Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
TCSPT PART 23


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan kini usia kandungan Kiara memasuki bulan ke tiga, namun perutnya terlihat besar. Wanita hamil itu sengaja menghindari Dominic, agar rasa cintanya tidak terlalu dalam. Selama ini Kiara telah jatuh cinta pada pria yang menjadi ayah dari calon anaknya. Ya selama kehamilannya wanita itu tak mengalami morning sickness, sepertinya calon bayinya begitu penurut.



Tiba tiba sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang, Kiara hanya diam dan dia tahu siapa yang memeluknya saat ini. Dominic melepas pelukannya, berdiri di hadapan wanitanya itu kemudian berlutut, pria itu mengusap dan mengecup lembut perut Kiara sambil meliriknya, setelah itu kembali berdiri.


"Sweety kenapa kamu menghindar? "


"Aku enggak menghindar. " elak Kiara dengan jengkel. Dominic tersenyum, tangannya membelai wajah Kiara dengan lembut, lalu turun ke bawah menyentuh perut besar Kiara, di mana calon anaknya sedang tumbuh.


"Mas, perhatianmu dan sikap lembutmu membuatku salah paham, aku mengira kamu sayang aku dan aku tidak mau cintaku lebih dalam, pada akhirnya aku akan terluka karena cinta tak terbalas. "


"Jika aku berkata aku mencintaimu, apa kamu akan percaya. "


.


Kiara menggeleng dengan cepat, dia tak boleh terbuai dengan kata kata manis dari Dominic. Dominic menghela nafas panjang, sangat sulit meluluhkan hati dari Kiara. Pria itu meraih tangan Kiara, lalu mengecupinya berulang ulang. "Ayo kita menikah, lusa. kamu tidak boleh menolak Sweety. Calon baby berhak memiliki orang tua yang lengkap. " ujar Dominic.


"Aku akan setuju jika mas Dom, berhenti mengawasi keluarga nona Cyra. Mereka sudah bahagia mas, lupakan dendam. Aku mohon setidaknya walau bukan karena aku, tapi karena calon anak kita. Mas bertemulah dengan Tuan Rey, selesaikan masalah kalian berdua dan setelah itu kita menikah. " Kiara membawa tangan Dominic ke atas perutnya, hati Dominic menghangat mendengar ucapan Kiara.


Dominic membawa Kiara ke dalam dekapannya, sesekali pria itu menciumi puncak kepala wanitanya. "Baiklah aku akan bertemu Reymond, tepati janjimu sweety. Setelah menikah aku akan mengambil hakku. "


"Iya Mas, terserah kamu. Lagian selama ini kamu juga meminta hakmu. " sindir Kiara.



Kini kiara duduk di atas tubuh Dominic, tangan pei itu menyentuh perut Kiara. Kiarapun turun, Dominic bangun lalu merangkul wanitanya. Pria itu menatap lembut kearah Kiara, Kiarapun membalasnya dengan senyuman manis. "Kenapa mas menatapku seperti itu, aku malu!


"Kamu semakin cantik dan seksi sayang semenjak hamil, hal itu membuatku semakin bergairah padamu. " Dominic menghela nafas panjang, mengingat perlakuannya dulu pada Kiara, rasa penyesalan itu masih ada sampai sekarang. Kiara mengusap rahang calon suaminya, dia sepertinya tahu apa yang di pikirkan oleh Dominic.

__ADS_1


"Mas kita jalan jalan yuk, aku juga perlu gerak mas!


Dominic mengangguk, lalu bangkit dan membantu Kiara. Setelah itu mereka ke luar dari mansion.



"Hum udara di sini sangat segar dan sejuk ya mas, berbeda sekali saat di kota. "


Dominic mengulum senyumnya mendengar ucapan Kiara pria itu terus menatap kearah calon istrinya. Dominic mendekatinya, mengusap perut buncit Kiara dengan lembut. Kiara membuka matanya, menatap lembut kearah Dominic. "Mas Dom, ingin anak laki laki apa perempuan? "


"Twins sayang!


"Memangnya keluarga Mas ada yang kembar? " Dominic mengangguk, Kiara tersenyum manis pada prianya. Dominic menghela nafas panjang, melirik wanitanya. "Ya aku dulu memiliki adik perempuan tapi meninggal dalam kandungan ibuku. "


Kiara terkejut, dia langsung mengusap lengan Dominic karena merasa bersalah. Dominic hanya tersenyum, lalu mengecup singkat kening wanitanya. Mereka kembali melanjutkan langkah mereka dengan tangan saling bersautan. Dominic mengajak ke Villa, milik mendiang kakek dan neneknya, keluarga Wiggers. Kiara menatap girang kearah taman, yang penuh dengan berbagai macam bunga.


"Cantik sekali bunganya!


Drt


drt


drt


"Halo Revan, ada apa? "


"Tuan, Paman Anda berada di mansion sekarang ini. "


Dominic menyimpan ponselnya dalam saku, terkejut mendengar kabar kedatangan pamannya. Pria itu menoleh kearah Kiara, lalu mengajaknya pergi dari sana. Meski bingung Kiara tetap menurutinya, mereka masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Empat puluh lima menit kemudian, akhirnya mereka sampai di kediaman Dominic. Dominic menuntun Kiara, bersama sama memasuki mansion. Keduanya langsung bergegas ke ruang tamu, terlihat serang pria paruh baya tengah menunggunya, Eden Wiggers. Paman Eden menatap datar kearah keponakannya, beralih memperhatikan Kiara dan perutnya yang membuncit.


"Ada angin apa paman mendatangi mansionku ini? " ujar Dominic dengan raut datarnya.


"Beginikah sambutanmu, pada pria tua yang telah membesarkanmu Dominic. "


"Siapa Dia? "


Dominic menghela nafas panjang, mengerti siaapa yang di maksud pamannya. Tangannya mengenggam erat tangan Kiara, Kiara merasa gugup di tatap intens oleh paman Eden. "Dia Kiara, calon istriku dan kini dia hamil calon anak aku. "


Pria tua itu berdehem, dia kembali mengamati Kiara setelah itu kembali menatap keponakannya itu. "Reymond tidak bisa di andalkan, sekarang hanya kamu yang paman bisa harapkan!


"Tidak usah berbasa basi paman!


"Kau perlu pewaris laki laki, aku harap wanitamu mengandung bayi laki laki. Jika perempuan, maka kamu harus meninggalkan wanitamu dan carilah wanita lain yang bisa memberimu keturunan laki laki!


Seketika suasana menjadi hening, mereka tenggelam dalam pikiran masing masing. Deg Kiara merasakan sesak mendengar ucapan paman Eden. Rahang Dominic langsung mengeras mendengar penuturan pamannya. Paman Eden hanya diam, mengamati ekpresi keduanya secara bergantian. "Aku tidak peduli jika bayinya perempuan, aku tetap tidak akan meninggalkan Kiara apapun yang terjadi. "


"Jika itu keputusanmu, maka paman akan melakukan sesuatu yang membuat hidup wanitamu sengsara. "


Dominic menggertakkan giginya, mendengar ultimatum dari sang paman. Sementara Kiara kini terisak dalam dekapan Dominic, wanita itu terpukul dengan keputusan dari paman Eden.


"Silakan saja paman lakukan, jika paman berani menyentuh Kiara seujung helai rambutnya maka aku akan ke luar dari perusahaan, aku tidak peduli perusahaan yang di berikan oleh paman padaku, akan hancur. Aku tidak sudi menjadi pewaris, jika paman masih


bersikeras. " geram Dominic dengan wajah memerah, menahan amarah.


"Cih kau berani menantang paman, hanya demi wanita yang asal usulnya tidak jelas seperti dia hah. " bentak paman Eden murka. Paman Eden langsung bangkit, bergegas pergi dari sana di susul asistennya. Setelah kepergian pamannya, Dominic berusaha menenangkan sang calon istri. Ya sikap keras yang di miliki Dominic, berasal dari didikan paman Eden.


"Mas, hiks aku takut. " gumam Kiara dengan lirih.

__ADS_1


"Sst sayang, kamu tenang saja. Jangan takut, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. " Dominic mencium kening wanitanya, dalam hatinya dia mengumpati sikap arogan pamannya yang otoriter. Kiara mengusap perut buncitnya, dalam benaknya dia berharap calon anaknya kuat dan sehat sampai dia lahir. Dia tak peduli jenis kelaminnya, karena bagi Kiara calon anaknya adalah harta berharga miliknya, buah hatinya dengan Dominic.


bersambung


__ADS_2