Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
TCBS PART 18 | S2 - SEBUAH PENYESALAN


__ADS_3

Like, vote dan komen ya hehe


Louis membuka matanya, cahaya matahari membuatnya silau. Tangannya mengapai tempat di sebelahnya. Kosong, pria itu bangun dan tersadar jika dirinya semalam tidur sendiri. Dia menghembuskan nafas kasar, teringat pertengkaran dengan istrinya kemarin. Louis segera turun, berjalan menuju ke kamar mandi.


Selesai berpakaian, dia segera ke luar dan mencari istrinya di bawah. Louis menarik kursi, kemudian duduk di samping Nia. Wajahnya datar, melihat kehadiran kakak iparnya yang menyebalkan.


"Nia kamu tidak mau bicara pada suamimu? " tanya Danzo memancing Louis supaya penasaran. Dan hal itu berhasil, Louis nampak menunggu, apa yang ingin di katakan istrinya tersebut.


"Louis, hari ini aku akan pergi bersama kak Zo, mengunjungi kakek di negara Y. " ujar Nia dengan malas malasan.


"Tidak boleh!


Nia menoleh, melirik tajam kearah suaminya sambil berkata. "aku rindu kakek, jadi kamu enggak berhak melarangku meski kau suamiku dan ingat akan ucapanmu kemarin. " pungkas Nia dengan wajah datarnya.


"Berapa lama kamu di sana? "


"Sampai batas waktu yang tak bisa


kutentukan. " Nia bangkit dan pergi dari sana, Danzo memicingkan matanya melihat sikap adik dan iparnya nmun memilih diam. Dia segera menyusul Nia yang lebih dulu ke luar, Louis mengepalkan tangannya dan bergegas menyusul istrinya.


"Sialan, sepertinya Nia benar benar menghindariku dan masih sangat marah. " gumam Louis menatap kepergian mobil kakak iparnya.


Louis mengambil ponselnya, menghubungi Harry. Dia menyambar ponselnya lalu ke luar. Pria itu mengmudikan mobilbya dengan kecepatan tinggi menuju bandara.


Setelah menempuh beberapa jam, akhirnya Nia dan kakaknya tiba di negara Y. Kini mereka dalam perjalanan menuju ke mansion mewah milik kakek Russell.



"Kakek. " Nia berjalan kearah pria tua itu, lalu memeluknya. Kakek Rusell membalas pelukan cucu perempuannya itu dengan lembut. Nia melepas pelukannya, wanita itu meminta maaf pada kakeknya atas aksi kaburnya kemarin.


"Kakek benar benar khawatir sama kamu Nia, dasar gadis nakal!

__ADS_1


"Maafin Nia kek!


Kakek menghela nafas berat lalu mengangguk, merangkul cucunya dan membawanya ke ruang tamu diikuti Danzo. Setelah berbincang dengan kakeknya, Nia meminta izin pergi ke jalan jalan sebentar. Wanita itu ke luar dari mansion, duduk di dekat kolam.


"Sayang! "


Niapun menoleh, terlihat Louis berdiri dari kejauhan dan berusaha mengikis jarak di antara mereka. Wajah wanita itu nampak masam, rupanya dia masih marah akan ucapan suaminya kemarin. Pria itu langsung memeluk erat tubuh istrinya, wanita yang telah dia hina kemarin dan kini Louis menyesalinya.


"Maafkan aku sayang, maaf!


Nia berusaha mendorong tubuh suaminya hingga pelukan itu terlepas, dia memasang wajah datarnya di hadapan suami arogannya itu. "Enak sekali kau minta maaf, setelah kamu menghinaku dan calon anakku, aku hanya diam saat kau menghinaku tapi tidak dengan calon anakku. " bentak Nia emosi.


"Hatiku sakit, saat kau meragukan calon anak dalam kandunganku yang jelas jelas kaulah pemiliknya. " gumam Nia dengan nada kecewanya.


Deg


Louis begitu bersalah pada istrinya, pria itu langsung berlutut dan menyentuh perut rata istrinya. "Maafin Daddy sayang, maaf karena meragukanmu. " sesalnya. Louis beralih menatap istrinya, Nia memalingkan wajahnya kearah lain. Dia hanya diam kala suaminya kembali mendekapnya.


"Duduklah lagi, aku akan mengambil sesuatu. " Louis langsung pergi ke arah mobilnya, Niapun kembali duduk menunggu suaminya. Tak lama pria itu kembali dengan satu kantung plastik.


"Aku membuatkanmu salad, juga nasi goreng sayang. " ujarnya lembut. Dia menyuapi istrinya nasgor, Nia membuka mulutnya kemudian mengunyah makanannya. Hati Nia kini menghangat, melihat perjuangan suaminya yang memenuhi ngidamnya.


Setelah menghabiskan salad, Louis dengan telaten mengusap bibir Wanitanya menggunakan tisu. Louis sangat senang istrinya tidak lagi menolak kehadiran dirinya.


"Kenapa kamu begitu peduli padaku, bukankah calon anakku itu bukan.. "


"Calon anak kita, lampiaskan saja padaku sayang tapi kamu harus jaga kesehatan demi janin dalam perutmu. " pinta Louis. Bibir Nia kembali terkatup rapat, dia hanya diam kala suaminya mengenggam tangannya, mengecupinya berulang ulang.


"Seharusnya sebagai suami, aku harusnya mengsupportmu, menjagamu, melindungimu serta memenuhi keinginanmu tapi justru akulah yang memberimu luka di jiwa dan ragamu, " gumam Louis sendu. Lagi lagi Nia tak menanggapinya, wanita itu diam. Diapun membiarkan suaminya berbiacara panjang lebar di hadapannya.


"Untuk dua bulan ke depan aku ingin bersama kakek dan kakak dulu. "

__ADS_1


"Baiklah, aku akan sering mengunjungimu dan menginap di sini setelah urusan kantor


selesai. " sahut Louis, menerima keputusan sang istri meskipun berat.


Nia bangkit, berjalan memasuki mansion, diikuti Louis dari belakang. Mereka bertemu dengan kakek, Louis menyapan pria tua itu.


"Kakek, saya Louis Greyson Wallace, suami dri cucu Anda dan Nia sekarang tengah hamil. " ungkap Louis dengan sikap tenangnya.


Kakek terkejut, pria itu melirik cucunya yang mengangguk kearahnya. Pria tua itu menghela nafas panjang, kembali menatap Louis dengan tatapan memgintimidasinya.


"Sepertinya aku tidak bisa menganggapmu remeh, aku terkejut dengan kenyataan ini namun aku hargai, demi cucuku asalkan dia bahagia. " ujar kakek dengan bijak. Louis tersenyum tipis, secara tidak langsung kakeknya Nia telah memberinya restu. Danzo hanya diam, mendengarkan obrolan kakek dan Louis.


"Baiklah untuk beberapa waktu Nia akan di sini, saya harus kembali dan mungkin setelah pekerjaanku selesai, akan sering ke sini. " ucap Louis.


"Hati hati nak! Louis mengangguk, pria itu mencium kening Nia singkat lalu pergi. Nia menatap kepergian suaminya dengan sorot mata tak terbaca. Kakek mengusap kepala cucunya, membuat Nia menoleh dan tersenyum. Wanita itu langsung memeluk tubuh kakeknya, melepaskan segala rindu pada sang kakek.


"Nia ke kamar dulu kakek. " Nia bangkut, wanita pergi meninggalkan kakek dan Danzo.


Setelah sepeninggal Nia, Kakek beralih menatap cucu laki lakinya yang sedari tadi hanya diam. "Danzo, kapan kamu akan menikah nak!


"Entahlah kakek, aku belum siap itu. " balas Danzo dengan wajah datarnya, kakek hanya menggeleng melihat sikap keras kepala cucu sulungnya itu.


Danzo POV


Aku masih ingin fokus pada keselamtan Nia dan dunia mafianya. aku tidak punya waktu memikirkan hal hal tentang wanita dan pernikahan. Lagian aku tidak ingin terikat dengan wanita yang merepotkan.


Danzo mengambil ponselnya, mengobrol dengan salah satu anak buahnya mengenai Sarah. Seringai licik tervit di sudut bibirnya, sepertinya wanita murahan itu belum kapok juga, berani beraninya wanita itu ingin menghancurkan rumah tangga adiknya.


"Lihat saja, aku akan membalasmu sialan!


tbc

__ADS_1


__ADS_2