Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Masih Edisi Rumah Sakit


__ADS_3

Rembulan bersinar lembut malam ini, teh manis hangat yang di pegang Nafiza masih mengepul. Udara malam ini terasa dingin karena tadi hujan telah mengguyur kota tempat tinggal Nafiza. Bibir ranumnya menyesap perlahan minuman di tangannya, setelah meniup-niupnya agar tidak terlalu panas. Nafiza meletakkan gelas yang isinya sudah setengah dari yang di minumnya. Ia mengedarkan pandangannya masih di ruang perawatan, ia mengambil ponselnya dan sudah mengubah posisinya baru saja akan merebahkan kepalanya pada bantal sofa.


"Minumanmu masih ada?" Brian menanyakan teh manis yang di buat Nafiza.


"Ada, kamu mau?" Nafiza kembali duduk.


"Iya" Nafiza menghampiri Brian sambil membawa minuman yang di mintanya. Brian mengambil dan segera meminumnya.


"Tidurlah di sebelahku jangan tidur di situ" ucap Brian setelah menghabiskan teh manis dan menyerahkan gelas kosong pada istrinya.


"Baiklah" Nafiza merangkak naik ke atas ranjang dan tidur di sebelah Brian, ia memandang ponselnya.


"Menonton apa?" tanya Brian penasaran.


"Drama korea" Nafiza fokus sekali menonton drama yang sedang di putarnya.


"Aku mau lihat" Brian mendekatkan kepalanya pada bahu Nafiza, saat Brian melihatnya pas sekali adegan aktor utama pria sedang mencium aktor utama perempuannya. Nafiza refleks menaruh ponsel di perutnya secara terbalik.


"Kenapa malah di tutup? kamu malu ya ketahuan olehku menonton drama yang ada adegan dewasanya? ayo mengaku" goda Brian. "Pantas saja anteng dari tadi duduk di sofa rupanya nonton yang seperti ini"


"Cuma Kissing Brian tidak ada adegan dewasa lainnya" wajah Nafiza seketika merah merona.


"Ooh kalau mau menonton film panas juga boleh" belum selesai Brian berbicara, Nafiza sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Jangan di teruskan, aku tidak suka menonton film seperti itu" Brian mendorong tangan Nafiza dari wajahnya.


"Berarti sudah pernah nonton ya kalau jadinya sekarang tidak suka" ledeknya lagi.


"Hemmmmm" Nafiza memutar tubuhnya membelakangi Brian, malu.


"Hahaha istri kecilku nakal ya coba-coba nonton film seperti itu" tangan Brian mencubit pipi Nafiza dari belakang. Tak tahan dengan ledekan Brian, Nafiza kemudian memilih duduk.


"Lebih baik aku tidur di sofa saja" ia mulai berdiri tetapi tangannya di tahan oleh Brian.


"Jangan marah Nafizaku sayang aku hanya bercanda. Hampir semua anak remaja pernah melakukannya kok menonton film itu diam-diam. Tapi kalau kamu kan sudah menikah dan punya suami, kenapa tidak sekalian bersamaku menontonnya" Nafiza mencubit perut Brian.


"Aku bilang aku tidak suka menontonnya!" Nafiza semakin kencang memutar tangannya mencubit Brian.


"Aww iya iya, kamu tidak suka menontonnya. Kamu cuma sekali melihatnya" Brian tidak ada kapoknya.


"Kan masih meledekku, jangan menyuruhku tidur di sampingmu!" Nafiza menghentakkan-hentakan kakinya.


"Hehe iya maaf aku janji tidak akan meledekmu lagi deh, sekarang ayo tidur. Kasihanilah suamimu yang sedang sakit ini"


"Jangan membahasnya lagi!"


"Iya" Nafiza kembali menaiki ranjang dan merebahkan dirinya di samping Brian.

__ADS_1


"Aku mau menonton drama tadi lagi, kalau ada adegan kissing jangan meledekku" pinta Nafiza mulai mengangkat kembali ponsel miliknya.


"Iya" Akhirnya Brian dan Nafiza menonton drama itu bersama sampai keduanya terlelap tidur.


***


Keesokan harinya, matahari sudah memancarkan cahayanya yang terik dan panas. Seorang lelaki tampan terlihat masuk ke dalam lobi rumah sakit sambil membawa rantang makanan. Ia langsung menuju lift dan berjalan masuk ke dalamnya tetapi dari arah belakang ada yang menabraknya cukup membuat tubuhnya terguncang dan hampir jatuh.


"Maaf" Troy memutar tubuhnya menghadap ke depan ingin melihat siapa wanita ceroboh yang berjalan rusuh.


"Nona Tita" Tita tersenyum sumringah melihat wajah Troy di depannya.


"Maaf kak Troy aku tidak sengaja menabrakmu"


"Iya tidak apa-apa" pintu lift mulai tertutup, Troy menekan tombol ke lantai 3.


"Kak Troy mau pergi ke ruangan kak Brian kan?" tanya Tita basa basi.


"Iya, nona mau menjenguk tuan Brian?" Tita menganggukan kepalanya.


"Aku tidak menyangka akan bertemu kak Troy di lift, mungkin kita jodoh" Tita memutar-mutar separuh tubuhnya pelan. Troy hanya menundukkan wajahnya tak menanggapi. Tita melirik pada rantang makanan yang di bawa Troy. "Itu untuk Brian kak Troy?"


"Iya tuan ingin makanan yang di masak Bi Inah"


"Ohh isinya ada mi tidak?" tanya Tita.


"Tidak ada"


"Mi apa yang bikin pedih? mi kena mata?" Troy serius.


"Mi-minta kepastian dari kamu" (Hiya hiya hiya 😂) Troy mulai menghela nafasnya menahan senyumnya. "Kak Troy tahu tidak makanan apa yang paling enak di dunia?"


"Makanan Eropa?"


"Bukan, makanan yang paling enak itu adalah makanan di resepsi pernikahan kita" seketika wajah Troy memerah tak bisa lagi menahan senyumnya. Tita suka sekali melihat wajah malu-malu Troy.


Pintu lift terbuka Tita dan Troy keluar langsung berjalan menuju ke ruang perawatan Brian. Troy mengetuk pintu dan membukakannya untuk Tita.


"Selamat siang kak Brian dan Nafiza" cerianya Tita sambil masuk ke dalam.


"Hai kamu ke sini, kok bisa bersama kak Troy. janjian ya?" sambut Nafiza.


"Tidak kami bertemu di bawah, kak Brian bagaimana sudah lebih baik kesehatannya?"


"Sudah, terima kasih ya Tita sudah menjenguk kemari"


"Sama-sama aku membawa ini" Tita menyerahkan satu parcel bunga dan buah pada Nafiza.

__ADS_1



"Wah terima kasih" Nafiza menerimanya dan meletakkannya di atas nakas samping Brian. "Duduklah dulu"


Tita menghampiri Troy yang duduk di sofa sedang memeriksa ponselnya.


"Kak Troy sedang melihat apa?"


"Memeriksa beberapa laporan pekerjaan"


"Ooohhh" kemudian Troy meletakkan ponselnya.


"Tuan ini makanan dari rumah yang Bi inah masakkan" Troy tadi lupa menyerahkannya pada Nafiza. Ia membuka rantang yang tersusun itu satu persatu, terlihat ada sayur capcay kesukaannya Brian.


"Fiz aku mau makan masakan Bi Inah, suapi aku" pinta Brian, Nafiza melirik pada makanan yang sudah terbuka di atas meja.


"Iya tapi sedikit saja ya, kamu tetap harus lebih banyak makan makanan rumah sakit"


"Baik nyonya Nafiza" jawab Brian. Nafiza mengambil piring kecil dan menyendokkan beberapa makanan yang akan di suapinya kepada Brian.


Nafiza duduk di kursi samping Brian, mulai menyuapinya dan terlihat Brian sangat lahap memakannya.


Sedangkan Troy mengalihkan pandangannya hanya memandang ponselnya ia tahu sedari tadi Tita tak bisa berhenti memperhatikannya.


"Brian tunggu sebentar, aku sakit perut" Nafiza meletakkan piring makan dan berlari ke arah kamar mandi.


Troy sedikit merasa tidak nyaman di pandangi terus, ia akhirnya memilih untuk menghampiri Brian dan duduk di kursi bekas Nafiza.


"Kenapa kamu duduk di situ Troy?" tanya Brian sambil menelan makanan yang di kunyahnya.


"Saya akan menyuapi tuan" Troy mengambil piring makanannya dan mulai menyendok nasi serta capcaynya.


"Tidak usah, aku akan di suapi Nafiza saja"


"Tidak apa-apa tuan tidak usah merasa malu, nanti nasinya dingin tidak enak rasanya"


"Aku tidak mau di suapi olehmu" Troy sudah memajukan sendok tepat berada di depan mulut Brian.


"Saya tipe pemaksa, ini semua demi kesehatan tuan. Cepat buka mulut tuan. Aaaaaaa" Troy tidak bergeming meski Brian menggelengkan kepalanya, akhirnya Brian memakannya.


"Bagaimana rasanya enak tuan?"


"Troy hentikan drama pura-pura jadi Nafiza, aku geli mendengarnya"


"Baik tuan" Troy masih menyuapi Brian memaksa.


"Aku merinding melihat mereka berdua suap-suapan. Iiiihhhhh" ucap Tita memperhatikan dari kursi sofa sambil melipat dan mengelus-ngelus tangannya.

__ADS_1


***


Lanjut tidak yah? Hehe


__ADS_2