
Setelah menyelidiki siapa yang menerornya, Ellapun menjadi kesal dan muak. Sikap Miranda benar benar keterlaluan menurutnya, dia tak henti hentinya mengusik kehidupan keluarga kecilnya. Ibu dua anak itu, meminta sopir mengantarnya ke suatu tempat, tentu saja tanpa izin suaminya. Ella meminta babysitter untuk menjaga kedua anaknya.
Dan di sinilah sekarang, Ella duduk berhadapan dengan Miranda sepupunya. Mencoba menahan emosinya menghadapi wanita licik seperti wanita di depannya, butuh kesabaran yang tinggi. "Aku tahu jika kau yang meneror aku beberapa hari ini. bukankah begitu Miranda? "
"Ya akulah pelakunya, aku tak akan berhenti menganggumu Ella. Wanita sepertimu tak pantas mendapatkan kebahagiaan. " sinisnya.
"Lalu seperti apa wanita sepertimu, perilaku yang sekarang telah menunjukkan bagaimana kualitas dirimu sebagai wanita terhormat. Wanita terhormat tak akan mau mengejar pria beristri tapi kamu begitu terobsesi pada suamiku. "
Miranda kehilangan kata kata, tapi sepertinya wanita itu belum mau menyerah juga. Ella benar benar kesal dengan sikap sepupunya yang tidak tahu diri ini. "Kita lihat saja nanti, apakah suamimu itu akan terus bertahan padamu atau berpaling?
Wanita itu pergi begitu saja, Ella menatap kepergian dengan rasa kesal tertahan. Dia ke luar Cafe, sopir melajukan roda empatnya kencang. Wanita itu melihat panggilan tak terjawab dari Gara, suaminya. Huft dia yakin jika Nagara mengetahui kepergiannya. Dia tak akan pernah bisa menyembunyikan kejadian ini dari suaminya, Ella segera mengirim pesan pada Gara.
Setelah mobil terparkir, Ella turun dan menemui suaminya yang kini tengah menunggu di depan pintu. Ibu dua anak itu sudah memprediksi jika suaminya pasti akan mencecarnya. "Mas Gara. " sapanya sambil tersenyum mencium bibir sang suami sekilas. Seperti biasa Gara membalasnya, dia akhiri kecupan di kening.
"Ayo masuk ke dalam, baby twins nyariin kamu. " Gara merangkul istrinya, membawanya ke dalam. Mereka menemui baby twins yang berada di ruang tamu bersama kakek dan neneknya.
"Nah mommy kamu pulang sayang. " Mami menyerahkan baby Ethan pada putrinya. Ella segera menggendong salah satu putra kembarnya. Baby Ethan langsung anteng, semua orang menahan senyumnya.
"Baby Ethan anak mommy banget ya. " ucap Mami sambil tersenyum menatap cucunya yang anteng dalam dekapan Ella. Sementara baby Evan begitu anteng dalam gendongan sang kakek.
"Emily tengah hamil lagi sayang. " ungkap Mami dengan raut bahagianya. Ella turut bahagia mendengar kabar kehamilan kakak kembarnya. Dia berharap Emily selalu bahagia bersama Rafael dengan Kanaya dan calon adik Kanaya. Ellapun menoleh pada suaminya, menatap lamat wajah Nagara. Tak ada ekspresi apapun yang di tunjukkan oleh prianya, hanya ada wajah datar.
__ADS_1
"Apa Mas Gara marah sama aku. " batin Ella resah. Wanita itu kembali fokus pada baby Ethan dalam gendongannya. Gara mengajak mertuanya berbicara berdua, para wanita membiarkannya. Setelah kepergian suaminya, fokusnya Ella kini tertuju pada sang mami.
"Mi, tadi aku datang menemui Miranda dan melabraknya. " Ella mengatakan semuanya pada sang ibu termasuk teror yang di alaminya. mami cukup terkejut mendengarnya, paruh baya itu sangat kesal dengan sikap Miranda. Mami memastikan keadaan putrinya, Ella mengatakan dirinya baik baik saja. Wanita itu bangkit, membawa baby Ethan bersamanya, sedangkan baby Evan masih berada di gendongan sang nenek.
"Mas gimana kalau kita pergi ke hotel sekalian liburan di pantai, ajak Emily dan suaminya biar tambah rame? " tanya Ella setelah dirinya memasuki kamar, menaruh putranya ke dalam box bayi.
"Ya baiklah, maafkan aku sayang. kamu pasti perlu liburan, baiklah kita bawa si kembar dan kamu bisa hubungi kakak kamu. " jawab Gara sambil tersenyum. Ella tersenyum lebar, memeluk tubuh sang suami, kini keduanya berciuman mesra. Dia bernafas lega, ternyata suaminya tidak marah akan sikapnya yang membangkang.
##
Saat ini Emily tengah bermesraan di kamar bersama sang suami. Rafael begitu posesif semenjak istrinya di kabarkan tengah hamil. Sementara si kecil Kanaya tengah bermain bersama omanya. Semua orang menyambut suka cita kehamilan Emily kali ini.
"Apapun itu aku menerimanya sayang!
Emily mencoba mencari kebohongan pada manik suaminya, namun kosong hanya ada kejujuran. Masa lalu masih membekas di ingatannya, bagaimana suami dan mertuanya terus terusan menekannya. "Sungguh mas aku gak papa, jika kamu tidak bisa menerimanya. Aku lebih rela kehilangan kamu daripada janin dalam perutku!
"Sekali lagi maafkan aku honey, maaf. Sebagai suami, aku telah bersikap kejam padamu dan putri kecil kita! Emily melabuhkan ciumannya di bibir sang suami, dia telah memaafkan kesalahan Rafael di masa lalu. Rafael mengusap perut rata istrinya setelah tautan bibir mereka terlepas, pria itu terus mengusapnya lembut. Rasa mual yang di rasakan Emily seketika lenyap, berganti rasa hangat, mendapat sentuhan di perutnya.
"Udah ya jangan ingat ingat lagi mas, aku sudah memaafkan mas Rafael. Tolong cintai aku, Kanaya dan calon anak kita yang ke dua dengan segenap hatimu mas.
"Iya sayang, tanpa di minta aku sangat mencintai kalian. Terimakasih telah mau memaafkan dan kembali pada suamimu yang kejam ini. " Emily tersenyum manis, kembali masuk dalam dekapan Rafael. Keduanya menyukai moment berdua seperti saat ini.
__ADS_1
tok
tok
"Emily, ini Kanaya nyariin kamu dan Rafa. " suara ibu mertuanya terdengar, Emily segera turun dari ranjang,mengganti pakaiannya lalu ke luar di susul Rafael. Rafael mengambil alih putri kecilnya, setelah dirinya duduk di sofa. Emily mengusap bibir putrinya yang belepotan, setelah memakan biskuitnya.
"Kenapa sayang, kamu nakal ya sama oma? " tanya Emily lembut pada balitanya.
"Mami ayo main, aya mau keluar. " ucap bocah manis itu dengan polos. Emily terkekeh mendengar ucapan polos anaknya, di kecilnya pipi Kanaya yang bulat. Dia paham jika keinginan Kanaya tidak di turuti, gadis cilik itu akan terus merengek.
"Lebih baik ajak aja Kanaya main. " sahut mommy memperhatikan interaksi kecil keluarga putranya. Emily setuju, ketiganya langsung pergi setelah berpamitan pada mommy. Mommy menghela nafas panjang, wanita itu paham jika sang menantu masih canggung padanya. Rafael melajukan roda empatnya,dengan senang hati akan menuruti permintaan dua wanita kesayangannya ini.
"Ella kirim pesan, katanya ngajak kita liburan bareng sama mereka mas, gimana?
"Jawab iya sayang, besok kita akan ke sana. " jawab Rafael dengan tetap fokus mengemudi. Emily segera membalas pesan adiknya, fokusnya kembali pada Kanaya yang ada di pangkuannya. Wanita itu mengusap kepala putrinya dengan penuh kelembutan.
"Mas, aku jahat ya. Sikapku pada mami masih begitu canggung. " ungkap Emily pada sang suami.
"Gak papa sayang, mama pasti mengerti
kok. " sahutnya pendek. Emily mengangguk, bukannya dia belum memaafkan sang mertua, hanya saja dirinya perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Sore itu mereka berkeliling, membawa si kecil ke tempat bermain.
__ADS_1