Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Ingin Sendiri


__ADS_3

Nafiza mengusap air matanya, semua orang di sekitarnya memperhatikannya, akhirnya ia mengangkat kepala  kemudian ia melihat sekelilingnya dan memutar tubuhnya.


"Ini dimana? ternyata aku sudah berjalan sejauh ini" ia melihat  sebuah halte bis, ia berjalan dan duduk di sana.


"Kakiku rasanya pegal" ia mengepalkan tangannya memukul kedua kakinya secara bergantian. Ini pertama kalinya ia berjalan cukup jauh, Nafiza menghela nafasnya, orang-orang yang berlalu lalang seakan tak ada baginya, beberapa bis berhenti di halte tersebut juga tak bisa mengganggu lamunannya, waktu berlalu seperti angin.


"Maaf, kamu tidak apa-apa?" seorang ibu menepuk bahu Nafiza memudarkan lamunannya.


"Em aku baik-baik saja" senyum palsu menyungging di bibirnya.


"Apa adik sedang ada masalah? ibu perhatikan dari tadi adik ini melamun, ponselmu juga dari tadi berbunyi tidak adik angkat" Nafiza kemudian menyadarinya, ia memutar ranselnya dan mengambil ponsel miliknya.


"Terima kasih bu sudah memberitahu" ucap Nafiza singkat, kemudian ia membuka kunci ponselnya terlihat 150 panggilan tidak terjawab, panggilan tersebut berasal dari Brian, No telepon rumahnya, papa, Tita dan Septa. semuanya mencari Nafiza, ponselnya kembali berbunyi dan panggilan tersebut dari Brian tetapi tak lama kemudian ponselnya bergetar tanda baterai habis dan layar ponsel tersebut berubah menjadi hitam.


"Haahhhh aku tak tahu harus berbuat apa" ia menutup wajahnya menundukkan kembali kepalanya, ia hanya tak ingin bertemu dengan siapapun.


Krriiiitttt


Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, seorang pria turun kemudian menghampirinya.


"Nafiza kamu dari mana saja? aku mencarimu kemana-mana" suara itu Septa, ia menekuk kedua kakinya dan memegang bahu Nafiza.

__ADS_1


"Septa? dari mana kamu tahu aku tidak pulang ke rumah dan ada di sini?" Nafiza bangun dari tempat duduknya.


"Aku tahu semua Nafiza, brian itu laki-laki brengsek! kamu terlalu baik untuknya, dia tidak pantas untuk kamu. Lebih baik kamu ikut aku sekarang ya" Septa memegang tangan Nafiza.


"Aku minta kamu tidak ikut campur masalahku dengan Brian Sep" Nafiza melepaskan tangan Septa.


"Fiz dia sudah berselingkuh dengan sekretarisnya, semua orang tahu berita itu, untuk apa kamu mempertahankan dia? kamu hanya akan terluka jika terus bersamanya" Nafiza hanya terdiam mendengar perkataan Septa. "Ayo kita ke tempatku Fiz, kamu bisa menenangkan diri di sana" ajak Septa menarik tangan Nafiza menuju ke mobilnya tetapi Nafiza menghentikan langkahnya.


"Maaf Sep meski begitu, aku tidak bisa ikut denganmu" Nafiza kembali melepaskan tangan Septa dan berlari menjauhinya.


"Nafiza!!" Septa hendak mengejar Nafiza.


TIN TIN


"Sial!!!" ia kemudian kembali ke mobilnya dan mengendarainya, ia mencari ke sekeliling tempat Nafiza berlari tapi ia tak bisa menemukan Nafiza.


***


Nafiza berlari dan memberhentikan taksi yang melintas di depannya, ia dengan segera menaikinya agar Septa tak bisa mengejarnya. Setelah beberapa saat, ia pun sampai pada tempat tujuannya. Hari itu cuaca berubah menjadi mendung, butiran air hujan mulai berjatuhan, Nafiza turun dari mobil tubuhnya basah, ia memandang rumah besar yang ada di hadapannya. Nafiza menekan bel yang berada dekat pintu pagar kemudian seseorang membuka pintu gerbang untuknya.


"Nona Nafiza" satpam yang menjaga rumah menyapa Nafiza sedikit terkejut. Satpam tersebut segera memayungi Nafiza.

__ADS_1


"Papa dan mama ada di rumah tidak pak Entis?" tanyanya sambil berjalan masuk.


"Tuan dan nyonya ada di dalam non" pak Entis membukakan pintu rumah untuk Nafiza, terlihat mama dan papa Nafiza menghampirinya.


"Darimana saja kamu nak? semua orang mengkhawatirkanmu" ucap papa Nafiza.


"Mengobrolnya nanti saja ya ma pa, aku mau mandi" 


"Setelah mandi, makan dulu ya Fiz" ajak mama.


"Aku mau langsung beristirahat ma" Nafiza berjalan meninggalkan mama papanya menuju kamar miliknya dulu sebelum menikah dengan Brian, ia langsung mengunci pintunya.


"Bagaimana ini pa?" mama Nafiza cemas melihat Nafiza.


"Beri Nafiza waktu untuk berfikir ma, berita itu pasti sangat melukainya" ucap papa menenangkan.


"Mama akan telepon Brian, dia pasti mengkhwatirkan Nafiza"


***


**Terima kasih untuk yang sudah menunggu dan membaca bab ini, sejujurnya author tidak percaya diri dengan tulisan author sendiri 😁

__ADS_1


Semoga berkenan di hati para pembaca


terus dukung author juga ya 💗💗**


__ADS_2