Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
TCBS BAB 3 | S2


__ADS_3

Nia merasakan tidak nyaman kala dirinya sedari tadi di perhatikan oleh Louis, diapun mencoba mengalihkannya, mengobrol bersama sang kekasih. "Yank, dia tuan Flyn ayo kita sapa boss aku itu. " ucap Dika dengan lembut.


"Tapi.. " Niapun setuju setelah kekasihnya itu meragunya, Dika merangkul bahu sang kekasih lalu diajaknya menuju ke tempat Louis berada. Louis tersenyum miring, penampilan Nia cukup memuaskan baginya. "Sore tuan Louis, perkenalkan ini Harmonia, kekasih saya tuan. "


"Harmonia. "


"Louis. "


Nia segera menarik tangannya, Louispun tersenyum kecil melihat tingkah gadis di hadapannya ini. Gadis itu menghela nafas berat, mengeratkan genggaman tangannya pada tangan sang kekasih hal itu tak luput dari pandangan Louis.


"Kamu sangat cantik Nona Harmonia. " puji Louis sambil tersenyum.


"Terimakasih tuan atas pujiannya, tapi maaf saya harus pulang sekarang. " Nia memasang senyum palsunya di hadapan Louis, dia mengeratkan genggaman tangannya.


"Ya silakan Nona!


Nia segera mengajak kekasihnya pergi dari sana, di luar hotel Dika tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Setelah selesai, pria itu menatap kekasihnya dengan tatapan bersalahnya. "Yank maaf, aku enggak bisa antar kamu pulang. " sesal Dika.


"Ya sudah, kamu pergilah jika ada urusan!


"Tunggu. " Dika segera menemui Louis, pria itu memohon pada sang atasan setelah itu kembali ke tempat Nia berada.


"Yank kamu akan di antar pulang oleh Tuan Louis, aku tidak mau kamu pulang sendirian malam malam. " tegas Dika. Niapun menghela nafas panjang, tak lagi membantah ucapan dari kekasihnya. Dika mengecup kening gadianya sekilas lalu pergi dari sana, Louis segera membuka pintu untuk Nia.


Setelah masuk, Louis melajukan mobilnya kencang meninggalkan area hotel karena acara telah selesai. Selama perjalanan, suasana nampak hening karena keduanya sibuk dengan pikoran masing masing. Hujan turun dengan lebat, membuat Louis melajukan mobilnya dengan pelan dan hati hati.


"Maaf Tuan, ini bukan jalan kearah rumah

__ADS_1


saya. " ucap Nia dengan heran.


"Cuaca sangat buruk hari ini, aku memutuskan membawamu ke mansionku Nona. " jelas Louis dengan santai. Niapun terkejut, pikiran buruk kini merasuk dalam otaknya namun dia berusaha tenang dan tidak gugup. Setelah sampai, keduanya turun dari mobil dan Louis berjalan lebih dulu diikuti nia dari belakang.


**



Pagi ini Nia telah siap dengan pakaian yang diberikan oleh Louis padanya. Dress yang dia pilih memang paling elegan dan tentunya sopan. Gadis itu memuruni tangga, berjalan pelan meuju ke meja maoan di mana Louis telah menunggunya. Louis memperhatikan Nia dari atas sampai bawah kemudian tersenyum tipis.


"Perfect! "


"Nia, ayo sarapan bersama. " ajak Louis. Niapun mengangguk, menarik kursi lalu duduk di sebelah Louis.


Drt


drt


drt


"Ada apa Nia, katakan kenapa kamu


menangis? "


"Kekasihku tewas dalam kecelakaan Tuan, aku harus pergi ke pemakaman Dika sekarang. " tubuh Nia hampir limbung namun Louis segera menahannya, Louis merangkulnya dan mengantarkannya. Tiba di pemakaman, tubuh Nia merosot ke tanah melihat makam kekasihnya ada di hadapannya. Ternyata ini bukan mimpi, Nia terus memangis sambil mengusap nisan Dika.


"Kenapa kamu pergi secara tiba tiba begini Dika, sebenarnya apa yang terjadi padamu hiks hiks. " gumamnya lirih. Louis hanya diam, namun diam diam pria itu menyeringai tanpa sepengetahuan Nia.

__ADS_1


Hati Nia seketika hancur, pria yang dicintainya pergi untuk selama lamanya tanpa pamit padanya. Kepergian Dika yang tiba tiba, memyisakan luka dalam di hati gadis itu.


Bruk Nia langsung tak sadarkan diri di dekat makam Dika, Louis segera menggendongnya bridal style, membawanya ke luar dari makam. Mobil melesat jauh meninggalkan area pemakaman, netra hitamnya menatap lekat Nia yang tak sadarkan diri.


Di mansion, Louis membaringkan Nia di atas ranjang kamarnya. Dia memperhatikam gadis itu dengan lekat kemudian tersenyum simpul. "Dunia ini kejam Nia, jika kau tidak menjadi kuat, kau akan terbuang seperti sampah. " gumam Louis pelan. Setelah memgatakan hal itu, pria itu segera ke luar dan meninggalkan Nia sendiri.


Beberapa saat kemudian, Nia tersadar dari pingsannya. Netra birunya menatap kesekeliling kamar, teringat kenyataan jika sang kekasih telah tiada membuat gadis itu kembali menangis, menangis tanpa suara. Di hapusnya air mata yang ada di kedua pipinya, Nia mengambil ponselnya kemudian menghubungi salah satu keluarga dari Dika.


"Bibi, ini aku Nia. Katakan kejadiannya bagaimana Dika kecelakaan. " ucapnya lirih.


"Bibi dengar, Dika di hadang orang nak lalu di pukuli hingga babak belur, salah satu dari mereka membawa pisau. " jelas Bibi dari ujung sana. Niapun membekap mulutnya, tubuhnya kembali bergetar mendengar penjelasan bibi.


Aah Niapun menjerit dengan keras, merasakan sesak di dada. Kehilangan pria yang dicintainya benar benar membuatnya terpukul. Niapun melempar ponselnya, mengambil foto dieinya bersama Dika dari dalam dompetnya. "Kau jahat Dika, kamu belum melamarku hiks hiks, bukankah kamu pernah bilang ingin secepatnya menikahiku!


Nia langsung bangkit, berjalan gontai ke puar dari kamarnya. Gadis itu menuruni tangga dengan sorot mata kosongnya. Beberapa kali tubuhnya hendak limbung namun Nia berusaha menjaga keseimbangannya. Dari jauh Louis mengamati, apa yang di lakukan oleh gadis itu. Pria bermanik kelam itu, mengekorinya dai belakang hingga sampai di teras.


"Apa yang gadis itu lakukan? "


Byur Nia menjatuhkan dirinya di kolam renang, Louis terkejut melihatnya. Pria itu segera menceburkan dirinya ke kolam, mencoba menarik tubuh Nia ke tepi namun gadis itu terus terusan memberontak. "Jangan halangi aku, aku ingin menyusul Dika. " ucap Nia dengan mata berkaca kaca.


"Apa kau sudah gila hah, Di mana otakmu!


"Bodoh! Louis melirik tajam gadis di depannya, Niapun kembali menangis sesegukan. Louis menghela nafas kasar, mengangkat tubuh gadis itu lalu di bawanya ke dalam mansion. Sampai di kamar Nia, Louis segera pergi dan meminta pelayan untuk mengurusi Nia.


"Sebaiknya Nona tenangkan diri dan beristirahatlah, saya permisi Nona. " pelayan langsung ke luar setelah mengganti pakaian dari Nia. Nia merasa tubuhnya lemah setelah melewati satu hari yang sangat berat dalam hidupnya. Dia memilih bersandar di kepala ranjang, mengingat kenangan manisnya bersama Dika dan kini hanya tinggal kenangan.


"Dika. " gumam Nia dengan lirih. Gadis itu menghela nafas panjang, kehilangan Dika selamanya adalah hal terburuk baginya. Dika sosok kekasih sekaligus kakak untuknya, pria itu selalu melindungi dia dan kini sosoknya telah pergi selamanya.

__ADS_1


"Dika, aku merindukanmu! kepergianmu yang mendadak, membuatku hancur Dik. " Nia berusaha menahan tangisnya, dia sangat lemah jika menyangkut Dika, pria yang dicintai dirinya.


tbc


__ADS_2