
Kini Zia berada di ruangan rawatnya sendirian, setelah pertengkarannya dengan sang mama gadis itu banyak melamun. Mamanya langsung pergi begitu saja hingga sampai sekarang tak kunjung kembali.
"Bukan mauku jika aku putri dari seorang pelakor. " gumam Zianka dengan lirih. Kenapa semua orang terus menyudutkannya, terutama kakak perempuannya Zafira yang belum bisa memaafkan dirinya dan mama Vera.
Gadis itu melepaskan infus di tangannya, dia turun dari ranjang dengan hati hati. Setelah itu ke luar dari ruangannya dan memilih pergi dari sana. Ya sebelumnya dia telah mengganti pakaiannya, kini Zia memutuskan akan pergi jauh untuk sementara.
Dia masuk ke dalam taksi, Zia telah mengambil barangnya yang ada pada suster. Sepanjang perjalanan, tatapan gadis itu begitu kosong. Kebencian Zafira yang di tuju padanya membuatnya tertekan dan tersiksa. Terlebih dia juga kehilangan cinta pertamanya yang kini menjadi suami dari kakak tirinya itu.
Setelah menempuh tiga jam lebih, Zianka sampai di sebuah perdesaan. Dia tadi menaiki bus, gadis itu sempat mengambil beberapa pakaian yang ada di apartemen setelah itu pergi tanpa pamit ada sang mama. Sambil menyeret kopernya, Zianka berjalan pelan menuju ke rumah sederhana tersebut, rumah itu milik mendiang neneknya. Dia langsung masuk ke dalam rumah kemudian menata pakaiannya ke dalam lemari yang ada di kamarnya.
Setelah selesai Zianka kembali ke luar, berjalan lurus menuju ke tepi danau kecil yang ada di hadapannya. Gadis itu langsung jongkok, mengulurkan tangannya ke dalam air. Raut wajahnya mengariskan keputusasaan dan juga kesedihan mendalam.
"Maafin aku kak Fira, maaf karena kehadiran aku dan mama membuat keluarga kakak hancur, kakak harus kehilangan sosok Papa dalam hidup kakak dan tante Amira. " gumam Zianka dengan nada penuh penyesalan.
Gadis itu menangis terisak sendirian di sana, seandainya takdirnya tak seperti ini semuanya tak akan terjadi dan Zafira tak akan membencinya sedalam ini. Diapun langsung membasuh wajahnya dengan air, menikmati segarnya air jenih di pedesaan.
Zianka POV
Aku tak akan menganggu kehidupan kak Fira dan kak Evan lagi, maaf kehadiranku membuat kakak tersakiti. Aku harap kakak suatu hari nanti mau memaafkan aku dan mama Vera. Untuk mama, maafkan aku karena pergi tidak pamit sama mama secara langsung dan aku harap mama mengerti dengan keputusanku ini.
__ADS_1
"Nona Zia? "
Gadis itu menoleh, seorang wanita paruh baya menghampirinya dan duduk di dekat danau kecil bersamanya.
"Ini saya Bibi Maryam non, nona kok tiba tiba datang ke sini? " tanya Bibi Maryam padanya dengan lembut.
"Ceritanya panjang Bi, perihal masalah keluarga dan aku perlu menenangkan diri, mungkin saja aku akan menetap di sini. " ujarnya panjang lebar. Bibi Maryam tersenyum mendengarnya, keduanya saling bertukar kabar satu sama lain. Wanita itu memanggil putranya lalu mengenalkannya pada Zianka.
Wanita paruh baya itu meninggalkan Zia bersama Abian. Pemuda tampan itu memperhatikan Zia sejak tadi, dia bingung ingin berbicara apa dengannya.
"Hai aku Abian Clayton, siapa nama kamu? " tanya pemuda itu pada Zia.
"Zianka Luna. " Gadis itu begitu kaku berhadapan dengan pria yang baru dia kenal itu. Dia sepertinya enggan berbicara pada Bian, Bian menghela nafas panjang.
Sementara di Kediamannya, mama Vera marah besar setelah mendapat kabar dari rumah sakit akan kepergian putrinya. Wanita paruh bata itu berkali kali berusaha menghubungi putrinya namun nomor Zia tak aktif.
"Zia astaga, kenapa kamu selalu menyusahkan mama seperti ini sih dan sekarang pakai acara kabur kaburan segala. " gumam Mama Vera sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Wanita itu mengusap wajahnya kasar, meraih figura foto yang ada di atas meja.
"Harusnya aku bahagia setelah belasan tahun lalu berhasil merebut Hendra dari Amira dan kami memiliki Zia dan sebagian harta dari suamiku itu. Aku telah berhasil menghancurkan kehidupan Amira dan putrinya dengan sempurna." gumam Nyonya Vera dengan tatapan kosongnya.
Prang
__ADS_1
Nyonya Vera melempar figura itu ke lantai, mengumpat kesal akan kehancuran dirinya saat ini, putrinya pergi dari sisinya dan kini dirinya sendirian. Dia teringat sesuatu, mengambil sebuah surat yang di berikan security padanya.
Dear Mama
Maafin aku ma, aku ninggalin mama sendirian. Keluarga kita telah hancur ma, hancur sejak dulu saat mama merebut papa dari tante Amira dan kak Fira. Selama ini aku tersiksa ma, julukan putri dari seorang pelakor membuatku tersiksa dan tidak tenang, meski kejadian itu telah terjadi belasan tahun lalu. Aku ingin hidup tenang ma, maafkan aku jika aku belum bisa menjadi putri yang membuat mama bangga. Selain keluarga kita hancur, aku juga kehilangan cinta pertamaku yang telah dimiliki kakakku.
Aku berusaha merelakan nya ma, aku tak ingin kejadian lalu terulang lagi dan justru aku yang menjadi calon pelakor di antara kak Evan dan kak Zafira. Aku enggak mau itu terjadi ma,sudah banyak kebencian dan makian yang aku dapat dari saudari tiriku sendiri padaku. Maaf ma aku menyerah, aku memilih pergi untuk menenangkan diri. Jaga diri mama baik baik saja dan lebih baik mama intropeksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Suatu saat pasti aku akan kembali ama dengan versi terbaik diriku, aku akan menjadi putri kebanggan mama.
Aku sayang sama Mama
from
Zianka
Tes tes cairan bening menetes membasahi pipinya, wanita itu menangis tersedu sedu membaca surat dari putrinya. Mama Vera baru menyesali perbuatannya, dia kira setelah menghancurkan keluarga Amira membuatnya bahagia namun tak ada kebahagiaan di dalam hidupnya selama ini. Hanya ada kekosongan dan kehampaan selama ini, dan kini putrinya pergi meninggalkan dirinya sendirian.
"Maafin mama nak, gara gara mama kamu harus menanggung akibat dari perbuatan mama di masa lalu. Kamu enggak salah nak, tapi mama yang salah karena merebut papi kamu dari mami Amira, ibunya Zafira. " gumam Mama Vera dengan lirih. Dia hanya mampu merutuki penyesalannya akan sikap dirinya di masa lalu.
"Segeralah kembali sayang, hanya kamu yang mama punya saat ini Zia dan sekali lagi maafin mama nak!
Mama Vera hanya mampu menangis, seandainya di masa lalu dia tidak merebut papa Hendra. Hal ini tidak akan menyakiti hati semua orang karena ulahnya, namun semuanya telah terjadi. Gelas yang retak tak bisa untuk menjadi utuh kembali.
__ADS_1
"Aku memang wanita yang hina, aku begitu menyakiti hati banyak orang. " batin Mama Vera dengan pilu.