
Hari demi hari di lewati begitu berat bagi Luna hingga bulan berganti bulan, dia merasa tidak pantas hadir dalam penyambutan kepulangan Rafendra dari rumah sakit. Pria itu sadar dari koma setelah hampir dua bulan. Dia tidak ingin semakin sakit hati saat melihat kekasihnya itu menatapnya asing, dan akhirnya memilih tidak muncul di hadapan Rafendra. Seringkali Kiara dan Cyra menasehatinya namun Luna tetap Kekeh dengan keputusannya, menghindari sosok sang kekasih.
Kini gadis itu berada di taman kota, diapun tersenyum getir menyaksikan beberapa pasangan yang tengah berbahagia. Diapun menahan nafas dalam dalam, lalu menghembuskan secara perlahan.
Rafen, mimpi yang kita ciptakan bersama kini telah hilang seketika, semuanya berubah dalam sekejab. Impianku merajut cinta yang bahagia bersamamu memudar setelah kejadian itu menimpa kita. Dunia kita terasa asing, kamu melupakan semua kenangan indah kita berdua.
Kisah kita berakhir, hanya ada aku dan kamu sekarang. Akankah suatu hari nanti kamu mengingatku sayang?
"Selamat tinggal Rafen! Lunapun bangkit, dia bergegas meninggalkan taman. Diapun memutuskan untuk pergi dari Jakarta, melupakan semuanya termasuk kenangannya bersama Rafendra.
##
"Alessa, jelaskan darimana kamu mengenal Dominic? " ujar Gerry penasaran.
Alessa hanya diam, dia hanya bisa menghela nafas panjang. Gerry merasa kesal, dia mencoba bersabar menghadapi wanitanya ini. "Aku kenal dia saat di pesta papaku, aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya
Gerry. " ungkap Alessa dengan senyum terukir di bibirnya.
"Apa sekarang kamu masih mencintainya?" tanya Gerry.
Alessa menggeleng, dia kembali menyentuh perut buncitnya. Dia benar benar menghapus rasa cintanya pada Dominic semenjak dirinya hamil. "Dengar Echa, aku harap kamu tetap berada di posisimu sekarang, jangan pernah ada niat meski secuil untuk mendekati sepupuku itu. " pungkas Gerry.
"Tanpa kamu bicara, aku juga tahu di mana posisi aku Ger!
"Satu mingggu lagi kita akan menikah. " kata Gerry, menatap lekat kearah Alessa yang terpaku dalam keterkejutannya. Gerry kembali duduk di sebelah Alessa, dia raih tangan calon istrinya namun Alessa menarik tangannya dengan cepat.
"Kenapa, kamu tidak nyaman? "
"Tidak, hanya saja aku sedikit lelah hari ini! elaknya sambil membuang muka. Gerrypun memilih mengalah, sepertinya mood Alessa sedang tidak baik dan dia tidak ingin membahayakan calon bayinya.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku akan ke luar. " Gerry langsung bangkit, memperhatikan Alessa yang masih tidak mau menatapnya setelah itu berbalik dan melangkah ke luar.
"Ya Tuhan, kenapa aku berada di situasi yang sulit dan rumit Gerry ternyata sepupu tuan Dominic, pria yang aku suka sedangkan Gerry ayah dari bayi yang aku kandung. " gumam Alessa lirih.
Wanita itu bangkit dan turun dari ranjangnya, memutuskan ke luar dan menuruni anak tangga dengan hati hati. "Bi, Di mana Gerry sekarang? "
"Tuan Gerry berada di ruang kerjanya, nona!
"Terimakasih. " Alessa bergegas ke ruangan kerja Gerry, dia mengetuk pintu sebentar lalu masuk ke dalam.
Gerry menoleh, tersenyum lembut pada calon istrinya. "Kita mengobrol saja di ruang tamu, ayo. " Gerry menuntun Alessa ke luar dari ruangan kerjanya, membawanya keruang tamu.
"Ger, sebaiknya kita tidak perlu menikah. Lagian di antara kita tidak ada cinta, soal calon baby, bisa diurus bersama namun bukan sebagai pasangan! ucap Alessa dengan pelan. Gerry menghembuskan nafas berat, sorot matanya berubah tajam.
"Kamu jangan egois Echa, calon baby butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Apa kamu mau saat dia besar dia dicap sebagai anak haram. " geram Gerry emosi namun tetap berusaha menahan nada suaranya, dia tidak ingin lepas kendali hingga membentak Alessa.
Alessa menunduk, Gerry mengusap wajahnya lalu merangkul bahu calon istrinya. Diapun mengangkat wajahnya, Gerry langsung memagut bibirnya sekilas. "Maafkan aku, mulai sekarang aku akan belajar mencintaimu Ger!
Lagi lagi Alessa pasrah saat Gerry tiba tiba menciumnya, tak ada penolakan darinya. Wanita itu langsung bersandar di dada Gerry, meresapi sentuhan calon suaminya di atas perut buncitnya. "Kenapa kamu suka sekali menciumku Gerry. " protes Alessa dengan wajah cemberut.
"Karena aku ketagihan sama bibirmu sayang, bibirmu manis membuatku candu. " goda Gerry dengan seringainya. Alessa hanya memutar matanya malas mendengar gombalan dari sang calon suami. Gerry terkekeh melihat reaksi lucu dari Alessanya.
Drt
drt
drt
Gerry merogoh ke dalam saku celana, mengambil ponselnya. Alessa memperhatikan Gerry yang terlihat terkejut. "Halo Gab ada apa kamu hubungi kakak sore sore begini!
__ADS_1
"Kak aku sudah berada di indonesia, aku dalam perjalanan ke mansion kakak, plese shareloc mansion kakak yang baru! Gerry sempat melirik kearah Alessa, setelah itu memghembuskan nafas berat.
"Sebaiknya kamu cari hotel saja Gabby, lagian kenapa kamu pulang ke indonesia tanpa memberitahu kakak hah. " ujar Gerry kesal.
"Cepat beritahu alamat kakak. " decak Gabby dalam telepon.
Tut Gerry langsung mematikannya, dia memiliki alasan kenapa tidak memberikan alamatnya pada sang adik. Setelah menyimpan ponselnya, pria itu menoleh kearah Alessa. Wanita itu kini berada di pangkuan Gerry, mengusap kepala pria itu dengan lembut. "Kenapa kamu tidak memberitahu adikmu Ger? "
"Aku hanya tidak ingin kamu di sakiti dengan ucapannya sayang, jika Gabby tinggal bersama kita. " jelas Gerry dengan lembut.
"Ya sudah turunkan aku Ger, aku mau mandi. " rengeknya. Gerry membopongnya, membawa Alessa menuju ke kamar atas. Sampai sana Alessa menahan tubuh prianya yang hendak ikut masuk ke kamar mandi.
"Sayang, kita belum nikah jangan ikut mandi bareng aku. " omel Alessa galak. Gerry tidak peduli, dia langsung masuk dan membuka seluruh pakaiannya. Tubuh Alessa langsung lemas melihat tubuh gagah dari Gerry yang polos. Gerry membantu Alessa melepas pakaiannya, lalu Gerry menyalakan shower. Jakunnya naik turun melihat tubuh seksi calon istrinya.
"Ger ak.. " Gerry kembali memagutnya namun kali ini lebih liar dan panas. Alessapun mengalungkan tangannya, wanita itu menikmati sentuhan Gerry di dua gundukannya. Dia menekan kepala Gerry agar semakin memperdalam ciumannya di dua buahnya yang besar.
Skip selesai mandi, Gerry mengambil handuk di lilitkan di pinggang dan juga untuk Alessa setelah itu membawanya keluar, dia tidak ingin calon istrinya sakit.
Alessa berbaring di atas ranjang, diapun membiarkan Gerry menyentuhnya. Gerry menghentikan aksinya, dia kembali menatap wanitanya dengan lekat. "Maafkan aku sayang, aku janji kita akan segera menikah secepatnya!
Di usapnya dada bidang Gerry yang polos, sesekali di kecupnya pelan. Gerry menggeram, berusaha menahan dirinya agar tidak lepas kendali lagi. "Sabar ya sayang, setelah menikah aku milikmu seutuhnya, kamu bisa meminta hakmu padaku. " ucap Alessa dengan senyuman manisnya.
Gerry tertegun melihat senyuman manis Alessa pertama kali, hatinya menghangat mendengar ucapan wanitanya. Tak dipungkiri semenjak Alessa hadir dalam hidupnya, hidupnya lebih berwarna dan sebentar lagi dirinya memiliki anak. Alessa memperbaiki pakaiannya yang kusut, dia bersandar di dada Gerry dengan tangannya mengusap perut buncitnya.
"Yank kamu sudah membuka hatimu untukku, memerimaku dalam hidupmu? "
"Iya Gerry, kamu calon suamiku dan papa dari calon buah hati kita. " sahut Alessa dengan senyuman merekahnya.
Gerry yang hatinya berbunga langsung menciumi wajah Alessa lalu turun ke perutnya, menyapa calon anak mereka. Alessa tersenyum geli melihat tingkah lucu dari calon suaminya. "Baby pasti bangga memiliki mama sepertimu Echa!
__ADS_1
"Kamu juga Gerry!
tbc