Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Extra Part 4 Twins Story : ESJ Chap 2


__ADS_3

Sebelum pulang, Zafira menyempatkan dirinya ke apotik. Entah apa yang di beli gadis itu, dia tampak terlihat sedih sambil menatap obat yang dia genggam. Gadis itu kembali ke mobil, melajukan roda empatnya dengan kencang.


Zafira Aleeza, putri tunggal dari Wina Andara Sosok gadis yang telah kehilangan sosok papanya semenjak dia masih bayi. Sikapnya yang riang dan ceria sebenarnya demi menutupi rahasianya yang selama ini dia sembunyikan. Rahasia yang dia sembunyikan demi kebaikan semua orang, Zafira tak ingin membuat sang ibu mengkhawatirkan dirinya.


Pertemuannya dengan Evan untuk pertama kali membuatnya jatuh cinta, hingga sang ibu menjodohkannya dengan pria pujaannya itu membuatnya setuju begitu saja. Namun berbeda dengan Evan yang menolaknya, berulang kali pria itu melontarkan kata kata kasar padanya namun Zafira tetap bertahan di sisi pria itu.


Zafira turun dari mobilnya, bergegas masuk ke dalam mansion. Gadis itu menyapa sang mami yang berada di ruang tengah, diapun mencium pipi wanita yang melahirkan dirinya.


"Sepertinya kamu terlihat senang nak? " tanya Mami menatap putrinya dengan lekat.


"Iya Mi, tadi aku ke kantornya Evan lalu kami makan siang bareng. " ungkap Zafira dengan riang. Mami tampak senang melihat putrinya bahagia setelah sekian lama. Gadis itu pamit pada sang ibu dan melenggang pergi ke kamarnya.


Cklek Zafira menaruh tasnya di atas meja rias, lalu melesat menuju ke kamar mandi. Sepertinya dia perlu berendam, demi menghilangkan rasa lelah di sekujur tubuhnya. Setelah satu jam gadis itu ke luar dari kamar mandi, segera mengenakan dress santainya.


Gadis itu merebahkan dirinya di atas ranjang empuknya sambil menggenggam ponselnya. Zafira segera membalas pesan dari sang kekasih, hatinya saat ini begitu berbunga bunga. Evan, pria itu begitu berarti dalam hidupnya dan dia juga alasan dirinya mampu melewati ketakutannya selama ini.


"Aku harap Evan tak mengecewakan aku sama seperti mendiang Papi. " gumamnya penuh harap. Mengingat mendiang papinya lagi membuat hati kecilnya kembali terluka, dia masih mengingat bagaimana kejamnya papinya yang mengkhianati mami dan dirinya.


Malam harinya Evan datang berkunjung ke rumah Zafira, pria itu sengaja memberikan kejutan untuk sang kekasih. Pria itu telah meminta izin pada calon mertuanya, dia bergegas menuju ke kamar Zafira di lantai dua.


Cklek


Evan terbelalak melihat gadisnya tengah memegangi perutnya, Zafira segera menelan obatnya dan meneguk segelas air. Setelah itu bangun, berbalik dengan mata membulat sempurna melihat kehadiran kekasihnya.

__ADS_1


"Evan. " gumamnya dengan nada gugup. Evan berjalan mendekati sang kekasih dengan tatapan curiganya.


"Kau sakit, kenapa kamu menelan obat tadi? " tanya Evan penasaran.


"Hanya pusing. " elaknya sambil memalingkan wajah. Evan memilih mengangguk percaya, dia memberitahu tujuannya pada sang kekasih.


"Aku tunggu di luar. " Evan berbalik dan melangkah ke luar dari kamar Zafira. Zafira buru buru menganti pakaiannya, malam ini dia akan dinner dengan pria pujaannya. Setelah selesai gadis itu ke luar, menuruni anak tangga dan menghampiri Evan.


Pria itu terpesona akan penampilan sanga


kekasih, lalu berdehem menetralkan rasa gugupnya. Evan langsung mengajaknya pergi setelah mendapatkan izinnya. Selama perjalanan tak ada yang berbicara, Zafira justru asyik menikmati pemandangan dari balik kaca mobil.


Hingga mereka sampai Evan langsung turun di susul Zafira, gadis itu cukup terkejut dengan kejutan romantis yang di berikan Evan padanya. Mereka akan makan malam di tepi pantai, banyak lilin dan bunga yang mengitari sekeliling mereka.


Evan menarik kursi membiarkan Zafira duduk dengan nyaman setelah itu baru dirinya. Gadis itu masih tak percaya, Evan menyiapkan kejutan ini untuk dirinya.


Selesai makan malam, Zafira bangkit dan berdiri menatap bintang. Entah apa yang tengah di pikirkan gadis itu, dari sorot mata terlihat ada kesedihan di dalamnya.


"Sepertinya Papi berada di antara salah satu bintang itu, aku benci papa selama hidupku. " gumam gadis itu lirih.


"Rasanya sangat sakit mengingat papi memilih keluarga barunya daripada aku dan Mami! Evan langsung memeluknya dengan erat, tangis Zafira pecah dalam dekapan sang kekasih. Pria itu mengusap punggung gadisnya, membisikkan kata kata penenang untuk Zafira. Diapun melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dengan cepat.


"Maaf aku terbawa suasana Van!

__ADS_1


"Its oke honey, please jangan menangis lagi, aku tak suka. " Evan menggenggam tangannya erat, Zafira tersenyum tipis melihatnya. Pria itu mencium keningnya membuat Zafira terkejut, pipinya langsung merona.


Mereka kembali duduk, Zafira bersandar di bahu sang kekasih, keduanya sama sama melihat bintang. Melihat Zafira yang begitu rapuh, membuat sisi terdalamnya bangkit dan ingin melindungi Zafira. Tatapan keduanya kembali bertemu, Evan hendak menciumnya namun Zafira membungkam bibir kekasihnya.


"Please jangan cium aku jika kamu belum mencintaiku Van, aku tak apa apa jika kamu belum mau membuka hatimu asalkan aku bisa di sisimu seperti ini. " ungkap Zafira dengan senyuman manisnya.


"Belum tentu aku bisa berada di sisimu selamanya Van, aku akan memastikan kamu bahagia meski bukan karena aku. Aku yakin kamu telah memiliki seseorang yang begitu spesial dalam hatimu " batin Zafira dalam hati.


Evan menarik tangan sang kekasih dengan pelan, raut wajahnya tampak kelam mendengar perbuatan Zafira. "Lagi lagi ucapanmu begitu membuatku bingung Fira, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku!


"Tak ada Evan, bagaimana bisa kamu berfikir jika aku merahasiakan sesuatu!


Evan berdecak pelan, pria itu hanya mencium kening Zafira, gadis itu tentu senang melihat Evan yang menuruti keinginannya. Pria itu menahan nafas dalam dalam, lalu menghembuskan secara perlahan.


"Aku sudah bicara sama Daddy, aku ingin pertunangan kita di percepat begitu pula pernikahan kita. " ungkap Evan. Mata Zafira membulat sempurna, bagaimana bisa Evan memutuskan semuanya sendiri. Gadis itu kini terlihat memikirkan cara agar bisa membujuk Evan untuk tidak mempercepat pernikahan mereka nantinya.


"Tapi Van!


"Kenapa kamu tak setuju, berikan alasan yang tepat Fira? Evan menatap lekat gadis di sebelahnya saat ini.


"Bukankah jika kita menikah secepatnya, aku bisa segera belajar mencintai kamu Fira? " tanya Evan lagi dengan nada penuh penekanan.


"Cukup pertunangan kita yang di percepat, soal pernikahan itu bukanlah sesuatu yang bisa di permainkan, pernikahan itu begitu sakral. " balas Zafira sambil menyakinkan kekasihnya. Evan tak lagi bicara, pria itu menghembuskan nafas berat gagal mendesak gadisnya untuk berbicara jujur.

__ADS_1


"Baiklah Fira, aku akan mencaritahu sendiri apa yang kau sembunyikan!


Zafira mencium pipi Evan lagi, dia berusaha agar Evan tak marah padanya. pria itu mengacak rambutnya gemas akan tingkah Zafira. Tepat pukul sepuluh malam, keduanya memutuskan pulang. Evan lebih dulu mengantarkan Zafira ke rumah gadis itu.


__ADS_2