
Setelah memeriksa keadaan Alwi, Rian langsung menuju ruangannya, namun sebelum itu ia menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu.
“Untuk anak kecil yang berada di ruangan ujung sana” Rian menunjuk ruangan dimana Alwi berada “Jika ia di rawat tolong siapkan kamar VVIP dan tagihan nya biar saya yang bayar”
Dengan kening mengkerut seorang wanita mudah itu hanya mengangguk, tak ingin bertanya kenapa Rian begitu perhatian terhadap seorang anak kecil itu.
Ia bukan tidak tau siapa yang Rian maksud karena tadi ia dengan jelas melihat seorang wanita membawa anaknya yang sedang tak berdaya, dan hari ini hanya pasien itu yang anak kecil.
Setelah mengatakan itu Rian langsung melesat pergi, tidak lagi berkata ataupun menjelaskan karena baginya itu tidak penting.
“Mungkin dengan cara ini aku bisa menebus kesalahan ku padamu Wi” batin Rian sambil terus melangkahkan kakinya.
“Mas Rian”
Langkah Rian terhenti saat mendengar dengan jelas suara wanita yang memanggilnya, suara seseorang yang dalam waktu dekat akan menjadi suara yang ia cari setiap hari.
Rian menoleh kebelakang, ia langsung tersenyum demi mendapati Maudy sedang berjalan kearahnya.
“Dari mana ? Dari tadi aku cariin kok gak ketemu, aku lihat di ruangan juga gak ada”
Maudy langsung memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada Rian, membuat Rian menggaruk tengkuknya karena bingung harus menjawab dari mana.
“Dari IGD, ada pasien kera-” belum sempat Rian meneruskan katanya Maudy langsung memotong.
“Kok Mas yang periksa bukan nya ada dokter jaga disana” potong Maudy dengan menatap Rian penuh selidik.
“Iya memang ada tapi baru kembali, tadi gak ada dokter disana makanya Mas yang periksa”
“Oh”
Legah rasanya, karena Maudy tak lagi menanyakan tentang pasien yang ia periksa bisa menjadi bomerang bagi hubungan mereka jika Maudy tau kalau dirinya habis memeriksa anak dari mantan istrinya.
“Seminggu lagi aku udah gak kerja Mas” Maudy mulai mengalihkan pembicaraan yang lain, melupakan tentang pasien yang di periksa Rian dengan sekejap.
“Udah mengajukan surat Risign ?” tanya Rian
“Udah, katanya nunggu seminggu untuk menunggu persetujuan”
Rian menatap Maudy lekat-lekat, ia begitu tidak menyangka Maudy akan melakukan ini hanya untuk menjadi istri yang baik untuknya Maudy sampai melepaskan pekerjaannya yang ia bangun dari nol.
__ADS_1
“Kamu yakin ?” Rian menanyakan semuanya, karena ia tidak ingin suatu saat nanti dirinya yang akan menjadi alasan Maudy berhenti bekerja padahal ia tak meminta itu.
“Sampai di titik ini gak mudah loh dek, ada perjuangan yang tiada henti kamu lakukan” ucap Rian lagi, berusaha menggagalkan niat Maudy sebelum persetujuan dari atasan sudah keluar.
“Aku yakin” jawab Maudy mantap “Lagian kan kebutuhan ku Mas Rian yang tanggung, jadi aku gak usah capek-capek kerja kalau ada yang ngasih duit tiap hari”
Ia tersenyum menatap wanita yang di cintai nya itu, jelas untuk masalah kebutuhan Maudy dirinya yang menanggung, namun bukan itu masalahnya,. Tapi ah sudahlah jika memang ini keputusan dari Maudy, Rian hanya bisa mendukung.
“Ayo pulang” ajak Maudy.
Rian melirik jam di tangan nya, ini memang sudah waktunya ia pulang.
“Tunggu disini aku keruangan dulu sebentar, ada yang ingin aku ambil”
Maudy mengangguk kan kepalanya.
Tidak berapa lama setelah kepergian Rian, seorang wanita yang mengenakan hijab berwarna Navy dengan balutan gamis yang warnanya senada melewati Maudy, menatap wajah Maudy dengan lekat.
Maudy yang merasa di perhatikan hanya memberikan senyum simpul, tak ingin menyapa karena ia tidak mengenal siapa wanita itu.
Bahkan Maudy dengan jelas melihat wanita yang menatap nya tadi berbelok kearah kantin rumah sakit, mungkin membeli makan, entahlah Maudy tak ingin ambil pusing.
“Mau nunggu disini apa ikut keparkiran saja ?” tanya Rian.
“Ikut aja deh”
--------------
Sebelum keluar dari rumah sakit telinga nya begitu jelas mendengar suara seseorang yang dulu menjadi prioritas utamanya, dengan sigap Demi menghentikan langkahnya, berdiri mematung sembari mendengarkan percakapan dua orang yang berbeda jenis kelamin.
Ia mendadak galau, ketika mendengar seuntaian kata yang ia dengar, tiba-tiba hatinya terhenyak, namun tiba-tiba ia merasa legah. Bukan karena Dewi masih menyimpan rasa terhadap mantan suaminya itu namun akan tetapi, entahlah ia sendiri tidak bisa menjelaskan.
“Turut bahagia Mas jika kamu sebentar lagi akan menikah” batin Dewi dengan pandangan nanar.
Semua itu seakan telah menjelaskan bahwa dirinya dan Rian memang telah berakhir, mungkin sudah lama saat ia memutuskan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Rian malam itu.
Dan sekarang Dewi juga sudah berstatus sebagai istri, istri dari seorang laki-laki yang di pilihkan Papanya.
Saat melewati pintu rumah sakit entah kenapa ia memndangi wanita yang berbicara dengan Rian tadi, bahkan tak berkedip hingga membuat wanita itu salah tingkah. Ia buru-buru membuang pandangan tanpa membalas senyum wanita itu barang sedikit saja.
__ADS_1
“Cantik, sangat cocok untuk Mas Rian” kembali ia bergumam. Lalu melangkahkan kaki menuju kantin rumah sakit.
Saat hendak memanggil penjaga di kantin itu, lagi-lagi matanya menatap sepasang kekasih yang saling merangkul dengan canda dan tawa, dengan jelas matanya melihat Rian membukakan pintu untuk wanita yang memberinya senyum tadi.
Terlihat dengan jelas jika Rian memberi perhatian lebih kepada wanita itu. Dewi hanya tersenyum dalam hati, entahlah dia bahagia karena melihat Rian sudah menemukan kebahagiaan nya atau malah sebaliknya. Dewi sendiripun bingung menjelaskan semua perasaan nya.
------
Sepanjang perjalanan, Rian dan Maudy asik bercanda, tawa Maudy pecah saat Rian mengatakan hal-hal gombal yang bahkan dirinya sendiri merasa geli.
“Ah Mas Rian bisa saja”
“Hahahha”
“Udah deh Ah, perut Maudy sakit kalau ketawa terus”
Serentetan kalimat yang Maudy ucapkan, selalu berhasil membuat relung hatinya menghangat, namun tiba-tiba ingatan nya kembali pada sosok wanita yang mengenakan kerudung navy tadi.
Bukan karena Rian masih memiliki rasa, karena semua rasa yang dulu ia simpan kepada Dewi hilang begitu saja tanpa bekas, seiring berjalan nya waktu, bahkan Rian sendiri lupa bagaimana rasanya mencintai Dewi.
Namun pertemuan singkat mereka tadi jelas begitu mengejutkan, di tambah dengan kehadiran sosok laki-laki kecil yang bernama Alwi.
“Mas” panggil Maudy.
“Eh iya Dek”
“Melamun ya ?” tanya Maudy hingga berhasil membuat Rian gugup “ mikirin apa sih ?” Maudy terus menatapnya dengan beribu pertanyaan.
“Enggak ada sayang, hanya sedang mikirin acara pernikahan kita nanti rasanya udah gak sabar” jawabnya berbohong karena tidak ingin bertengkar karena ia jujur tentang pertemuannya bersama Dewi yang notabe nya adalah mantan istrinya.
-
-
BERSAMBUNG..
MAAFKAN KALAU UPDATE NYA LAMA, SOALNYA SINYAL TEMPAT KU MATI, JADI INI HARUS NAIK GUNUNG DULU BUAT NYARI SINYAL..
UNTUK NOVEL RAJA DAN KEYLA KALAU ENGGAK BEEHALANGAN BESOK UP.
__ADS_1
DOAKAN SEMOGA SINYAL DI RUMAH CEPAT MEMBAIK, SUSAH KALAU TIAP MAU UPLOAD NOVEL HARUS NAIK GUNUNG DULU..