
Cyra kini telah mengubah penampilannya, diapun ke luar dari Villanya. Dia memilih menggunakan motor agar tak ada yang mencurigainya. Dia melaju kencang, pergi ke mall membeli pakaian baru. Setibanya di pusat perbelanjaan, dia melongo melihat kerumunan wanita di depan pintu.
"Kenapa nih kok berbaris gini, memangnya presiden akan datang!
Cyra pun tak peduli, diapun langsung masuk begitu saja ke dalam mall. Tak lama rombongan istana datang, para wanita terpesona akan ketampanan dari sang pewaris tahta.
Tuan Muda Ray nampak acuh, tak mempedulikan para wanita yang menatapnya dengan pandangan memuja. Diapun berjalan menuju ke tempat pakaian pria di ikuti pelayan dan pengawalnya.
" Tidak ada orang bukan, di sini!
"Enggak ada Yang Mulia. " ujar sang pelayan. Tuan muda Ray langsung mengangkat tangannya, melambai menyuruh pelayan pergi begitu juga pengawalnya. Setelah itu dia focus memilih pakaian yang dia inginkan, Ray nampak menajamkan pendengarannya, dia mendengar suara seseorang menyanyi.
Ray langsung menuju ke tempat suara itu, dari jauh dia melihat sosok Cyra yang tengah memilih dress sambil bersenandung kecil. Diapun berjalan pelan menghampiri gadis itu, sepertinya Cyra tak menyadari kehadiran Ray. Ray hanya diam, memperhatikan tingkah gadis itu.
Selesai memilih Cyra membalikkan tubuhnya, terkejut melihat kehadiran Ray. Cyra nampak tak peduli, berjalan melewati Ray begitu saja namun Ray mencekal lengannya, sontak membuat Cyra berhenti dan menoleh kearahnya. "Ada apa Tuan, kenapa Anda menahan tangan aku?
" Kenapa kamu ada di sini, padahal aku sudah meminta pelayan mengosongkan tempat ini. " ujarnya dengan nada datar.
"Apa Tuan tak melihat, aku sedang belanja dan aku tak tahu akan perintahmu itu. Tolong lepaskan saya Tuan, saya harus bayar ke kasir setelah itu pulang. "
Ray nampak kesal dengan kebawelan gadis di depannya, tanpa aba aba dia langsung menggendong Cyra ala bridal style. Cyra pun memekik, dia mengalungkan tangannya ke leher Ray. Ray membawanya ke luar, semua orang tercengang melihat tuan muda yang terkenal dingin menggendong seorang gadis, lalu memasukkan dalam mobil.
"Jalan. " titahnya pada sang sopir, sopir pun melajukan mobilnya kencang. Cyra semakin panik dan gelisah berada satu mobil dengan pria asing. Dia berusaha membuka pintunya namun tak bisa karena tangannya di tahan Ray.
"Maafkan aku Tuan, tolong lepaskan aku! pinta Cyra sambil memohon.
Ray hanya diam, tak menanggapinya karena sibuk dengan gadgetnya. Cyra mendengus kesal, aktingnya tak mampu meluluhkan pria di sampingnya. Dia gagal mencari kesempatan untuk kabur, kini dia memilih pasrah dan diam.
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai di istana Wallace, Ray turun dari mobil sambil menarik tangan Cyra. Keduanya pun masuk ke dalam, seperti biasa para pelayan berjajar dan menyanbut kepulangan sang tuan muda. Ray dan Cyra berjalan melewati mereka semua, dia melirik kearah salah satu pelayan.
"Pelayan, kalian make over gadis ini dan jangan biarkan dia kabur. " Ray melepaskan cekalan tangannya, dan menatap Cyra sekilas.
"Baik tuan muda, mari nona. " para pelayan membawa Cyra ke ruangan lain. Tuan Muda Ray memilih bersantai di ruang tamu sambil memainkan gadgetnya.
Satu jam kemudian pelayan mengantarkan Cyra ke hadapan tuan muda mereka. Raypun menyimpan gadgetnya, menoleh dan langsung terkesima melihat penampilan Cyra.
"Bagus, kalian boleh pergi! Para pelayan membungkuk setelah itu pergi dari sana. Ray beralih menatap kearah Cyra dengan tatapan penuh arti. "Katakan siapa nama kamu nona? "
"Aku Su, Sienna Cyra Arabella Tuan! Dia hampir saja keceplosan menyebutkan identitas aslinya pada pria asing di hadapannya.
"Duduklah Cyra di sampingku. " Dengan ragu ragu dia duduk di sebelah Ray, Ray mendekat dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"Perkenalkan saya Chester Raymond Wallace, selamat datang di istanaku Cyra! Cyra sangat syok, tubuhnya bergetar mendengar penjelasan dari Ray,
Ray mengamati ekspresi Cyra keseluruhan, Cyra menghela nafas panjang kemudian menatap kembali kearah Ray. "Em Tuan, saya mau pulang bisakah anda membiarkan saya pulang!
" Tidak! mulai saat ini kamu akan tinggal di istana ini. Kamu bisa melakukan apapun kecuali pergi dari istana ini. "
Jderr
Bagai tersambar petir di pagi hari, Cyra tampak terperangah mendengar ucapan Ray. Diapun bangkit dan melenggang ke luar dari istana dan sang tuan muda mengikutinya dari belakang. Wajahnya nampak murung, teringat dulu saat Daddynya mengurungnya di mansion, hanya karena kesalahan yang tidak dia perbuat.
"Huft lagi lagi burung dalam sangkar. " gumam Cyra dengan lesu. Dia berjalan sambil melamun, tiba tiba kakinya tergelincir dan tubuhnya hampir menyentuh tanah namun dengan cepat Ray merangkulnya. Cyra sangat syok, dia menoleh dan menatap kearah Ray yang memeluk dirinya.
"Terimakasih telah menolongku Tuan Muda! Cra mendorong pelan tubuh Ray, Ray hanya diam dan memperhatikan Cyra lagi.
" Lain kali hati hati, jangan ceroboh dan perhatikan jalanmu!
__ADS_1
Cyra mengangguk, dia berusaha menghubungi pamannya namun Ray mencegahnya. Ray berbalik dan kembali ke dalam istana. Cyra menghela nafas panjang, tak bisa berbuat apa apa.
Di sisi lain Daddy dan Mommy tampak cemas karena Cyra tak pulang kerumahnya, di tambah keadaan Maura yang kian hari memburuk perlu segera pencangkokan donor ginjal.
"Lakukan sesuatu Daddy, mommy tak mau terjadi sesuatu pada Maura, Daddy sebaiknya mencari pendonor tetapi bukan puteri sulung kita!
Daddy mengambil ponselnya, menghubungi orang suruhannya untuk dicarikan pendonor setelah selesai di simpan nya ponselnya dalam saku.
**
Seorang gadis menatap penampilan Cyra dari atas sampai bawah kemudian memandangnya dengan sinis. " Kamu siapa, kenapa kamu berada di istana calon suamiku. "
"Apakah penting kamu mengetahui siapa aku nona!
" Jaga bicara kamu, kamu tidak tahu siapa aku! aku Puteri Elizabeth, calon permaisuri Tuan Muda Ray. " geram Eliza. Cyra tak peduli, dia memilih duduk bersantai, mengabaikan kehadiran gadis di depannya. Eliza merasa geram, dia menarik tangan Cyra lalu membawanya ke dalam, menemui Ray.
"Ray, katakan siapa gadis ini kenapa dia bisa di sini? "
"Bukankah kamu sudah tahu namanya! Ray pun bangkit, menepis tangan Eliza, lalu membawa Cyra ke pelukannya. Cyra sangat terkejut dengan tindakan Tuan muda termasuk Eliza.
Eliza merasa tidak terima, dia hendak menyakiti Cyra namun Ray menghalanginya. Ray memberikan tatapan peringatan pada Eliza untuk menjaga sikapnya. " Sebaiknya kamu pergi Eliza, jangan berbuat onar di istana ku
ini. "
Eliza berdecak kesal, berbalik dan melenggang pergi dengan perasaan kesalnya. Cyrapun langsung menatap Ray dengan raut wajah tak Terima. "Kenapa Tuan muda melibatkan aku sih, aku yakin nona Eliza akan mencari masalah denganku. " keluhnya.
"Tenanglah, aku tak akan membiarkan dia menyakitimu, jangan lupa nanti malam ikut aku ke jamuan makan malam di istana Cairos. "
"Tak ada penolakan! Cyra mengangguk pasrah, mengiyakan keinginan sang Tuan muda.
bersambung
__ADS_1