
Brian mengajak Nafiza untuk membeli makanan di luar, ia tahu Nafiza belum makan dan tentu saja ini di lakukan agar bisa menghibur Nafiza, ia berusaha mengobati kekecewaan yang mungkin masih tersisa di hati istrinya.
"Mau makan apa?" tanya Brian sambil mengemudikan mobilnya.
"Emm sudah tengah malam begini restoran pasti sudah tutup, hanya tinggal pedagang yang berada di pinggir jalan, seperti pedagang kaki lima. Memangnya kamu mau makan di tempat seperti itu? maksudku melihat penampilan kamu yang memakai jas dan kemeja saja sudah tak cocok antara tempat dan fashionnya" Brian sedikit terkekeh mendengar perkataan Nafiza.
"Aku kan tidak membawa pakaian tadi, selepas bekerja aku langsung ke rumah papa, aku juga tidak masalah makan di mana pun asal makanannya enak"Β
"Ya sudah kalau begitu kita makan di sana ya" Nafiza menunjuk sebuah warung pecel lele.
"Baik nona" Brian menghentikan laju mobilnya tepat di depan warung tersebut. Sebelum keluar dari mobil ia membuka jasnya, jadi hanya memakai setelan kemeja.
***
Brian berjalan menghampiri Nafiza dan duduk di sebelahnya.
"Kamu betul tidak apa-apa makan di tempat seperti ini?" tanya Nafiza, ia takut Brian tidak nyaman. Brian sedari kecil di besarkan dalam lingkungan keluarga yang kaya raya, bahkan kekayaannya melebihi kekayaan keluarga Nafiza.
"Aku baik-baik saja, kamu sudah memesan makanannya?"
"Sudah, apa kamu pernah makan pecel lele?"
"Belum pernah" jawab Brian singkat tetapi Nafiza tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Holang kayah" goda Nafiza.
"Hey nona! aku bukannya tidak mau makan makanan seperti ini tapi aku kan dulu sekolah di luar negeri lalu pulang ke sini langsung bekerja merintis perusahaan" Brian menatap Nafiza, sebetulnya walaupun dia punya banyak uang dia termasuk orang yang sederhana tak suka foya-foya dan bisa menyesuaikan diri di tempat seperti apa pun.
"Iya iya, aku hanya bercanda. Ini namanya pecel lele makannya dengan sambalnya. Rasanya enak, aku beberapa kali membeli makan di sini" Brian memandang sekelilingnya, tempatnya memang sederhana tetapi pengunjungnya cukup ramai walaupun sudah tengah malam, akan tetapi beberapa pembeli memperhatikan Brian sambil berbisik-bisik. Nafiza jadi ikut melihat sekelilingnya setelah Brian tiba-tiba terdiam.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya mengantar beberapa pesanan makanan dan menaruhnya di meja tempat Nafiza dan Brian duduk.
"Silahkan di nikmati, tuan muda tampan sekali sampai pengunjung perempuan di sini membicarakan tuan terus" Brian hanya tersenyum mendengar perkataan bapak tersebut yang pergi untuk menyiapkan makanan yang lain. Brian memiliki tubuh tinggi dan berkulit putih.
"Aku kira kenapa pengunjung lain memperhatikanmu, kalau karena itu sih sudah biasa" Nafiza menyurup minumannya.
"Aku tidak pernah merasa diriku tampan dan juga apa kamu sekarang sedang cemburu?" Nafiza sedikit tersedak mendengar perkataan Brian.
"Kalau begitu mari kita buat mereka iri padamu" Brian mengambil tisu di depannya mengusap minuman yang ada di sudut bibir Nafiza dan membelai rambutnya. Benar saja pengunjung lain semakin memperhatikan dan berbisik-bisik, ada juga yang menyenggol bahu teman di sebelahnya.
"Hahaha kamu pandai melakukannya, semua orang semakin memperhatikan kita. Sudah aktingnya ayo cepat makan!"Β
"Di pikir-pikir kita memang belum pernah melakukannya"
"Melakukan apa?"Β
"Kencan" Nafiza dan Brian saling memandang dengan lekat.
__ADS_1
"Ayo besok kita pergi kencan"
***
Ini Brian, dia tampan, memiliki mata yang hangat tetapi tentu saja aura orang kaya tak lepas dari wajah dan penampilannya.
***
**MOHON MAAF AUTHOR BARU UP π
Author sedang di kejar deadline hehe
Selanjutnya author akan berusaha up lagi
Terima kasih bagi sudah membaca
Happy reading
Jangan lupa like dan komennya ya π**ππ
__ADS_1