
Matahari bersinar cerah hari ini, hari minggu yang tadinya akan di habiskan untuk berjalan-jalan di pantai berubah menjadi harus beristirahat di ruang perawatan. Tubuh Brian tak seperti biasanya, ia lemah dan demam, tubuhnya mengigil dan kepalanya terasa pusing.
Nafiza sedang menyuapi suaminya yang sedari tadi merengek karena makanan yang di makannya terasa hambar dan tidak enak. Dengan segala bujuk rayunya Nafiza masih berusaha agar suaminya tersebut menghabiskan makanannya meskipun terus mendumel.
"Ayo dikit lagi ya, habiskan dulu Brian" dua suapan terakhir, Nafiza sudah mendekatkan sendok berisi makanan di depan mulut Brian.
"Aku kenyang Nafiza, rasanya juga dingin. Uwek"
"Kan supaya cepat sembuh, dua lagi saja. Aaaaaa" Nafiza menyuruh Brian membuka mulutnya. Brian tidak bisa menolaknya jika Nafiza yang memintanya meskipun ia tidak suka.
kryuuuukkkk
Tiba-tiba suara perut Nafiza terdengar cukup keras.
"Kamu sedari tadi merawatku tetapi kamu sendiri dari pagi belum makan" ucap Brian.
"Aku tidak lapar" Nafiza meletakkan kembali sendok yang di pegangnya ke dalam piring.
"Tidak lapar bagaimana, cacing di perutmu meronta-ronta meminta makan"
"Aku tidak cacingan!!" mata Nafiza melihat Brian tajam.
"Haha iya istri kecilku ini tidak cacingan, yang kelaparan adalah benar-benar perutnya. Telepon Troy suruh dia membeli makanan sebelum ke ruangan ini" perintah Brian.
"Iya, kamu tidak usah memikirkanku. Yang sedang sakit kan kamu" Nafiza meletakkan nampan sisa makanan Brian di atas meja. Ia kemudian memegang tangan Brian dan mengelusnya. "Jangan terlalu lama sakitnya Brian, aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku sedih melihatmu pucat pasi seperti ini" Brian menatap Nafiza nanar.
"Aku baik-baik saja kok, ini hanya penyakit ringan. Apalagi ada kamu yang merawatku aku mungkin hanya membutuhkan 1 detik untuk sembuh" Brian mengusap pipi Nafiza perlahan, mata mereka bertemu dan saling melempar senyuman.
"Meskipun sakit kamu tetap bisa menggombal"
"Aku tidak menggombal, ini kenyataan. Tuh lihat ini aku sudah bertenaga" Brian memperlihatkan otot tangannya, karena terlalu banyak bergerak darahnya bercampur dengan cairan infus.
"Brian sudah diam, darahnya jadi naik" Nafiza menghentikan gerakan Brian dan mendorong bahunya agar Brian tertidur. "Beristirahatlah dengan damai"
"Kata-katamu seperti ucapan kepada orang yang sudah mati"
"Haha aku bercanda. Tidurlah" Nafiza menyelimuti Brian, ia mulai memejamkan matanya.
Melihat Brian yang sudah tertidur pulas, mungkin karena efek obat akhirnya Nafiza memilih untuk keluar. Ia ingin membeli beberapa snack dan makanan untuk mengisi perutnya.
Baru saja Nafiza membuka pintu ia berpapasan dengan Troy yang akan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Eh nona mau pergi ke mana?" tanyanya.
"Aku akan pergi ke kantin, kak Troy aku menitip Brian ya. Aku hanya pergi sebentar" pamitnya pergi.
"Baik nona" Troy berjalan masuk ke dalam, ia memilih duduk di kursi samping ranjang Brian. Troy duduk sambil menyilangkan tangannya melihat Brian yang tertidur pulas.
"Nafiza kepalaku pusing tolong pijat keningku" ucap Brian tiba-tiba, ia berbicara dengan mata terpejam.
Troy sedikit bimbang mendengar permintaan Brian, ia ingin menjawabnya mengatakan Nafiza tidak ada tetapi melihat Brian yang lemah dan keringat mengucur di dahinya ia menjadi tidak tega.
"Cepat Nafiza pijat lagi keningku seperti tadi" pinta Brian lagi. Troy mulai menjulurkan tangannya menyentuh kening Brian tetapi di urungkannya. Lalu ia berfikir dan mulai mengulurkannya lagi. Akhirnya tangannya menyentuh kulit kening Brian, perlahan ia mulai memijatnya.
"Iya di situ rasanya enakan Nafiza" ucap Brian belum membuka matanya. "Sedikit lebih kencang lagi pijatnya" Troy menambah sedikit tenaganya.
"Kamu jago memijatnya sangat pas sebentar lagi aku pasti sembuh" puji Brian setelah agak lama Troy melakukannya. Entah kenapa Troy merasa perutnya tergelitik geli ingin tertawa tetapi ia menahannya. Tangan yang satunya ia pakai menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tawa. (Kalau bahasa gaul jaman now Troy di sebut sekretaris lucknut karena ngerjain bosnya ππ)
Brian sedang menikmati pijatan Nafiza KW alias Troy, ia akhirnya memegang tangan Troy menariknya dan menaruhnya di pipinya.
"Kenapa tanganmu besar dan agak sedikit kasar" gumam Brian pelan, ia mengusel-ngusel tangan Troy pada pipinya. Semakin lama semakin asing rasanya, Brian kemudian membuka matanya, ia memandang tangan yang di pegangnya dan melihat Troy di dekat wajahnya.
"Astaga Dragon!!" Brian terkejut dan melempar tangan Troy.
Troy langsung membungkukan badannya dan meminta maaf.
Brian memegang dadanya hampir jantungan.
"Troy apa yang kamu lakukan? dari tadi kamu yang memijat keningku? Nafiza kemana?"
"Iya tuan tadinya saya akan mengatakan Nona Nafiza tidak ada tetapi melihat tuan memelas memintanya saya jadi tidak tega"
"Aku memelas pada Nafiza bukan padamu Troy. Ya ampun" Brian menghela nafasnya panjang. "Aku masih normal Troy"
"Saya juga masih normal tuan" jawabnya polos.
"Hadeeehhh" Brian sedikit kesal ia menepuk-nepuk dadanya mengingat betapa tadi ia menikmatinya mengusel-ngusel tangan Troy di pipinya.
Tak lama kemudian Nafiza asli masuk ke dalam ruangan Brian.
"Kamu sudah bangun? sebentar sekali tidurnya" Nafiza datang dengan menenteng plastik berisi makanan. Troy mengambilnya dan meletakkannya di meja.
"Iya, kepalaku pusing jadi tidak bisa tidur"
__ADS_1
"Sini aku pijat" Nafiza menghampiri Brian dan bergerak menyentuh keningnya. Tetapi tangan Brian menghentikannya.
"Ini benar-benar kamu kan? aku tidak sedang mengigau karena sakit"
"Tentu saja, memangnya siapa yang mau memijatmu selain aku" Brian melirik pada Troy.
Troy mengedarkan pandangannya ke atas dan ke bawah, ia tahu Brian menunjuknya dengan matanya.
"Saat aku pergi apa yang terjadi?" tanya Nafiza mulai curiga.
"Tidak ada, jangan pergi kemana-mana lagi Nafiza tetaplah di sampingku" manjanya datang kembali.
"Iya tadi aku hanya pergi ke kantin membeli makanan, mana yang terasa pusing yang ini?" tunjuk Nafiza pada kening Brian sebelah kanan, Brian mengangguk dan memasang raut wajah seperti anak kecil. Nafiza mulai memijat-mijat keningnya.
Troy akhirnya duduk dan memilih memainkan ponselnya dari pada melihat kemesraan kedua majikannya.
Author : "Troy"
Troy : "Hemmmm"
Author : "Mau di temenin enggak?"
Troy : "Ga usah, author konsentrasi aja nulis pikirin nanti bikin kisah manis buat saya"
Author : "Huhu author di tolak?"
Troy : "Haha kemarin aja author di suruh nemenin ga mau"
Author : "Maaf"
Troy : "Penyesalan tiada guna thor"
Author : π²
Maaf ya author ga jelas hehe
Tadinya author mau libur soalnya hari ini author lelah sekali tetapi ada reader yang minta up
Tetiba semangat author jadi membara π
Meskipun cuma sedikit semoga bisa menghibur ya
__ADS_1
Jangan lupa bahagia untuk semua author dan readers
love love love love love