Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Beraksi


__ADS_3

Warning!! Edisi spesial Jun. Hehe


Yang di bawah umur harap mundur pelan-pelan 😁✌


Setelah meletakkan Nafiza di kasur king size, Brian kembali berjalan menuju pintu dan menguncinya, ia juga mematikan lampu kamarnya.


"Gua lebat Jun comingggg" ucapnya sambil tersenyum nakal dan berlari bersemangat menghampiri Nafiza yang sudah merebahkan dirinya.


Karena gelap gulita dan terlalu kencang berlari Brian sampai menabrak ranjang di depannya.


"Wadaw!" ia memekik tubuhnya jatuh menimpa Nafiza tetapi menimpa dengan posisi tidak bagus, agak sedikit sakit.


"Ya ampun Brian kamu rusuh sekali, sudah seperti anak SD yang sedang berebut saweran uang tahu tidak!" Nafiza mencoba mendorong tubuh Brian.


"Ini karena aku terlalu bersemangat Nafizaku sayang" Brian mulai berdiri kembali.


"Hem untuk hal seperti ini sejak kapan kamu tidak bersemangat!"


"Hehe sudah ya kita mulai saja, Jun sudah meronta-ronta ingin masuk ke dalam gua nya"


"Sebentar"


"Kenapa?"


"Aku ingin buang air kecil"


"Ya sudah" Nafiza bangun dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Brian menghitung detik demi detik menunggu Nafiza, ia langsung berdiri ketika Nafiza keluar dari kamar mandi. Brian segera melepas pakaian yang di pakainya.


"Ayo cepat berbaringlah" Brian menepuk-nepuk kasur di depannya.


"Tunggu sebentar"


"Apa lagi?"


"Aku haus" Nafiza menghidupkan kembali lampu kemudian duduk di sofa dalam kamar, di depannya ada sebuah meja yg berisi beberapa botol air mineral, perlahan ia membuka dan menenggaknya.


"Cepat Nafiza" pinta Brian yang sedari tadi gelisah sambil mengusap-ngusap Jun yang sudah berdiri tegak.

__ADS_1


"Iya" jawabnya malas, ia menutup kembali tutup botol dan meletakkannya. Nafiza berjalan menghampiri Brian.


Brian sontak saja langsung menarik dan mendorong Nafiza ke atas ranjang, kini Brian berada di atasnya. Ia memajukan bibirnya hendak mencium bibir Nafiza.


"Brian" Nafiza menahan bibir Brian dengan tangannya.


"Apa lagi?" kini Brian merengek.


"Lampunya aku tadi lupa mematikannya"


"Haaaahhhh ya ampun!" dengan kesal Brian berdiri dan berjalan untuk mematikan lampunya kembali. Nafiza terkekeh melihatnya, wajah dan sikap Brian menurutnya sangat lucu. Ia benar-benar berhasil mempermainkannya.


Brian berjalan cepat menuju ranjang, ia segera menimpa Nafiza pelan. Brian ******* bibir mungil Nafiza tak memberinya kesempatan untuk melawan apa lagi menunda aksinya kembali.


Salivanya beradu, suara desahan kecil mulai terdengar, Brian beralih menurunkan dirinya berada di samping Nafiza tetapi tak melepas ciumannya. Tangannya mulai bergerak, membuka satu persatu mini dress yang penuh dengan kancing tersebut. Tangannya membelai dada istrinya dengan lembut, Nafiza sedikit tersentak, belaian di dadanya membuatnya merinding.


Nafiza menahan nafasnya dan menghembuskannya perlahan, Brian masih tidak berhenti dengan kecupan dan belaian dari tangannya.


Kegiatannya terhenti ketika menurunkan celana yang di pakai Nafiza dan membuangnya begitu saja ke lantai, tangan satunya bergerak kembali membelai dada Nafiza dengan lembut, sedangkan yang satunya membelai pada area sensitifnya. Nafiza memejamkan matanya, ia dapat merasakan semua sentuhan suaminya itu, tubuhnya mulai terasa panas dan tak hentinya suara desahan keluar dari mulut Nafiza. Brian meminta Nafiza memalingkan wajahnya ke arahnya, bibir mereka pun bertemu dan saling mencumbu. Di sela-sela ciuman mereka tangan Brian masuk dan menggesek di sana, ia memasukan satu jarinya, memainkannya memasukan dan mengeluarkannya, sesekali ia menekannya agar masuk lebih dalam.


"Aaahhhh sayang" Nafiza mengerang, tubuhnya bergetar. Ini adalah pelepasannya yang pertama.


Nafiza menahan desahannya, tak ingin mengeluarkan suara erotis lagi. Wajah yang memerah, bibir yang mengkilap akibat air liur keduanya, serta rambut Nafiza yang terurai di bantal mereka. Menurut Brian tidak ada yang lebih menggoda dari penampilan Nafiza saat ini. Jun kembali berkedut, mengeras dan sangat siap untuk membuat wanita ini kembali mengerang.


"Kamu sangat cantik" bisiknya di telinga Nafiza. Brian beralih ke atas, Jun menerobos masuk ke dalam guanya. Brian mengentakan pinggulnya dengan irama yang lembut, Nafiza mendesah lemah, memperlihatkan betapa tak berdayanya ia ketika Brian memenuhinya di dalam sana. Melingkupi Nafiza seolah ia adalah satu-satunya wanita yang beruntung, dapat melihat, merasakan dan menerima bentuk cinta dari Brian sosok lelaki yang menjadi idaman bagi banyak wanita di luar sana, lelaki tampan, kaya dan juga baik hati.


Iya Nafiza merasa sangat beruntung, seperti saat ini, melalui gerakan pinggulnya, ******* bibirnya serta usapan tangan Brian pada pergelangan tangan Nafiza membuatnya merasa sangat di cintai. Brian mengentakkan pinggulnya lebih cepat, melepas buliran putih kental ke dalam rahim Nafiza, ia merasa sesuatu yang hangat menerobos masuk ke sana.


Masih terasa panas dan sedikit berkeringat, Brian merebahkan dirinya perlahan di samping Nafiza.


"Sekarang tidurlah" Brian menarik selimut, menyelimuti tubuh mereka yang masih tidak mengenakan pakaian sehelai pun.


Nafiza menganggukkan kepalanya, memeluk dada bidang Brian dan membenamkan kepalanya. Brian membalas pelukannya dan mulai memejamkan mata.


"Bagaimana puas kan jun? tunggu beberapa jam lagi, kita harus beraksi kembali" gumam Brian dalam hati.


Author : "Waaaawww daebak! dua jempol buat Jun hahaha"


Brian : "Sono thor ga usah nongol-nongol!"

__ADS_1


Author : "Ya udah" Author pergi malu-malu. Hihihi


***


Bangun di pagi hari memang bukan kebiasaan Brian kecuali jika ia bekerja. Pria berambut hitam itu masih berada di tempat tidur, memandangi seorang wanita yang tidur di sampingnya. Wanita itu tertidur dengan lelap dan sepertinya kelelahan karena permainan mereka yang entah berapa kali terjadi dalam semalam.


"Ennggg" erang Nafiza dalam tidurnya.


Selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap, memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus. Brian segera menutupnya, Brian merasakan tanda bahaya jika sampai tubuh itu terlihat lagi olehnya. Jun tentunya tidak akan berhenti jika hanya berdiri. Ia juga merasa lemas karena perbuatannya tadi malam.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu, membuyarkan segala fikiran di otak Brian yang berkecamuk. Ia segera berdiri dan mengenakan pakaiannya.


Sebelum ia melangkah menuju pintu, ia membenarkan selimut agar tubuh istrinya tak terlihat oleh orang lain terkecuali kepalanya saja.


Ceklek


"Ada apa Troy?" tanya Brian begitu melihat pria di depannya.


"Nona Tita tidak ada di kamarnya dari semalam tuan, aku sudah mencarinya di sekeliling villa tapi tidak menemukannya" ucapnya panik.


"Kamu sudah mencari sampai pintu gerbang masuk kawasan vila?"


"Sudah tuan, ponselnya juga tidak bisa di hubungi"


"Sudah bertanya pada pos keamanan belum?"


"Belum, saya kira dia masih ada di sekitaran puncak sini tetapi tidak tahu di mana"


"Kamu hubungi pihak keamanannya dulu, mungkin mereka melihatnya. Aku akan bersiap kita akan mencarinya lagi"


"Baik tuan" Troy segera pergi meninggalkan Brian.


"Dimana anda nona" Troy mengkhawatirkan Tita yang tak tahu ada di mana keberadaannya, sejak tadi malam ia tak melihat Tita.


***


Jangan lupa bahagia untuk Readers dan author yang setia mendukung cerita abal-bala ini πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2