
"Pria itu pasti gila. " umpat Mira untuk kesekian kali. Wanita membuang nafas kasar, merasa lelah setelah berlari cukup jauh. Mira benar benar sakit dengan perlakuan pria itu padanya, seakan dirinya wanita murahan yang mudah di sentuh.
"Aku memang bukan wanita murahan, tapi justru melakukan hal hal yang menjijikan, menggoda pria yang telah beristri. " gumamnya lirih. Mira memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Gadis itu masuk ke dalam taksi, taksi melaju kencang. Tiba di rumahnya, wanita itu sangat terkejut melihat pria yang sangat dia benci kini berada di depannya.
"Kau, bagaimana bisa kau di sini? "
"Tentu saja aku tahu, identitasmu yang sebenarnya Nona Miranda Claire! Nelson bergerak maju, Mira berjalan mundur dan berusaha menghindar dari pria berbahaya di depannya ini. Pria itu berhasil menangkapnya, memanggulnya bak karung beras dan membawanya masuk ke rumah Mira.
"Lepaskan aku! Nelson mengabaikannya, pria itu tetap tenang membawa wanitanya menuju ke kamar membuat Mira panik.
Bruk
"Apa yang kau lakukan Tuan? " Miranda semakin panik melihat Nelson yang tengah melepas kancing kemeja pria itu sendiri, Nelson tersenyum miring kearahnya. Kini dengan cepat melepaskan pakaian Mira dengan paksa tanpa mempedulikan umpatan Mira padanya.
"Nelson Brees Emre, itulah namaku. Aku begitu menginginkan kamu Miranda. " gumam Nelson dengan tatapan penuh damba. Mira menggeleng, berusaha mendorongnya namun tenaga Nelson lebih besar darinya.
Cup Nelson langsung membungkamnya dengan ciuman, menyentuh titik titik sensitif milik Miranda. Suara merdu wanitanya membuat hasratnya semakin menggebu gebu. Sore itu menjadi sore yang panjang untuk keduanya, Nelson terus menggempurnya tanpa membiarkan Mira istirahat.
"Ah. " Keduanya sama sama mencapai puncak dalam kubangan hasrat yang membara. Mira menitikkan air mata, mendorong tubuh Nelson hingga penyatuan mereka terlepas. Meski bukan yang pertama untuknya, tetap saja ini begitu menyakitinya. Lagi lagi dirinya di anggap perempuan murahan oleh laki laki.
Nelson merasa puas setelah menyentuh Mira, pria itu membawa Mira ke pelukannya tanpa merasa bersalah. "Aku puas dengan pelayananmu sayang!
__ADS_1
"Lepas, aku membencimu tuan Nelson. " tangis Mira pecah sambil memukuli dada bidang Nelson. Nelson menghela nafas panjang, mencekal tangannya kemudian menciumnya lagi dengan lembut.
"Kenapa kamu marah hm, bukankah ini bukan yang pertama untukmu? " Nelson tersenyum sinis kearah Mira, wanita itu bangkit sambil memegang selimut dan pergi ke kamar mandi. Selesai mengenakan pakaiannya, Mira lebih banyak diam, sakit hati akan ucapan Nelson padanya.
Nelson terus memperhatikannya sejak tadi, fokus pria itu tak lepas dari sosok Miranda Claire. "Bukankah benar apa yang aku katakan, jika kamu wanita baik, kamu tak akan berusaha menggoda pria yang telah beristri. " kekehnya membuat Mira kembali teringat dengan sikapnya kemarin.
Mira menghembuskan nafas berat, kembali menatap Nelson dengan raut datar tanpa ekspresi. "Ya anggap saja begitu, kalau begitu silakan pergi dari sini Tuan Nelson yang terhormat. Bukankah Anda telah selesai menggunakan tubuh saya sebagai pelampiasan Anda!
"Anggap saja ini balasan untuk pakaian wanita yang bersama Anda yang saya kotori tadi. " Nelson terperangah melihat sikap tenang yang di tunjukkan Mira padanya. Bukan ini yang dia inginkan, Nelson mengumpat pelan dalam hatinya.
Pria itu bangkit, ke luar dari rumah Mira sambil membanting pintu, wanita itu bernafas lega. Mira segera mengunci pintu rumahnya, dia tak ingin pria itu kembali masuk. Rasanya dia ingin menyerah saja, kenapa hidupnya seperti ini sekarang. "Papi, Mira kangen sama papi. " gumam Mira lirih.
Malam harinya Mira tengah bersiap, menghadiri pesta perusahaan milik Nelson. Dia terpaksa hadir setelah mendapat ancaman dari Nelson sendiri. Mira akan menghindari pria itu sebisa mungkin nanti, sudah cukup pria itu melukai hatinya.
Nelson hendak meraih tangan Mira namun di hempaskan seseorang, pria itu menoleh dan melihat sosok Delia. "Sayang, jaga sikapmu. Bagaimana bisa kamu hendak menyentuh wanita ini hah. " geram Delia.
"Dan kau, bagaimana bisa kau ada di sini. Jangan bilang kau sengaja menggoda suamiku hah. " pekik Delia keras membuat semua orang mendengarnya. Mira merasakan malu di permalukan di depan para tamu penting.
Grep
Mira terkejut, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Wanita itu menoleh, melihat sosok Jovan berada di sebelahnya. "Jovan. " gumam Mira lirih.
__ADS_1
"Tutup mulutmu, Dia adalah Mira kekasihku. Jangan menuduhnya sebagai penggoda suamimu. " ujar Jovano dengan nada dingin. Mira menenggelamkan wajahnya di dada Jovan, sekuat tenaga menahan air matanya. Rahang Nelson mengeras, melihat Mira yang memeluk pria lain di depannya.
Jika tidak ada banyak orang, Nelson sudah akan menghajar Jovano. Dia tidak terima melihat Mira di peluk pria itu. Nyali Delia menciut, merinding melihat tatapan dingin Jovano padanya.
"Bawa aku pergi Jovan. " bisik Mira lirih. Tanpa banyak kata Jovano langsung menggendongnya, membawanya pergi dari sana. Tatapan Nelson semakin memanas melihat pemandangan itu, hatinya terbakar.
"Sial. " umpatnya menatap kepergian Mira dan Jovano. Selama perjalanan keduanya tak saling berbicara, Mira terus menghapus air matanya. Pria itu menepikkan mobilnya, Mira hanya diam tak bertanya apapun.
"Kenapa kau hanya diam saat wanita itu menghinamu Mira, apa memang benar kamu menggoda pria itu? " tuduhnya.
"Ini urusanku Jovan, kenapa kamu menolongku. Tolong jangan buat aku salah paham akan sikapmu ini padaku, bersikap biasalah seperti biasanya yang kamu tak peduli padaku. " pinta Mira tanpa menatap wajah Jovano. Jovano berdecak pelan, melihat sikap Mira yang masih keras kepala hingga saat ini. Pria itu memilih tak peduli, kembali menyalakan mobilnya.
Kini keduanya telah sampai di depan rumah Mira, keduanya sama sama diam tak lagi berdebat. Tanpa menoleh Mira segera turun dari mobil Jovano, Jovano menghela nafas kasar melihatnya. "Terimakasih telah mengantarku, sebaiknya kamu pulang Van!
Merasa lelah Mira segera masuk ke dalam, tak mempedulikan keberadaan Jovano. Setelah merebahkan diri, wanita itu langsung memejamkan kedua matanya, berharap dia bisa melupakan kejadian malam ini esoknya. Jovano masih tak bergeming, pria itu memutuskan menginap di dalam mobil, dia masih khawatir dengan keadaan Mira. "Sepertinya aku sudah keterlaluan,mungkin dia sakit hati akan ucapanku!
Di sisi lain Nelson mengamuk dalam kamarnya, pria itu masih marah melihat pria lain menolong Mira. "Ternyata Aleena mengenal pria itu,bagaimana bisa? "
"Sebenarnya ada apa hubungan mereka berdua!
"Sialan!
__ADS_1
Nelson mengusap wajahnya kasar, menghembuskan nafas berat lalu bangkit dan pergi ke kamar mandi.