Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
H-1


__ADS_3

Hari demi hari terlewati, Brian mulai bekerja dengan mengangkat seorang pegawai kantor untuk menjadi sekretaris sementara menggantikan Troy.


Sekretaris sungguhannya itu masih sibuk mengurus kebutuhan pernikahannya, kejadian Nafiza menjadi sekretaris pengganti, Brian rasa cukup terjadi satu kali saja. Dia menjadi tidak bisa bekerja jika di temani Nafiza, bukannya tidak senang, hanya istri kecilnya datang di kala Brian harus benar-benar menyelesaikan tugasnya.


Pernikahan Troy di laksanakan esok hari, calon pengantin ini sudah 3 hari tidak bertemu dengan tambatan hatinya, menurut kepercayaan tradisi pernikahan adat jawa yang di anut keluarga Tita tak membolehkannya bertemu sebelum acara akad nikah di mulai. Mereka hanya bisa melepas rindu melalui jaringan telepon atau video call.


Troy kini berada di dalam kamar, tangannya memegang kertas putih berukuran kecil yang terdapat tulisan tangan di atasnya.


"Saya terima nikahnya Tita Widya binti Danu Iskandar dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas seberat 100gram di bayar tunai" ucapnya membaca kertas tersebut. Troy menghela napasnya, sudah berhari-hari ia menghapal ijab kabul ini, rasanya gugup padahal ini bukan akad nikah yang sebenarnya.


Tok tok tok


Ketukan pintu itu membuyarkan pikirannya.


"Iya siapa? masuk saja" teriak Troy, ia kembali menatap kertas itu sambil membacanya pelan.


"Kak Troooyyy" suara khas itu terdengar tak asing di telinganya.


"Nona dan tuan" wajah Troy berubah sumringah melihat kedua majikannya masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana kabarmu Troy?" tanya Brian.


"Kabarku baik tuan, bagaimana kabar tuan nona dan si kembar triplet?" tanyanya


antusias.


"Kabar kami juga baik kak Troy, sedang apa? sepertinya kak Troy tadi serius sekali?"


"Aku sedang menghapal ini nona" Troy menunjukkan kertas hapalannya.


"Hapalkan baik-baik Troy jangan sampai salah dan ada kekurangan, kalau bisa mengucapkannya hanya satu tarikan napas" Brian memberi nasihat tetapi mendengar perkataan Brian membuat Troy menjadi tambah gugup.


"Kamu menakutinya Brian" wajah Troy terlihat memucat.


"Hahaha, tenang saja Troy rileks kamu pasti bisa, aku yakin. Percayalah pada kemampuanmu sendiri, jika kamu lancar mengucapkan ijab kabulnya maka Tita akan menjadi milikmu seutuhnya dan ingat nanti malam kalian bisa bebas melakukan malam pertama" ucap Brian menyemangati dan menggoda Troy.


"Kamu ini pikirannya malam pertama terus!"


"Loh Troy ini termasuk beruntung, aku mau bercerita sedikit nih Troy dulu setelah ijab kabul dan sah menjadi suami istri kami tidak melakukan malam pertama" ucap Brian bercerita.

__ADS_1


"Kenapa tuan?"


"Karena ibu hamil di sebelahku ini selalu menolaknya, kamu tahu Troy untuk bisa melakukannya aku bahkan harus menunggu hampir berbulan-bulan lamanya, kalau bahasa gaul anak sekarang 'ngenes' Troy"


"Wah tuan keren, bisa kuat dan sabar" pujinya mendengarkan. "Lalu?"


"Ya setelah penantian lamaku akhirnya Nafiza mau dan tentu saja dia ketagihan. Hahaha" Troy dan Brian tertawa bersama.


"Enak saja! siapa yang ketagihan! kamu tidak tahu malu ya menceritakan hal ini pada orang lain" Nafiza menarik telinga Brian hingga kemerahan.


"Aw sakit bunda, telingaku hampir putus" Brian meringis kesakitan.


"Oh sekarang panggilan sayang tuan pada nona bunda"


"Iya Troy, dia kan bunda dari anak-anakku" Brian mencolek dagu Nafiza sambil tersenyum manis, padahal tangan istrinya itu masih menempel di telinganya.


"Mau mencoba merayu ya, tidak bisa!" Nafiza memutar tangannya di telinga Brian.


"Ampun sayang ampun" Brian mencoba melepaskan tangan Nafiza tetapi upayanya tidak berhasil, tangan Nafiza seperti mengandung lem besi yang kuat sekali pegangannya.


Troy memandang interaksi kedua majikannya itu sambil tersenyum, dia bersyukur mempunyai atasan seperti Brian dan Nafiza yang baik. Dalam hatinya terdapat kegundahan, sebenarnya ayah Tita meminta Troy untuk membantunya mengurus perusahaan jika mereka sudah resmi menikah nanti, Troy merasa nyaman bekerja bersama Brian tetapi ia juga merasa tidak enak menolak permintaan mertuanya. Hatinya merasa dilema, ia belum menceritakan hal ini pada siapa pun.


Nafiza sudah melepas tangannya dari telinga Brian, kini suaminya itu sedang mengusap pelan telinganya yang rasanya seperti terbakar, merah dan panas.


"Iya nona"


"Kenapa melamun? apa ada yang kak Troy pikirkan? bilang saja pada kami jika kak Troy butuh bantuan"


"Tidak nona, aku tidak membutuhkan apa pun, oia lebih baik sekarang tuan dan nona ikut aku, kita makan bersama di sini"


"Nafiza jangan di ajak makan Troy, istriku ini sekarang makannya tak cukup satu piring karena dia harus makan porsi 4 orang sekaligus" ucapnya meledek Nafiza tak ada kapoknya meski telinga belum pulih ke warna semula.


"Benar kak Troy, kalau masakan di rumah kak Troy sedikit lebih baik aku tidak usah makan saja" entah kenapa Nafiza malah jadi sadar diri.


"Tenang saja nona, persediaan makanan dan minuman di rumah calon pengantin ini banyak sekali, makan sepuluh piring pun tidak masalah" ucapnya menenangkan.


"Wah beruntung ya kita Brian berkunjung ke rumah kak Troy hari ini" syukurnya membuat Brian jadi malu.


"Sepertinya Nafiza niat sekali makan banyak di rumahmu Troy"

__ADS_1


"Tak apa tuan nona makanlah sepuasnya" Troy mengajak Nafiza dan Brian ke ruang makan, benar sekali perkataan Troy makanan yang tersedia jumlahnya banyak dan melimpah.


Mereka bertiga mulai menyendokkan makanan. Tiba-tiba saja ibu Troy menghampiri dan menyapa Brian dan Nafiza.


"Eh tuan Brian dan nona Nafiza silahkan makan, jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri"


"Iya bu" jawab mereka berdua kompak.


"Troy ini pete rebus kesukaanmu sudah emak kupas dan bersihkan" Ibu menaruh pete-pete tersebut di dekat piring Troy.


"Aduh mak besok Troy mau menikah dan mau malam pertama masa sekarang makan pete, Tita bisa kebauan mak"


Perkataan Troy di sambut gelak tawa semua yang mendengarnya.


"Pengantin baru rupanya sudah tidak kuat"


Troy hanya bisa menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Berbeda dengan Troy, Tita di rumahnya sedang melakukan masa pelatihan, beberapa hari ini ia di suruh melakukan berbagai macam pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian dan lain-lain. Ibu menyuruhnya melakukan itu agar kelak Tita bisa belajar mandiri dan tak kesusahan saat melaksanakan tugasnya menjadi ibu rumah tangga.


Ia kini sedang duduk di bangku kecil mencuci piring yang menumpuk di belakang rumahnya.


"Ibu tidak seperti ini juga kaliiiii" keluhnya sambil tetap menggosok piring dengan spons yang berbusa banyak.


"Cuci yang bersih wahai calon pengantin, tenang saja setelah ini kamu akan melakukan perawatan kulit dan wajah di kamarmu, periasnya sudah datang"


"Benarkah? kalau begitu aku mencuci piringnya harus ngebut" Tita bersemangat melakukan pelatihan ini.


***


Halo maaf ya author jadi tidak stabil upnya


Terima kasih untuk yang tetap mau membaca dan mendukung cerita ini


Kalau kalian suka dengan tulisan author mampir juga yuk ke novel author yg on going judulnya My Slave Beauty, tidak kalah seru dari novel ini kok



Nah ini komen dari readers yang lain, mangkanya jangan lupa mampir ya siapa tahu kalian juga suka 😍 author tunggu.

__ADS_1


__ADS_2