
Malam semakin gelap, jam dinding menunjukan pukul 23.00. Brian dan Nafiza baru saja tiba di rumah setelah melakukan kencan dua versi, yang pertama adalah kencan ala anak SMA keinginan Nafiza, sedangkan satu lagi kencan biasa yang di inginkan Brian. Mereka kini telah berada di dalam rumah yang terlihat sepi tentu saja hanya satpam yang menjaga rumah yang masih bangun, sedangkan Bi Inah dan asisten rumah tangga yang lain sudah beristirahat.
Kryuuuuuuukkkk
Terdengar suara dari perut Nafiza, dengan cepat ia memegangnya dan tersenyum kecut ke arah Brian.
"Kamu lapar?" Tanya Brian.
"Hehe iya, kita hari ini kan belum makan malam. Kamu tadi sepertinya lupa"
"Oh iya maaf Nafiza aku benar-benar lupa mengajakmu pergi tapi kita belum makan, aku akan meminta Bi Inah membuatkan makanan. Tunggu sebentar ya" Brian baru akan melangkahkan kakinya menuju kamar Bi Inah tetapi tangannya di tahan oleh Nafiza.
"Tidak usah kasihan pasti Bi Inah sedang tidur pulas, bagaimana jika kita memasak makan malam bersama?" Usul Nafiza.
"Memangnya kamu mau masak apa?"
"Aku cuma bisa memasak nasi goreng. Aku memang payah sekali belum bisa memasak apa-apa untukmu" Nafiza menundukan wajahnya.
"Tak apa, aku suka dengan nasi goreng buatanmu waktu itu. Ayo kita siapkan bahan-bahannya" Brian memegang tangan Nafiza mengajaknya ke dapur.
Nafiza memakai celemek bersiap untuk memasak, ia memeriksa persediaan nasi sedangkan Brian bergerak sesuai perintah Nafiza menyiapkan alat-alat dan bahan sayuran lalu mencucinya. Nafiza mulai memotong sayuran, rambutnya masih tergerai dan membuatnya susah untuk bergerak dia lupa mengikatnya. Beberapa kali ia menggibaskan rambutnya.
Melihat hal itu Brian kemudian mengambil pelan helaian rambut Nafiza dan menjatuhkannya, Nafiza sedikit terkejut.
"Jangan bergerak dulu" Brian berusaha mengikat rambut Nafiza walaupun tidak terlalu rapi yang penting terikat. Perlakuan Brian yang sederhana ini tetap membuat jantung Nafiza berdebar.
"Seperti dalam drama korea saja, hihi" Nafiza tertawa bahagia dalam hati.
__ADS_1
"Terima kasih" Nafiza menyunggingkan senyumnya.
"Jangan sampai ada rambut pada masakanmu"
"Iya. Tolong ambilkan bumbunya di laci" Brian masih membantu Nafiza.
Hampir setengah jam berlalu, kemudian nasi goreng sederhana buatan Nafiza dan Brian sudah matang dan tersedia di meja makan.
"Bagaimana rasanya apakah enak?" Tanya Nafiza melihat Brian sudah memakan satu suap makanannya.
"Tidak enak" Jawab Brian singkat sambil terus mengunyah.
"Aaaahhh masa tidak enak, padahal aku membumbuinya dengan sepenuh hati" Nafiza memasang wajah kecewa, penasaran ia pun menyendokan nasi goreng buatannya ke mulutnya.
"Tidak enak kalau makannya cuma sedikit" Ucap Brian tiba-tiba.
Nafiza sedikit batuk dan tersedak mendengar ucapan Brian. Ia segera meminum air putih di depannya.
"Brian berhentilah mengucapkan kata-kata gombal secara tiba-tiba. Aku bisa mati tersedak mendengar perkataanmu" Brian terkekeh melihat reaksi Nafiza.
"Iya, sudah makannya pelan-pelan. Rasanya enak kok walaupun nanti masakanmu akan aneh sekalipun aku akan selalu memakannya"
"Berhenti menggombal Brian!!" Nafiza membuka matanya lebar-lebar.
***
Setelah membereskan dapur bersama-sama Brian dan Nafiza memutuskan untuk pergi ke lantai atas kamar mereka berada, Nafiza mengganti pakaian di kamarnya, mencuci muka dan menggosok gigi, ia sudah mengenakan pakaian tidur kemudian pergi ke kamar Brian, dia sudah duduk bersandar di ranjangnya menunggu Nafiza.
__ADS_1
"Mendekatlah" Nafiza langsung merebahkan tubuhnya di samping Brian dan memeluknya.
"Apa aku boleh bertanya?"
"Katakanlah kamu mau menanyakan apa?" Brian mengelus pelan kepala Nafiza.
"Apa kamu sudah memutuskan akan melakukan apa pada Septa?"
"Aku sudah melaporkannya pada orangtuanya"
"Lalu bagaimana menurut orangtuanya?"
"Dia akan di pindahkan ke luar negri, Nafiza sebenarnya dia sudah sering berpindah-pindah sekolah. Dia suka membuat onar, dia juga punya memiliki masalah dalam hal menyukai. Jika dia menyukai sesuatu maka dia harus mendapatkannya dan jika tidak dia akan selalu menuntutnya sampai dapat. Itu karena dia adalah anak tunggal dan kedua orangtuanya selalu memanjakannya tanpa memperhatikannya. Dia bisa melakukan cara kotor dan jahat, beruntung kamu tidak sampai di lukai olehnya" Mendengar itu Nafiza semakin mengeratkan pelukannya pada Brian.
"Aku jadi takut bertemu dengannya"
"Tenang saja kamu tidak akan bertemu dengannya lagi, sekarang sudah larut malam sebaiknya kita tidur" Brian menurunkan tubuhnya memeluk Nafiza. "Sebentar lagi ujian, kamu harus rajin belajar jangan memikirkan hal lain. Masalah ini sudah selesai"
"Iya" Nafiza memejamkan matanya.
"Kamu harus lulus, aku sudah sangat sabar menunggumu untuk memenuhi janjiku"
"Janji apa?" Nafiza membuka matanya mendongakkan kepalanya ke arah Brian.
"Untuk melakukan itu" Brian mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menyeringai, seolah mengerti Nafiza langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Brian, ia malu jika membayangkannya.
"Ingat kamu tidak boleh menolaknya lagi!" Ucap Brian sambil tertawa.
__ADS_1
"Sebentar lagi habislah aku" Nafiza menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.