
Setelah malam panas mereka berdua lewati, menjadikan sekujur tubuh Maudy seperti patah semua, pagi ini ia bangun dengan langkah yang tertatih-tatih Karena menahan rasa sakit tepat di bagian intinya.
“Mau Mas Gendong lagi ?” tanya Rian.
Maudy mendelik kesal ke arah sang suami “Tau Ah, gara-gara Mas aku jadi sakit semua” ucap Maudy kesal.
Rian justru tergelak.
“Loh kok nyalahin Mas sih, kan Adek yang minta semalam, Mas kan ngajakin tidur tapi adek yang bilang gini, 'Mas aku mau memberikan hak mu sebagai suami'” ucap Rian sembari memperagakan cara Maudy bicara semalam.
“Iiiiihh” Maudy mencubit lengan Rian bertubi-tubi. “Kan aku udah bilang jangan di bahas lagi ! Mas sengaja ya mau bikin aku malu terus” ujar Maudy tak henti-hentinya memberikan serangan kepada sang suami.
“Adoooww, Ampun dek” Rian berlari untuk menghindari cubitan dari sang istri “Masa Baru sehari nikah udah melakukan KDRT sih dek” gerutu Rian sembari meniup lengan nya yang sudah berwarna merah karena cubitan dari Maudy. Sakit dan Panas rasanya.
“Biarin !”
“Mas bikin sakit lagi baru tau rasa kau Dek” Balas Rian.
Dengan cepat Maudy memakai pakaian nya lalu segera turun kebawa, dengan kepala yang masih mengenakan handuk untuk menggulung rambutnya.
Penampilan Maudy di pagi ini justru memancing tawa semua orang yang berada di sana, hingga Maudy baru sadar kalau rambutnya belum di sisir akibat menghindari serangan sang suami.
“Ciee, yang baru selesai ehem-ehem semalam” Seloroh Tante Ratna adik dari Mama nya Maudy.
“Iya seger bener wajahnya, Sampai berseri-seri gitu” timpal yang lainnya.
Blass.
Wajah Maudy langsung bersemu merah, sekarang ia terjebak dengan keadaan, mau kembali ke kamar takut Rian benar-benar akan menghabisi nya, akan tetapi jika tetap disini semua keluarga akan mengejeknya.
Bo doh.
Hanya kata itu yang terucap dari hati Maudy, andai saja tadi dia menyisir rambut dahulu, atau setidaknya jangan berpenampilan seperti ini, mungkin saja semua orang tidak akan mengejeknya.
“Sayang aku mau makan” Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di bahunya, membuat Maudy sedikit lega karena sang suami sudah menyusul ke sini.
“Sarapan dulu Nak Rian, ini sudah Mama siapkan !” ujar Melda kepada sang menantu.
__ADS_1
“Wah Mama mertua memang terbaik, tau bener kalau menantunya sudah lapar” jawab Rian dengan ekspresi menggoda, lalu mengerlingkan sebelah mata ke Sang istri.
“Iya dong, kamu kan menantu Mama satu-satunya” balas Melda lagi.
“Lah aku gak di ajak Ma ?” tanya Maudy yang mengikuti langkah sang suami menuju meja makan
“Ya kan bisa jalan sendiri” jawab Melda.
Maudy memberengut kesal, lalu memandang kearah Rian yang sudah mengu Lum senyum.
“Mau sarapan apa Nak ?” Melda kembali bertanya
“Apa aja Ma, Rian udah laper banget soalnya semalam tenaga Rian habis karena nurutin keinginan Anak Mama”
Buuuuurrr.
Minuman yang barusan Maudy teguk langsung keluar begitu saja, menyembur tak tentu arah hingga membuat Melda melotot melihat tingkah anaknya.
“Enak aja, engga ya Ma” sahut Maudy.
“Mama tidak usah tau, cukup ini jadi rahasia kita ya kan sayang" Balas Rian kemudian.
--------------
Tepat pukul 10 pagi acara resepsi hampir di laksanakan, Rian dan Maudy sudah di hias kembali dan memakai pakaian yang tampak begitu mewah.
Lagi-lagi Rian berdecak kagum melihat penampilan istrinya, Maudy selalu tampil mempesona hingga membuat Rian jatuh cinta selalu.
“Silahkan sudah boleh ke atas pelaminan” ucap seseorang yang di tugaskan oleh keluarga Abraham untuk memandu acara resepsi supaya berjalan lancar.
“Ayo dek”ajak Rian.
Maudy melingkarkan tangan nya di lengan sang suami, dan salah-satu tangannya membawa bujet bunga.
Di atas karpet merah yang di bebtangkan sampai ke atas pelaminan, kedua nya berjalan dengan pelan sambil mengiringi alunan musik yang begitu merdu.
Senyum kebahagiaan tak pernah luput di wajah keduanya, ketika ribuan kamera mengambil gambar mereka berdua.
__ADS_1
Di seberang sana jika semua orang sedang mengarahkan kamera ponselnya, wanita itu hanya memandang kedua pengantin dengan mata berkaca-kaca, bukan air mata sedih hanya saja semua yang ada di depan nya menjawab semua nya. Kalau ia dan laki-laki yang tengah berjalan di karpet merah itu sudah bukan siapa-siapa lagi.
“Terima kasih pernah hadir di dalam hidupku Mas” Batin Dewi dalam hati.
Sesekali ia menyusut air matanya dengan cepat agar tidak ada seorang pun tahu kalau ia sedang menangis.
“Gak nyangka banget ya kalau kehidupan kita berubah seperti ini, dulu kamu adalah adik ipar nya Alya namun sekarang dialah yang menjadi adik ipar sahabat kita itu” ucap Fina sambil menunjuk Alya dan Maudy secara bergantian.
Dewi hanya menanggapi dengan senyuman, tak ingin menjawab apa-apa.
Karena Dewi datang seorang diri, soalnya sang suami baru akan tiba nanti soreh, harus terpaksa menguatkan diri karena sandaran nya sedang dalam perjalanan, mungkin jika Afnan ada di sisi nya saat ini, rasa sedih itu tidak akan terlalu besar.
“Sabar ya Wi, mungkin ini adalah tadkir kamu dan Rian" Fina kembali berbicara walaupun tak ada jawaban dari Dewi.
Para tamu di persilahkan duduk di kursi yang telah di sediakan karena acara akan segera di mulai, mereka semua mendengarkan pembawa acara membacakan susunan acara resepsi pernikahan Rian dan Maudy.
Tes------
Lagi-lagi Air mata Dewi kembali menetes bayangan tentang masalalu nya kembali terngiang, dulu ia yang menjadi sorotan kamera saat acara resepsi pernikahan nya bersama Rian..
Namun sekarang dirinya hanya sebagai tamu yang kecil, tak ada disini yang bertanya tentang dirinya.
“*Kalau kamu gak kuat mending gak usah dateng”
“Apalagi Afnan juga tidak bisa menemani”
“Mama hanya takut hati kamu menjadi rapuh kembali melihat acara itu”.
“Karena walau bagaimanapun Kamu dan Rian pernah menjalin kasih walau itu hanya sebentar*”
Serentetan kalimat Mama kembali terngiang, ketika hendak berpamitan kepada Mama kalau dia akan datang keacara resepsi pernikahan Rian dan Maudy.
Mama sudah mewanti-wanti tentang perasaan nya, namun Dewi tetap keras kepala agar datang ke acara resepsi dengan alasan “Aku ingin menunjukan kalau aku sudah melupakan masa lalu kami Ma”
Namun benar kata Mama, melihat Rian dan Maudy sedang duduk di atas pelaminan membuat hatinya kembali rapuh, sakit yang tertahan dan sangat sulit untuk di jelaskan.
“Semoga bahagia Mas, aku harap Mas tidak akan melakukan kesalahan lagi seperti dulu” Batin Dewi
__ADS_1