemu dengan beberapa rekan bisnis Brian, ia merasa lelah dan lapar sehingga akhirnya mengajak Sabrina untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali ke kamarnya.
"Pesan makanan seperti biasa" ucap Brian pada pelayan restoran yang berada di hadapannya sambil menutup buku menu. "Pesanlah makanan yang kamu inginkan Sabrina".
"Saya kebetulan belum lapar pak, saya hanya ingin minum vanilla late" pelayan restoran yang mendengar permintaan Sabrina dan Brian kemudian menundukan tubuhnya, pelayan tersebut kemudian berjalan ke arah dapur restoran.
"Permisi pak saya ingin ke toilet sebentar" Sabrina berdiri, Brian kemudian menganggukan kepalanya. Sesampainya di toilet Sabrina mengambil ponsel yang berada dalam tas miliknya, ia menelpon seseorang.
"Cepat kemari! aku berada di toilet" Sabrina menutup teleponnya, tak lama kemudian seorang perempuan yang memakai seragam pelayan restoran menghampiri Sabrina. Ia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain di toilet selain mereka.
"Masukkan ini ke dalam minuman pak Brian, ingat jangan sampai siapa pun tahu" Sabrina memberikan sebuah botol minuman kecil yang berisi alkohol, ia tahu Brian tidak bisa meminum alkohol.
"Baik nona" sang pelayan memasukkan botol tersebut ke dalam sakunya.
"Cepat pergi sana, jangan sampai gagal!" ucap Sabrina pada pelayan tersebut yang kemudian segera berjalan keluar dari toilet. Sabrina membalikkan tubuhnya menatap cermin besar yang ada di hadapannya, ia mengeluarkan sebuah lipstik dan memoleskannya pada bibirnya.
"Sayang sekali aku harus memakai cara kotor, ini semua salah gadis SMA itu! kalau saja dia tidak menikahi pak Brian, pasti akulah yang akan menjadi istrinya dan aku tidak harus sampai melakukan hal ini! Uh pak Brian malam ini akan menjadi malam yang panjang" Sabrina berbicara sendiri, ia memanyunkan bibir merahnya dan merapikan rambutnya yang bergelombang.
__ADS_1
***
Sabrina dan Brian sedang menunggu pesanan makanan mereka di antar, tak lama kemudian pelayan datang dan menaruh beberapa makanan dan minuman di atas meja.
"Seharusnya kamu memesan makanan Sabrina" ucap Brian pada Sabrina yang hanya meminum kopi, Brian memperlakukan Sabrina tidak seperti seorang CEO dengan sekretarisnya, ia menganggapnya lebih seperti teman.
"Maaf pak saya beberapa bulan ini menghindari makan malam demi menjaga berat badan saya" ucap Sabrina sambil tersenyum.
"Oh ya sudah" Brian melahap makanan yang ada di depannya.
***
Brian telah menghabiskan makan malamnya, setelah merasa kenyang, ia memutuskan ingin segera beristirahat ke kamarnya, Sabrina mengikuti Brian dari belakang, mereka berjalan menuju lift dan memasukinya, lift mulai berjalan.
"Ada apa pak?"
"Kepalaku rasanya pusing sekali" Brian menyandarkan tubuhnya di lift, Sabrina kemudian mendekati Brian, pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai kamar hotel mereka berada.
"Sepertinya minuman itu mulai bereaksi, efeknya sangat cepat" Sabrina tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Mari saya bantu berjalan pak" ia merangkul tangan Brian membantunya berjalan, Brian berjalan agak sempoyongan. Tak lama mereka sampai di depan pintu kamar Brian, Sabrina segera membuka pintu.
Brian menjatuhkan dirinya di ranjang, ia mulai tak sadarkan diri, Sabrina kemudian membuka sepatu Brian dan membuka kancing jas Brian satu persatu, ia tak bisa mengalihkan matanya dari wajah Brian.
"Tampan sekali" ia menyentuh wajah Brian, ia membuka dasi Brian dan melemparnya ke bawah. Tangannya kini menyentuh kancing kemeja Brian, ia menyusurinya satu persatu.
Gedebuuuuukkkk
Sabrina terjatuh ke lantai, Brian tiba-tiba mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Aw sakit" Sabrina mengusap punggungnya.
"Bi Inah keluar sana! keluar!!" Brian berteriak dengan mata yang tertutup.
"Apa dia mengigau? Bi Inah? dia menganggapku pembantunya!!" Sabrina kemudian berdiri dan duduk di samping Brian, ia ingin melanjutkan kembali aksinya.
Duuukkkk
Brian menendang Sabrina tetapi kali ini Sabrina tidak terjatuh, Brian kemudian menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, yang terlihat hanya wajahnya saja.
__ADS_1
"Dia ini!! Bahkan dalam keadaan begini pun masih tidak bisa ku sentuh" Sabrina berusaha menarik selimut Brian tetapi Brian memeluk selimutnya kuat.
"Aku rasa ini tidak akan berhasil, kau menyebalkan sekali!" Sabrina menghela nafasnya, ia mengambil ponsel miliknya, ia memotret Brian yang sedang tidur dan mengirim fotonya pada seseorang.