Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Twins ESJ part 19


__ADS_3

Zafira menangis di dalam kamarnya, perempuan itu masih belum bisa menerima kenyataan jika cinta pertama suaminya adalah Zianka.


"Sayang. " Mami Amira masuk ke dalam kamar putrinya, wanita itu langsung duduk di atas ranjang. Zafira langsung memeluk sang mami, meluapkan segala rasa yang berkecamuk dalam dirinya saat ini.


Wanita itu turut menangis, dia tak menyangka sang anak akan mengetahui kenyataan ini. Dia hanya mampu mengusap punggung bergetar milik putri kesayangannya. Mami melepaskan pelukannya, mengusap air mata di wajah sang anak dengan lembut. "Tidak seharusnya kamu menjauhi suamimu nak, dia tak tahu apapun masalah kita dengan keluarga Vera.


"Kita sama sama berdamai dengan masa lalu nak, jauhi Zia dan ibunya agar hati kita lebih tenang. " ucap Mami dengan bijak. Zafira hanya diam saja, wanita itu perlu waktu untuk mengobati luka yang di sebabkan mendiang papinya. Rasa bencinya kini mengalahkan segalanya, Zafira untuk saat ini belum siap bertemu dengan Evan, suaminya.


"Aku belum siap bertemu dengannya Mi, aku perlu waktu untuk menata hatiku. " gumam Zafira dengan lirih. Mami Amira menatap sendu putrinya, dia merasakan sakit melihat putrinya begitu rapuh seperti ini.


"Tapi jangan lama lama nak, mami takutnya Zia akan berbuat nekat mendekati suami kamu nantinya, mami tak ingin kejadian masalalu terulang padamu! Zafira hanya mengangguk, perempuan itu kini berbaring di atas ranjang.


Mami mengusap lembut kepalanya lalu bangkit dan membiarkan putrinya sendiri lebih dulu. Zafira menutup wajahnya dengan telapak tangannya, dia mencoba menenangkan diri. Gadis itu menjauhkan tangannya lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Banyak pesan masuk berisi permintaan maaf dari sang suami, raut wajah Zafira tampak sendu. Juga panggilan tak terjawab dari sahabatnya meisya, untuk saat ini dia belum ingin bicara dengan siapapun. Selama ini dia terus menyalahkan mendiang papinya itu akan penderitaan yang dia alami bersama sang ibu.


Zafira POV


Kenapa aku harus mencintai pria yang ternyata berhubungan dengan anak dari wanita pelakor itu. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku lebih ingin tidak mengenal Evan maupun Zia.Terlebih Zia dan ibunyalah penyebab kehancuran keluargaku. Apa yang harus aku lakukan saat ini Ya Tuhan, haruskah aku berdamai dengan masa lalu?

__ADS_1


Zafira kembali menghela nafas berat, menaruh ponselnya di atas meja. Dia memilih kembali berbaring untuk mengistirahatkan dirinya yang lelah.


Hal yang sama tengah di rasakan Evan saat ini, pria itu tengah mengatakan keluh kesahnya pada kedua orang tuanya. Mommy cukup prihatin dengan keadaan rumah tangga putranya sedang renggang saat ini.


"Hargai keputusan Zafira nak, istrimu itu perlu waktu untuk menerima masa lalu kamu yang berhubungan dengan Zia. " ujar mommy dengan lembut.


"Iya aku mengerti mom, aku harap dia segera memaafkan aku. Di saat seperti ini aku harusnya selalu berada di sisinya mom tapi keadaan tak memungkinkan. " gumam Evan dengan lirih. Pria itu bangkit, melenggang pergi menuju ke Bar. Ethan datang menyusulnya, memperhatikan kakaknya yang tampak kacau saat ini.


Puk


Ethan menepuk pundak kakaknya, dia duduk di sebelahnya dan ikut meneguk wine.


"Aku tak menyangka istriku dan Zia ternyata saudara tiri. " gumam Evan. Ethan tentu saja tampak biasa biasa saja, dia telah mengetahuinya lebih dulu kemarin. Pria itu menoleh melihat respon dari saudara kembarnya, Ethan langsung menjelaskan pada Evan.


Ethan memberikan beberapa saran untuk kakaknya, Evan hanya diam tak berkomentar apapun saat ini.


Dan malam harinya, Evan tidak menampakkan diri dalam makan malam keluarga. Ya orang tuanya serta Ethan dan Nara sengaja menginap di kediaman Evan, mereka ingin memberi support padanya. Mommy menyuruh Nara membangunkan kakaknya itu namun Nara menyerah karena Evan tidak ingin di ganggu siapapun saat ini.


Malam ini mereka makan malam tanpa sosok Evan di antara mereka. Nara dan Ethan langsung pergi ke kamar masing masing seusai makan malam.

__ADS_1


Evan sendiri berdiri di balkon, dia begitu merindukan istrinya. Entah apa jadinya nanti jika dirinya tak memeluk wanitanya tercinta, dia berharap hati Zafira segera luluh dan kembali padanya. Untuk sekian kali pria itu mengirim pesan pada istrinya, meluapkan kesedihannya dan tak peduli pesannya itu akan di baca atau tidak.


Hawa dingin mulai menerpa kulitnya, Evan masuk ke dalam dan tak lupa menutup pintunya. Pria itu segera naik ke atas ranjang, teringat segala kebersamaannya dengan istri tercinta di dalam kamarnya ini. Dia kini memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kemudian menghela nafas panjang.


"Antara aku dan Zia telah usai, hanya kamu yang aku cintai sayang. " gumam Evan dengan sungguh sungguh. Dia mengambil figura berisi photo sederhana pernikahannya dengan Zafira.


"Aku akan mewujudkan pernikahan yang megah untuk kamu sayang. " janjinya pada diri sendiri. Dia akan lakukan apapun demi istri tercintanya bahagia. Pria itu memutuskan untuk beristirahat meskipun sulit untuknya, dia terbiasa memeluk tubuh wanitanya.


Pagi datang begitu cepat, cahaya matahari mengusik tidur lelap Evan. Evan meraba sisi sebelahnya yang kosong, pria itu lantas membuka matanya lebar. Dia hampir lupa jika sang istri tengah menenangkan diri di rumah mami.


"Rasanya hariku terasa sepi sayang tanpa kamu, aku rindu kamu dan ingin memeluk kamu dengan erat. " batin Evan penuh harap.


Evan menghela nafas berat, pria itu turun dan kakinya berpijak pada lantai. Dia langsung melesat ke kamar mandi, berharap dirinya merasa pikirannya jernih setelah mandi nantinya. Setelah mandi Evan langsung mengambil jas, kemeja dan celananya. Setelah mengenakan jam tangan dan mengambil ponselnya, Evan langsung ke luar dari kamarnya.


"Pagi kak Evan. " sapa Nara dengan senyum cerianya.


"Pagi juga. " jawab Evan langsung menarik kursi, kemudian duduk. Mereka sarapan bersama tanpa kehadiran Zafira, suasana benar benar hening dan hanya terdengar suara sendok beradu. Mommy terus memperhatikan putra sulungnya dalam diam, dia begitu mengkhawatirkannya.


"Mom, Dad aku berangkat sekarang. " Evan bangkit, mencium kening ibunya lalu pergi begitu saja. mommy menatap sendu kepergian putra sulungnya, daddy langsung memberi dukungan pada sang istri.

__ADS_1


Ethan menghela nafas kasar, berusaha mencairkan suasana tegang di keluarga mereka. Diapun pamit pada orang tuanya begitu juga Nara, setelah anak anak mereka pergi mommy dan daddy berbicara di ruang tengah.


"Apa kita perlu menjenguk menantu kita Dad, mommy ingin bertemu dengannya saat ini? " tanya mommy pada suaminya. Daddy setuju, mereka bangkit dan pergi meninggalkan kediaman Evan.


__ADS_2