
Miranda meremas dress yang dia pakai, media menayangkan konferensi pers yang di lakukan Nagara dan Ella. Wanita itu merasa bersalah pada sepupunya, entah siapa yang mengirim kabar mengenai dirinya yang menjadi orang ketiga di antara hubungan Ella dan Nagara.
"Maafkan aku Ella, kenapa kamu masih bisa bersikap baik setelah apa yang aku lakukan padamu kemarin. " gumamnya lirih.
Tring
From xxx
Lihat Baby, dalam sekejap aku tahu masa lalu kamu kemarin. Apakah kamu terkejut sekarang, temui aku di sebuah Villa jika ingin reputasimu kembali baik.
Mira mengumpat pelan, dirinya tahu siapa yang mengirim pesan ancaman ini padanya. Tidak lain Nelson, pria itu masih tak menyerah mengejarnya sampai sekarang. Wanita itu segera menghapus pesan itu, apa yang harus dia lakukan sekarang pikir Miranda.
"Apa aku hubungi Vano aja. " gumamnya. Miranda berusaha menghubungi sang suami, meminta bantuan padanya. dia berdecak pelan nomor sang suami tak bisa dia hubungi, bangkit dan mengambil tasnya lalu ke luar.
Mira masuk ke dalam taksi, keputusannya sudah bulat untuk menemui Nelson dan bersikap tegas pada pria itu. Dia ingin pria itu tak lagi menganggunya, menghela nafas panjang. Entah kenapa takdir selalu tak berpihak padanya, mungkin ini karma baginya karena sikapnya yang lalu.
Sementara itu Jovano tengah menyuruh asistennya untuk mengadakan konferensi pers demi memulihkan nama baik Miranda, istrinya. Dia memeriksa ponselnya, ada panggilan tak terjawab dari sang istri.
"Permisi tuan, video mengenai masa lalu nyonya Mira tersebar karena ulah dari seorang pria bernama Nelson. " ujar sang asisten menjelaskan panjang lebar.Jovano mengepalkan tangannya, teringat dengan sangat istri pria itu bangkit dan berlari ke luar.
"Sial, sayang ayo angkat. " umpatnya pelan mencoba menghubungi istrinya. Jovano melajukan roda empatnya kencang, berusaha melacak posisi sang istri saat ini. Berkali kali pria itu mengumpat, nomor istrinya tak bisa dia hubungi. Setelah menemukan posisi Miranda, Jovano mencoba menahan amarahnya.
"Kenapa kamu harus nekat sayang. " gumam Jovano geram. Dia juga menghubungi Nagara, meminta bantuan pada sahabatnya itu setelah menjelaskan kronologinya. Kini Miranda telah sampai di sebuah Villa, wanita itu turun dan melangkah ragu.
__ADS_1
Meskipun takut, dia berusaha kuat dan tegar melangkah menuju ke Villa dengan berjalan kaki. Saat hendak membuka pintu, mulutnya di bekap dan tubuhnya di seret menjauh dari Villa. Mira mengigit tangan pria itu dan menoleh, terkejut melihat suaminya 'lah yang menahannya. "Vano. " gumamnya lirih.
"Apa kamu gila hah, kau hampir saja masuk dalam jebakan pria gila itu Mira. " ujar Jovano dengan nada tinggi.
"Lalu aku harus apa, apa aku hanya akan diam saat pria itu terus mengancamku. Aku harus menghentikan ini semua Vano, sebagai permintaan maafku pada orang orang yang aku sakiti. " balas Mira frustrasi.
"Vano. " keduanya menoleh, Nagara datang bersamaan dengan Ella istrinya. Ella terkejut melihat sosok sepupunya berada di hadapannya saat ini.
Prok prok prok
"Drama picisan. " sinis Nelson menatap tak suka kearah Jovan yang memeluk Miranda. Mira kembali menatap kearah Nelson yang berdiri tak jauh darinya, berjalan pelan menuju ke tempat pria itu, mengabaikan teriakan suaminya.
"Berhenti mengangguku Tuan Nelson yang terhormat. " geram Mira dengan tatapan benci tertuju pada Nelson, pria bermata cokelat itu. Nelson terkekeh, meraih tangan Mira lalu menggenggamnya erat.
"Sialan lepaskan tanganmu dari tangan istriku brengsek! Rahang Jovan mengeras, tatapannya berubah tajam kearah Nelson. Nelson meremas tangan Mira membuat Mira meringis kesakitan.
"Apa maksud pria itu Mira, katakan!
"Jovano adalah suamiku Tuan, kami telah menikah dua hari yang lalu. " tegas Miranda. Nelson benar benar terkejut mendengar pernyataan Mira, wanita pujaannya. Dia tidak bisa menerima kenyataan pahit ini, Miranda semakin ketakutan merasakan aura Nelson yang menakutkan.
"Ceraikan suamimu lalu pergilah bersamaku Mira sayang. " raut wajah Nelson berubah dalam sekejab, Mira hanya terdiam tanpa berkata apapun. Wanita itu menghela nafas panjang, melirik kearah Jovano yang juga melihatnya.
"Aku tak ada pilihan lain!
__ADS_1
"Baiklah aku ikut denganmu. " ucapnya pelan. sambil menunduk.
Duarr
Semua orang terkejut mendengarnya, Jovano begitu marah dan kecewa akan keputusan istrinya itu. Ada rasa asing dalam dirinya yang begitu panas melihat Nelson yang merangkul Mira, istrinya.
"Ella, Gara aku minta maaf pada kalian atas sikap menjijikan aku kemarin. " sesal Mira sambil menatap sendu kearah Ella sepupunya. Ella menitikkan air matanya, meski awalnya dia marah pada Mira namun akhirnya memilih memaafkan wanita itu. Setelah meminta maaf, Mira menghampiri Jovano setelah mendapat izin dari Nelson.
"Kenapa kau lakukan ini Mira, kenapa? " bentak Jovano mengguncang tubuh istrinya itu. Mira menangis tergugu merasakan kemarahan suaminya, pria yang mulai dia cintai. Wanita itu langsung memeluk sang suami dengan erat, melampiaskan semua rasa yang campur aduk dalam dadanya. Jovano tak membalasnya, pria itu mengatur nafasnya yang memburu karena marah.
Beberapa saat berlalu dengan tak rela Mira melepaskan pelukannya, menatap sendu kearah sang suami. "Sekali lagi maafkan aku, bencilah aku seumur hidupmu Vano!
Nelson yang tak sabaran segera menariknya, membawanya pergi dari sana sambil tersenyum penuh kemenangan. Jovano sempat menghajar Nelson hingga babak belur namun tak membuat Nelson menghentikan aksinya membawa Mira pergi.
Ella menangis dalam pelukan sang suami, wanita itu merasa kasihan melihat nasib tragis yang di alami oleh Mira. Mira menatap Jovano dari dalam balik mobil, dia menangis dalam diam. Nagara menghela nafas berat, menepuk pundak temannya itu dan memberikan dukungan pada Jovano.
"Tenangkan dirimu Vano, mungkin ini keputusan terbaik demi kamu dan Mira, istrimu memilih mengorbankan dirinya sekaligus menebus kesalahannya yang
lalu. "Jovano memilih pergi tanpa berkata apapun, pria itu terlanjur kecewa, marah dan sakit hati akan keputusan sepihak yang di ambil Miranda. Dia butuh menenangkan diri untuk saat ini, mungkin dirinya memang belum sepenuhnya mencintai Miranda tapi bukan ini yang dia inginkan.
"Sayang, kita pulang. si kembar pasti nyariin kita. " ajak Nagara pada istrinya. Ella mengangguk, wanita itu pasrah saat suaminya menggendongnya ke mobil. Selama perjalanan keduanya tak saling bicara, Ella larut memikirkan nasib Miranda yang tak bisa dia tebak.
Nagara menggenggam tangan sang istri, mengusapnya lembut dan berusaha menenangkan wanitanya. Ella bersandar di bahu suaminya, kepalanya terasa pusing memikirkan Miranda. "Sudah lama aku memaafkan Mira mas, aku tak menyangka dia memiliki jalan takdir seperti ini. Aku harap di sana keadaannya akan baik baik saja nantinya. "
__ADS_1
"Kalau kamu lelah tidurlah sayang, nanti aku bangunin kalau sudah sampai. " Nagara mengusap kepala sang istri dengan lembutx dia akhiri dengan kecupan singkat. Ella mengangguk, Nagara membiarkan istrinya beristirahat.