Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 6


__ADS_3

Maudy..................


Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, Setelah siap dengan pakaian kerjanya ia belum juga turun kebawah untuk sarapan bersama, karena beberapa saat yang lalu sebuah pesan dari sang kekasih yang membuatnya menunggu.


//Jangan berangkat dulu ya sayang ! biar aku jemput, sekalian mau kenalan sama calon mertua.


Ia masih saja tersenyum sendiri demi mengingat pesan singkat tersebut. Semoga Papa dan Mama memberi mereka restu.


Dan tidak berapa lama ponselna kembali berbunyi.


//Aku udah di depan sayang.


Dengan cepat ia keluar kamar, lalu turun kebawah untuk menemui kekasihnya.


"Sarapan dulu nak !" ucap Mama ketika ia melintas di meja makan.


"Bentar ma" jawabnya sedikit berteriak karena saat ini ia sudah berada di ambang pintu menuju luar.


Ia kembali tersenyum melihat mobil Rian sudah berada di luar gerbang. Ia pun langsung mendekat dan--


Tok-tok-tok.


ia mengetok kaca mobil Rian, Hingga kaca mobil itu di buka dari dalam, menampakkan pria berwajah tampan yang sedang tersenyum kearah nya.


"Yuk" ajaknya dengan semangat.


"Kemana ?"


"Katanya mau ketemu Mama dan Papa"


Rian mengangguk, ia masuk duluan sementara Rian memasukan mobil kehalaman rumahnya karena takut mengganggu pengendara yang lain yang hendak lewat.


"Mama, Papa" ia berteriak padahal ia tahu kalau kedua orang tuanya sedang sarapan.


"Gak usa teriak-teriak ! gak enak tau gak Yang !" tegur Rian.


Setelah menunggu beberapa saat kedua orang tuanya langsung menuju ruang tamu dimana ia dan Rian sedang duduk sambil mengobrol.


"Eh pagi-pagi udah ada tamu" seloroh Mama


Ia menoelh dan tersenyum, sementara Rian bangkit dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Rian Om, Tante" begitu yang ia dengar saat Rian memperkenalkan dirinya.


"Kamu anak bungsu tuan Bayu Abraham bukan ?" tanya Papa.


"Betul Om, saya putra bungsunya"


"Ngapain kamu disini bukankah kamu sudah punya istri ?"


Deeeeeggggggg.

__ADS_1


Jantungnya berpacu dengan kuat mendengar pertanyaan sang Papa, ia tidak menyangka kalau Papa akan mengenali wajah Rian dengan cepat.


"Saya sama istri saya udah cerai Om" Rian kembali menjawab.


"Cerai ? Kapan ?" Tanya Papa lagi.


"Sekitar 5 tahun yang lalu"


"Jadi sekarang kamu duda ?"


Berulang kali ia menelan saliva, pertanyaan sang Papa tak pernah ia bayangkan semalam. Ia yang sudah menyusun rencana bagaimana memperkenalkan Rian dengan baik tapi justru Papa malah lebih dulu mengenalinya.


"Pa kok nanya gitu ?" ucap Mama merasa tak enak " Maaf ya nak Rian"


"Tidak apa-apa Tante".


Namun Papa malah tak mengiraukan ucapan Mama, justru kembali bertanya tanpa mempersilahkan Rian kembali duduk.


Suasana di ruang tamu menjadi sangat mencekam, telapak tangan nya sudah berkeringat dingin. Apalagi dengan raut wajah Papa yang tak bisa di artikan.


"Apa ini laki-laki yang akan kamu perkenalkan dengan Papa dan Mama ?" tanya Papa kearahnya


"Iya Pa, Mas Rian yang kemaren Maudy katakan"


"Apa kalian juga berencana mau menikah ?"


"I-Ya Pa"


"Maafkan Papa Maudy, Untuk yang ini Papa tak bisa merestui"


Duuuuuuaaaarrrrrrrrr.


Bagaikan tertampar ribuan tangan, sakit sekali rasanya. Mendengar kata yang barusan Papa ucapkan. Mendadak ia menjadi lemas dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya jika ia berkedip cairan bening itu akan meluncur dengan deras.


___________________________________


Rian.....


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan emosi yang memuncak dan rasa kecewa yang begitu dalam.


*Kamu itu masih gadis Maudy, Papa ingin kamu menikah dengan lelaki yang juga belum pernah menikah, bukan dengan Duda.


Pokoknya sampai kapanpun papa tidak akan setuju,kalau kalian mau menikah*.


Dan ia masih terus teringat dengan jelas bagaimana Maudy di tahan agar tak berangkat satu mobil dengan nya. Menyakitkan dan menyedihkan hanya dua kata itu yang mampu menggambarkan perasaan nya sekarang..


Apa sehina ini menjadi seorang duda ? Apa duda seperti dirinya sudah tidak pantas bersanding dengan perempuan yang baik.


"Aaaarrrgggghhh" berulang kali ia memukul stir mobil. Melampiaskan kekesalan yang begitu mendalam didirinya.


Setelah sampai di rumah sakit, ia langsung menuju ruangan nya, bahkan ia mengabaikan sapaan para perawat yang tak sengaja berpapasan dengan nya.

__ADS_1


Braaaakkkkkkk.


Ia menutup pintu dengan keras, siapapun yang mendengarna pasti akan sangat kaget. Namun ia tak peduli.


"Hukuman apalagi ini tuhan ?" tanya nya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Tak terasa air matanya sudah menetes, dari tadi ia menahan untuk tak meneteskan air mata namun sekarang sudah cukup ia tahan, ini terlalu menyakitkan ketika mendengar kalau statusnya tak pantas bersanding dengan wanita yang masih gadis.


Tok-tok-tok.


"Masuk !" pinta nya dengan cepat, lalu mengapus air matanya dengan gerakan cepat tak ingin ada orang yang tau kalau dirinya habis menangis.


"Ada apa ?" tanya nya ketika melihat Seno masuk keruangan nya.


"Kenapa wajah Lo ? kusut amat kek pakaian belum di setrika"


namun justru ia tak menjawab, saat ini ia sedang tak ingin bercanda ataupun berdebat.


"Cerita ke gue ada apa ? siapa tau bisa bantu" Seno bicara serius.


"Tadi pagi gue mampir kerumah Maudy"


"Eh tumben jemput Maudy ? udah baikan nih ceritanya apa udah jadian"


"Dengerin dulu kalau gue lagi ngomong"


"OkOk" Seno mengangguk dengan cepat.


"Niat awalnya mau jemput Maudy sama mau kenalan sama kedua orang tuanya" ia mulai bercerita.


"Tapi sayang Papa Maudy mengenaliku dan tau kalau aku sudah menikah, dan juga tau kalau aku sekarang Duda. Hinggan pada akhirnya Hubungan kami tak mendapat restu"


"Papanya Maudy ingin maudy menikah dengan lelaki yang belum menikah juga bukan orang seperti gue yang udah jadi duda”.


“Kok Papa nya Maudy kek gitu ya ??” Seno malah bertanya.


Ia hanya mengangkat kedua bahunya.


“Gue bisa izin gak ya hari ini ?? sumpah gue gak fokos banget buat kerja dengan pikiran yang kacau kek gini”ucapnya kemudian.


Memang benar ia tak lagi fokos bekerja. Semenjak kejadian tadi pagi pikiran dan perasaan nya tak karuan.


“Iya mending Lo pulang aja. Terus Maudy nya mana ??”


“Masih di rumah, soalnya tadi gak di izinin berangkat bareng gue”


Seakan tau perasaan nya Seno hanya bisa mendoakan dan mendukung apapun keputusan nya.


Dan untuk masalah hubungan nya dengan Maudy ia tak tau seperti apa kelanjutan nya. Tapi yang jelas ia ingin mendengar dari Maudy apa yang harus mereka berdua lakukan kedepan nya.


Semoga saja Maudy masih mau berjuang dengan nya, berjuang untuk meyakinkan Papa Maudy jika seorang Duda seperti dirinya juga bisa membahagiakan Maudy.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2