
2 hari kemudian, Alwi sudah mulai sembuh, setelah Rian mendonorkan darahnya, Alwi sadar tengah malam, dan Rian lah orang utama yang mengetahui kesadaran Alwi.
Namun siapa sangka, Alwi menyebutkan nama satu orang.
“Abi Mana ” begitu kata Alwi malam itu.
Afnan melirik kearah Rian, meminta maaf untuk semuanya, Rian pun berusaha mengerti ia bergeser dan membiarkan Afnan berdiri tepat di samping Alwi.
“Abi, aku haus” ucap Alwi.
“Sebentar Abi ambilkan”balas Afnan, lalu meraih satu gelas air putih yang ada di samping meja nakas.
Rian hanya bisa memandang dari kejauhan, tanpa bisa memeluk atau di minta bantuan oleh Anaknya, ia sadar mungkin Alwi tidak mengenalinya karena saat Alwi lahir kedua ini wajah Afnan lah yang ia lihat sampai Alwi tumbuh besar, sementara dengan Rian. Alwi tau ketika dirinya sudah besar jadi kecil kemungkinan jika Alwi akan memanggilnya Papa.
“Mas lagi ngapain” suara Maudy terdengar, memecahkan lamunan sesaatnya.
Rian menoleh kebelakang, kemudian tersenyum kearah Sang istri.
“Tidak ada Sayang, kenapa memangnya ?” Rian balik bertanya, jari telunjuknya menelusuri pipi mulus sang istri.
“Mikirin Alwi lagi ya Mas”
Rian mendesah panjang, memang setelah mengetahui kalau Alwi adalah anaknya, Rian selalu di landa gelisah, memikirkan tentang jalan kehidupan yang ia tempuh, terlalu rumit.
“Sabar Sayang, Aku yakin suatu hari nanti Alwi pasti akan mengetahui kalau Mas adalah Papanya, semua nya butuh proses, jangan terburu-buru, kasian juga Alwi, dia masih terlalu kecil” jelas Maudy.
“Iya Sayang, mas mengerti kok”
Rian melingkarkan kedua tangannya di pinggang, memeluk tubuh sang istri dengan erat.
“Mas lagi ingin Sayang, apa malam ini boleh ?” tanya Rian.
“Silahkan Sayang, aku selalu siap kok” jawab Maudy.
Dengan cepat Rian mengangkat tubuh sang istri, lalu menidurkan nya di atas ranjang, mencium kening Maudy dengan sangat dalam.
Rian menyatukan diri dengan sang istri, memberikan gerakan lembut di bibir istrinya, gelora panas mulai menguasai diri Maudy.
Hingga tak terasa kedua tubuh mereka sudah sama-sama polos, Tak ada satu helai benang pun yang menutupi diri mereka kecuali selimut tebal pastinya.
“Ah” ******* Maudy lolos seketika, saat sang suami memasukan benda tumpul miliknya.
Rian menggerakkan pinggangnya, sementara Maudy hanya bisa memejamkan matanya, sambil meremas seprai kasur dengan kuat.
__ADS_1
----------
Sementara itu, di dalam kamar Dewi, sejak Alwi pulang dari rumah sakit tadi soreh ia tak mau tidur sendiri, Alwi terus merengek untuk tidur bersama Dewi dan Afnan.
“Alwi Bunda mau ngomong sesuatu sama kamu nak, apa boleh ?” tanya Dewi sembari mengelus kepala putranya dengan lembut.
Posisi Alwi di tenga, sementara Afnan di sebelah kanan Alwi dan Dewi di sebelah kiri Alwi.
“Apa Bun ?” tanya Alwi penasaran.
Sejenak Dewi memandang sang suami, lalu di beri Anggukan oleh Afnan, tanda kalau Dewi bisa menjelaskan semuanya kepada Alwi mengenai Rian.
“Sebenarnya Ayah kandung Alwi bukan,.Abi Afnan, tapi Papa Rian yang Alwi panggil Om dokter” Dewi mulai bercerita.
Dengan kening mengkerut Alwi menatap sang Bunda “Maksud Bunda ?”
“Iya, Papa Kandung Alwi adalah om Dokter, dulu saat Bunda dan Papa Rian berpisah Bunda tidak tahu kalau Bunda sudah mengandung Alwi” jawab Dewi lagi.
“Om dokter yang waktu itu ?”
“Iya, yang memeriksa keadaan Alwi saat keracunan makanan waktu itu”.
Dan kali ini Afnan yang menatap Dewi dengan tajam, karena memang Dewi tidak pernah menceritakan tentang Alwi yang keracunan makanan.
Dewi langsung menutup mulutnya, sadar kalau dirinya sudah keceplosan.
“Alwi masih ingat Kan ?” tanya Dewi lagi, membiarkan Afnan terus menatapnya, bahkan Dewi tidak ingin menjawab pertanyaan sang suami.
“Jawab dulu, pertanyaan Mas ! kapan Alwi keracunan ?”tegas Afnan
“Waktu itu Mas” jawab Dewi gugup.
“Iya kapan ?”
“Waktu Mas di Turki”
“Astahhfirullah” Afnan mengusap wajahnya dengan kasar, menarik nafas panjang untuk meredahkan emosi nya yang mulai memuncak.
“Terus kamu tidak mengubungi Mas sama sekali, kamu anggap apa aku ini dek, Mas tau kalau Mas bukan ayah kandung Alwi tapi Mas yang membesarkan nya dari bayi”ucap Afnan
Dewi beralih duduk, dan menundukan kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca, sebentar lagi cairan bening itu akan meluncur dengan deras di pipi mulusnya.
“Maafkan aku Mas” ucap Dewi merasa bersalah.
__ADS_1
Namun Afnan terdiam, tak lagi menjawab ucapan sang istri. Ia malah fokus mengelus punggung Alwi agar Alwi segera tidur.
Mungkin karena efek obat, Alwi sudah tertidur dengan nyenyak.
Setelah Alwi tertidur, Afnan beranjak dan meninggalkan Dewi di kamar sendiri, tak sedikitpun ia menatap Dewi karena rasa marah dan kecewa masih bertakhta di dirinya.
Afnan berjalan menuju samping rumah, membuka pintu dengan pelan supaya tak mengganggu orang lain tidur.
Cahaya temaran di sana berhasil membuat Afnan sedikit merasa nyaman, setidaknya bisa sedikit melegakan emosi yang di rasa.
“Apa aku salah jika kecewa" batin Afnan.
Lalu mendudukan diri di kursi dan menatap langit yang gelap, hanya ada satu atau dua cahaya bintang, semilir angin malam memberikan efek dingin di badan Afnan, namun Afnan tak bergeming ia bahkan membiarkan Angin malam menembus tubuhnya.
Terkadang Afnan tersenyum kecut, sesakit inikah menikahi wanita yang masih mencintai laki-laki lain.
Bayangan tentang masalalu nya mulai terlintas, ketika ia dan Dewi kembali menikah setelah Alwi lahir, dengan sangat tegas Dewi menolak untuk tidur bersama di dalam kamar.
“Jangan tidur dengan ku, karena aku belum bisa mencintai kamu, kamu tau sendiri kan kalau kita di jodohkan"
Afnan hanya bisa menurut, memberikan ruang yang banyak kepada istrinya untuk membuka hati, namun waktu limah tahun lebih satu rumah dengan Dewi tak membuat Dewi mencintainya.
Hingga saat itu dengan jelas Afnan melihat Dewi menangis di hari pernikahan Rian mantan suaminya, sebenarnya Afnan juga merasa sakit karena melihat istrinya menangisi pria lain, ia seperti tidak di anggap sama sekali, tapi Afnan terus mencoba bersabar, menghilangkan rasa sakit yang terus mendera.
Hingga suara pintu terbuka membuat lamunan Afnan buyar di tambah dengan kemunculan Dewi yang langsung bersujud di kaki suaminya, Afnan terlonjak kaget melihat perlakuan istrinya.
“Maafkan aku Mas, Maaf karena selalu menyakiti kamu, bukan maksudnya menyembunyikan semua ini, tapi karena aku tidak ingin membuat Mas khawatir apalagi waktu itu Mas banyak sekali pekerjaan” Dewi terisak.
Afnan langsung mengangkat tubuh istrinya, ia tidak tega melihat wanita menangis seperti ini, karena selalu mengingatkan dirinya dengan almarhum sang ibu yang telah pergi meninggalkan nya.
“Mas tidak marah, mas hanya kecewa sayang”
-
-
-
LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA.
KASIH KOPI ATAU BUNGA YANG BANYAK SUPAYA ENAK BEGADANG ENTAR MALEM.
TAPI JANGAN LUPAKAN SAMA VOTE YA !
__ADS_1
UNTUK NOVEL RAJA BESOK PAGI UDAH UP NANTI MALAM MAU REVISI DULU, SILAHKAN TUNGGUIN.