Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Jet Pribadi


__ADS_3

Brian telah sampai di sebuah gedung tempat ia akan rapat dengan rekan bisnisnya, ia sudah terlambat menghadiri rapatnya. Segera Brian masuk ke dalam ruangan, Troy mengetuk pintu dan membukakanya untuk Brian, terlihat rekan bisnis dan beberapa tamu undangan yang telah hadir hanya Brian yang baru datang.


"Mohon maaf kami terlambat hadir" Troy menundukan kepalanya memberi hormat.


"Wah sepupuku ini tumben sekali terlambat menghadiri rapat" sapa seseorang, Brian menatapnya malas.


"Maaf tadi aku ada urusan pribadi"


"Baiklah kita akan melanjutkan rapatnya" ucap moderator rapat, rapat pun kembali di lanjutkan.


Sebenarnya rapat ini diadakan untuk memilih perusahaan kontruksi yang akan mendapatkan proyek besar membangun sebuah apartemen berkelas di Italia. Ada 3 kandidat Perusahaan kontruksi terbaik yang akan bersaing untuk mendapatkan proyek tersebut salah satunya adalah perusahaan Brian. Masing-masing perusahaan memberikan gambaran arsitektur apartemen yang akan di bangunnya.


Tibalah saat pengambilan keputusan yang akan di berikan oleh pemilik gedung, Brian merasa gugup. Salah satu saingan Brian adalah sepupunya tadi.


"Saya sudah melihat beberapa gambaran apartemen yang akan di bangun, saya menyukai ketiganya akan tetapi saya hanya bisa memilih salah satu saja dan saya akan memberikan proyek kontruksi ini pada pak Brian" ucap pemilik apartemen. Brian menarik nafasnya lega, ia bisa memenangkan proyek besar. Beberapa tepuk tangan riuh memberikan selamat pada Brian.


Setelah meneken kontrak kerjasama rapat pun usai, semua anggota rapat berjalan keluar termasuk Brian. Tetapi seseorang merangkul bahunya.


"Hei Brian kenapa kamu begitu acuh padaku? apa kamu tidak ingin menyapa kakak sepupumu ini? mentang-mentang sudah mendapat proyek besar" sindirnya.


"Hentikan Acsa, aku tidak ingin berdebat" tegas Brian.


"Aku tidak ingin berdebat, aku hanya ingin menyapamu. Kamu dari dulu tidak berubah masih sombong kepadaku, apa kamu belum bisa melupakan kejadian antara aku kamu dan Reyna? Uupsss" Acsa seolah-olah menutup mulutnya.


"Aku tidak mau berbicara denganmu" balas Brian sambil terus berjalan.


"Oia Reyna kan sudah menjadi istriku dan kamu juga sudah menikah. Mana mungkin kalian masih saling mengingat, tapi aku dengar istrimu masih sangat muda dan masih sekolah. Kenalkanlah padaku nanti di Indonesia, aku akan membelikan mainan untuk istrimu. Bukankah anak kecil suka dengan mainan? jaga baik-baik istri kecilmu itu" Acsa berjalan meninggalkan Brian dan Brian menahan emosinya ia mengepalkan tangannya erat.


Acsa adalah sepupu Brian, ada sebuah kejadian yang membuat mereka tidak akur, salah satunya berhubungan dengan wanita yang bernama Reyna.


***


Di tempat lain, Nafiza seharian ini hanya menonton TV di dalam kamar hotel. Sesekali ia melirik ke arah jam dinding, hari ini ia sudah memesan makanan beberapa kali untuk di antar ke kamarnya, juga ia sudah naik turun lift pergi ke minimarket samping hotel hanya untuk membeli beberapa cemilan. Rasanya menunggu Brian lama, kamar hotel pun sudah mulai berantakan ada beberapa sisa makanan berserakan dan beberapa sampah bungkus plastik sisa cemilan.


Ceklek


Suara pintu kamar di buka, Nafiza meliriknya. Benar saja Brian yang sudah pulang bersama Troy.


"Ya ampun Nafiza kenapa kamar ini berantakan sekali" Brian terkejut memelihat kamar hotel yang kotor.


"Hehe maaf aku tadi bosan sekali jadinya aku tidak bisa berhenti makan dan tanpa sadar aku membuang sampahnya sembarang. Aku bersihkan ya" Nafiza bangun ia mulai mengambili beberapa sampah yang berserakan.


"Sisanya nanti saja di bersihkan oleh petugas hotel, kamu bersiaplah kita akan ke Venice"


"Sekarang?"


"Iya, cepat kemasi pakaianmu" Nafiza melompat kegirangan dan segera merapikan beberapa pakaiannya dan pakaian Brian di lemari dan memasukkannya ke koper.


"Kenapa mendadak sekali?"

__ADS_1


"Surprise" jawab Brian singkat. Tak butuh lama untuk membereskan bebawaannya, akhirnya Nafiza, Brian dan Troy pergi ke bandara.


***


Nafiza terkesima di depannya ada sebuah pesawat jet pribadi yang di pesan Brian untuk membawanya ke Vanice. Mereka mulai masuk ke dalam pesawat, ruangannya mewah, ia jadi memikirkan seberapa kayanya Brian.



"Biasanya kamu sangat sederhana, kenapa sampai memesan pesawat seperti ini? orang tuaku saja belum pernah mengajakku naik jet pribadi" ucap Nafiza masih melirik ke semua isi ruangan pesawat.


"Aku berhasil memenangkan proyek pembangun apartemen di Italia"


"Waaaahhh selamat ya" Nafiza merangkul tangan Brian.


"Ini semua juga berkat kamu"


"Aku tidak melakukan apapun untukmu Brian"


"Kamu selalu membuatku bahagia itu saja sudah cukup Nafiza, aku jadi bisa berfikir dengan tenang menghadapi situasi apa pun. Ikut aku kemari" Ajak Brian berjalan menyusuri pesawat. "Tadaaaaaaaa"


Sebuah ruangan kamar di dalam pesawat, Nafiza kembali terpesona. Ia duduk di samping ranjang.



"Harga sewa pesawat ini pasti mahal sekali, lain kali berhematlah Brian" Suaminya itu hanya terkekeh mendengar ucapan Nafiza.


"Suka"


"Tapi seperti katamu pesawat ini mahal begitupun dengan fasilitasnya, sayang sekali kalau kita tidak menggunakannya" Brian menarik Nafiza ke ranjang dan memeluknya, posisinya kini Nafiza berada di atas tubuh Brian.


"Jangan sekarang Brian, pesawat ini akan cepat terbang" Nafiza memandang ke bawah pada wajah Brian.


"Terbangnya pesawat ini tidak akan terasa Nafiza" Brian menarik tengkuk leher Nafiza mengecup bibirnya.


"Tapi"


"Tidak ada tapi-tapi" Brian kembali mencium bibir Nafiza menuntutnya lebih dalam, Brian memutar posisinya kini berada di atas, ciuman itu masih berlanjut dan berakhir dengan tertanggalnya pakaian mereka.


Author : "Brian lagi membara-membaranya" 🀣🀣


Brian : "Sssstttttt"


Sedangkan di ruangan lain pesawat ada Troy yang hanya duduk di kursi paling pojok dan paling belakang sambil memandang ke luar jendela.


"Hadeh tuan sampai lupa menutup pintu kamar segala" ia memilih berjaga-jaga agar tidak ada pramugari yang masuk ke sana.


***


Nafiza merapikan pakaian dan menyisir rambutnya dengan tangan, ia menghampiri Brian yang duduk di kursi di depan TV dan melirik pada Troy yang duduk sendirian di pojok.

__ADS_1


"Berapa jam lagi kita sampai ke Vanice kak Troy?"


"Mungkin sekitar satu jam lagi nona" jawabnya pertanyaan tadi membuyarkan lamunannya.


"Sejak kapan kamu memanggilnya kak?"


"Barusan tadi"


"Kenapa kamu memanggilnya kak sedangkan aku kamu panggil nama?" Brian merangkul bahu Nafiza yang duduk di sampingnya.


"Aku hanya menghormatinya karena dia kan lebih tua dari pada aku"


"Aku ini suamimu kamu harusnya lebih menghormatiku"


"Iya aku tahu, kamu mau di panggil apa?" Nafiza memandang Brian yang merajuk.


"Panggil aku Mas"


"Hmmmfffttt Hahaha, aku geli jangan memanggilmu mas"


"Kalau begitu Oppa"


"Memangnya kamu orang Korea?" (Padahal cast nya Brian orang Korea πŸ˜„) Nafiza masih tertawa.


"Biarkan aku yang menentukan, Hmmmm aku akan memanggilmu Sayang" di pandangnya Brian dengan lekat.


"Sayang? kalau begitu baiklah. Aku juga akan memanggilmu sayang" Brian memeluk Nafiza.


Sedangkan yang di pojokan sana masih terdiam hanya bisa mendengarkan kemesraan kedua majikannya.


"Cepatlah beri aku jodoh Ya Tuhan"


***


Hai semua


Author ingin berterima kasih untuk semua Readers yang sudah lama membaca maupun yang baru membaca


Author sangat senang dari kemarin Popularitas Novel ini meningkat sangat drastis


Tanpa Readers semuanya apalah arti tulisan author hehe


Oia beberapa sudah bertanya tentang cast Nafiza. Jujur author masih bingung menentukan cast yang cocok mangkanya sampai sekarang belum up visual Nafiza


Mohon tunggu ya Author akan memikirnya 😁


Sekali lagi Terima Kasih Banyak ya


BIG LOVE FOR YOU πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2