Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 31


__ADS_3

Afnan memeluk istrinya dengan erat, sesekali ia menyusut air matanya agar tak terlihat oleh Dewi, cukup pandai ia menyimpan dan menyembunyikan luka.


“Maaf Mas !” Dewi masih saja terisak.


Afnan menganggukkan kepalanya di bahu istrinya, kemudian melepaskan pelukannya, Afnan menangkup kedua pipi istrinya dan menghapus air mata yang masih mentes.


“Sudah jangan menangis lagi, Nanti cantiknya hilang” seloroh Afnan sembari terkekeh.


Pukulan lembut Dewi berikan di lengan sang suami “Apa sih Mas” ucap Dewi tapi tetap saja ia tertawa.


“Ya sudah ayo masuk, di luar dingin, kasian Alwi nanti bangun kita gak ada di kamar” ujar Afnan lagi.


“Lagian Mas juga ngapain pakai keluar segala” balas Dewi.


“Loh kok nyalahin Mas sih”


Namun Dewi tak lagi menjawab, ia langsung menarik tangan suaminya untuk masuk kedalam, akan tetapi saat menaiki anak tangga justru Afnan menggendong Dewi hingga membuat Dewi terlonjak kaget.


“Aaahhh, Mas kamu ngapain” pekik Dewi tertahan, dengan cepat Dewi menutup mulutnya.


“Diam Sayang, nanti kedengaran Papa dan Mama” ujar Afnan.


“Tapi turunin aku Mas !”


“Gak mau ! Nanti saja kalau sudah sampai di kamar” bisik Afnan di telinga istrinya.


Dewi mengalungkan kedua tanga nya di leher sang suami, nafas Afnan terlihat sangat tenang walau menggendongnya sambil menaiki anak tangga, mata Dewi memandang wajah tampan suaminya dengan lekat.


“*I*nikah laki-laki yang selalu aku sakiti selama ini ? inikah laki-laki yang selalu mencintaiku dengan tulus, memberikan seluruh kasih sayangnya kepadaku”


“Ya Allah betapa berdosa nya aku, yang selama ini tidak pernah mencintai Mas Afnan yang begitu tulus mencintaiku, maafkan aku Mas”


“Tapi aku janji akan memberikan seluruh cinta ini kepada Mas, melabuhkan hatiku untuk yang terakhir kepada Mas*”


Tidak berapa lama mereka sudah sampai di dalam kamar, saking fokusnya menatap sang suami Dewi sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di kamar.


Cup.


Afnan mengecup bibir istrinya sekilas, hingga membuat Dewi kaget.


“Loh udah di kamar ternyata" ucap Dewi sambil terkekeh.


“Ngelamun aja kerjaan nya Dek” balas Afnan.


Afnan menurun kan istrinya dengan pelan, hingga kedua langka kaki Dewi menyentuh lantai yang terasa dingin, karena ia tak mengenakan alas kaki.


“Cuci kaki dulu, baru tidur” titah Afnan.


“Iya Sayang”

__ADS_1


Cup.


Dewi membalas mengecup bibir suaminya “Hadia karena udah di gendong sampai kamar” seloroh Dewi sambil mengerling kan matanya.


“Mulai nakal ya” balas Afnan sambil terkekeh.


Tapi Dewi tak lagi mendengar ucapan Afnan karena dia sudah berada di dalam kamar mandi, Afnan memegang bibirnya lalu tersenyum dengan perasaan bahagia.


“Semoga selalu begini Sayang !” doa Afnan dalam hati.


Setelah istrinya selesai bersih-bersih Afnan ke kamar mandi, ia mengambil air wudhu karena ingin mengaji, matanya belum mengantuk sama sekali.


“Mas belum tidur ?” tanya Dewi saat melihat suamunya mengambil Al-Qur'an di atas lemari kecil.


“Mas belum ngantuk dek, mas mengaji dulu, kamu tidur aja duluan”


“Baiklah, aku tidur duluan ya Mas, selamat malam”


“Selamat malam juga bidadari surgaku"


Afnan mulai mengaji, hingga sampai 1 jam.


Tak terasa sudah 1 jam berlalu, mata Afnan mulai menyipit karena mengantuk, setelah mengakhiri bacaan nya ia kembali meletakkan Al-Qur'an di tempat semula, lalu ikut tertidur di samping istrinya.


-


-


“Silahkan duduk Mas Rian” ucap Afnan dengan ramah.


“Terima kasih” balas Rian.


Rian dan Maudy duduk sambil menunggu Dewi membawa Alwi, sementara kedua orang tua Dewi sedang jalan-jalan pagi.


“Hai sayang” sapa Maudy saat melihat Alwi di gandeng oleh Dewi


“Salim dulu Nak sama Mama Maudy !” titah Dewi dengan lembut


“Kenapa Alwi harus memanggilnya Mama ? kan dia bukan Mama Alwi” ucap Alwi bingung.


Dewi memandang Rian dan Maudy dengan tersenyum kecut, merasa tidak enak dengan Mereka berdua.


Dewi berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Alwi.


“Kan semalam Bunda udah bilang sama Alwi, kalau Ayah kandung Alwi adalah Papa Rian” kata Dewi lagi.


“Nah ini orangnya, dia adalah Papanya Alwi” sahut Afnan.


Rian tersenyum menatap Alwi namun berbeda dengan Alwi ia malah menatap Rian dengan tajam, lalu beralih menatap Afnan.

__ADS_1


“Bukan” Hardik Alwi dengan tegas


“Dia bukan Papa ku, aku gak kenal sama dia" ucap Alwi lagi.


Deegg.


Mata Rian langsung memanas, bendungan air mata sudah terbentuk di pelupuk matanya.


Alwi langsung berlari meninggalkan ruang keluarga, masuk kedalam kamarnya dengan marah.


“Biar saya yang membujuk Alwi" ucap Afnan


“Kalau dia belum mau jangan di paksa Mas Afnan, karena akan membuat Alwi bersedih, saya bisa mengerti dengan kondisi Alwi, tidak mudah bagi Alwi menerima kenyataan ini” balas Rian


Lagi dan lagi Dewi merasa bersalah dengan semua ini.


Seandainya ia dulu tak merahasiakan tentang Alwi, mungkin semua nya tidak akan terjadi.


Seandainya ia dulu tak memilih pergi dari hidup Rian dan memilih bertahan Alwi tidak akan menjadi korban.


Seandainya dan seandainya !!


Dewi hanya menunduk, setetes air mata sudah mulai mengalir, dengan gerakan cepat Dewi menghapusnya menggunakan ujung hijab yang ia kenakan.


Suasana mendadak hening, apalagi saat Afnan sudah pergi ke kamar Alwi tanpa mendengarkan ucapan Rian, Dewi tidak tau apa yang mesti ia katakan.


“Maaf mas Rian” akhirnya kata itu lolos juga setelah memendamnya selama ini. Banyak sekali salah Dewi pertama ia merahasiakan tentang Alwi kedua ia selalu menyakiti Afnan karena tidak bisa mencintainya.


“Tidak usah meminta maaf, aku mengerti kenapa kamu melakukan ini” balas Rian.


Maudy memegang tangan suaminya, memberikan kekuatan supaya suaminya bisa tegar untuk menghadapi semua ini.


Rian menatap istrinya dengan tersenyum.


-


-


Sementara di dalam kamar, Afnan sedang duduk berhadapan dengan Alwi di atas kasur.


“Dia bukan Papa ku kan Bi” tanya Alwi kepada Afnan.


“Papa ku hanya satu yaitu Abi” ucap Alwi lagi.


Afnan mengelus puncak kepala Alwi.


“Dia Papa kandungnya Alwi, sampai kapanpun dia akan tetap jadi Papa kandungnya Alwi, selama ini kan Abi sudah mengajarkan untuk selalu hormat kepada orang tua, jadi Alwi harus melakukan itu sama Papa Rian” jelas Afnan dengan lembut.


“Mungkin saat ini Alwi masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini, nanti kalau Alwi sudah dewasa Alwi akan mengerti, Papa Rian sangat ingin mendengar Alwi memanggilnya dengan sebutan Papa” ucap Afnan lagi.

__ADS_1


Alwi memandang wajah Afnan dengan seksama.


“Tidak dia bukan Papaku, dia Om dokter bukan Papa” Alwi kembali membentak.


__ADS_2