Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Twins Story ESJ chap 3


__ADS_3

Di sisi lain Nyonya Vera terus membujuk putrinya menemui keluarga Abrisam. Zianka tentu saja menolaknya mentah mentah, gadis itu terus mengingatkan sang mamam atas kesalahan mereka.


"Cukup ma, apa mama lupa atas kelakuan mama dulu. Mama lupa dulu mama merebut papa dari keluarganya, apa mama sudah gak punya malu lagi? " tanya Zia dengan nada kecewanya.


Mama Vera mengabaikan ucapan sang anak, wanita itu terus mendesak putrinya. Zianka pun bangkit, diapun terpaksa memenuhi keinginan sang mama. Setelah kepergian sang anak, Mama Vera hanya diam tanpa berkata apapun.


Raut wajah Zafira tampak muram melihat kehadiran gadis yang tak ingin dia lihat selama hidupnya. Zianka menatap sendu kakak perempuannya itu dengan raut bersalah. "Kak Fira. " gumam Zianka lirih.


"Untuk apa kau ke sini? " tanya Zafira dengan ketus.


"Bertahun tahun ibu kamu menyakiti mama aku apa belum puas hah. " sentak Zafira dengan nada membentak.


"Aku minta maaf atas mama aku kak. " sesal Zianka dengan lirih. Zafira justru berkata kasar padanya, meluapkan kemarahannya selama ini pada Zia dan ibunya.


"Ibu kamu itu gak punya perasaan ya, merebut papi dari aku, apa dia tak punya malu hingga menjadi wanita murahan. " geram Zafira. Zia menamparnya,dia tak terima sang ibu di hina oleh saudarinya itu. Zafira tersenyum sinis, menatap Zia dengan penuh kebencian.


"Kau hanya anak hasil perselingkuhan papa dengan ibumu. " maki Zafira dengan amarah menggebu gebu. Mendengar suara keributan Nyonya Amira langsung ke luar, wanita itu menghampiri putrinya. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan, dia menatap lekat gadis yang seumuran dengan anaknya itu.


"Untuk apa kau ke sini anak sialan, belum puas ibumu dulu menjadi wanita penggoda yang merenggut suamiku, mau apalagi sekarang? " ketus nyonya Amira sinis. Wanita itu meminta bodyguard mengusir Zia dari rumahnya, keduanya mengabaikan teriakan dari Zia.


Tangis Zafira pecah dalam dekapan sang mami, sakit hatinya akan kelakuan mendiang sang papi di masa lalu masih membekas dalam hatinya. Pertemuannya dengan anak perselingkuhan sang papi membuat rasa bencinya semakin membesar.

__ADS_1


Mami Amira mengusap punggung bergetar putrinya,wanita itu hanya mampu menangis dalam diam. Dia segera mengajak putrinya ke dalam, hatinya hancur melihat putrinya kembali sakit hati seperti saat ini.


Keduanya bangkit dan membuka lembaran baru dengan susah payah, namun anak dari wanita itu kembali membayangi mereka lagi. Diam diam nyonya Amira mengepalkan tangannya, dia harus memberi pelajaran pada wanita penggoda itu.


"Maafin mami sayang, maaf karena mami belum bisa membahagiakan kamu. " gumam Nyonya Amira penuh penyesalan. Wanita paruh baya itu panik saat merasakan tubuh sang anak tak bergerak, ternyata Zafira jatuh pingsan. Dia segera berteriak dan memanggil bodyguard, para bodyguard datang dan membantu majikannya itu.


Setelah habis itu Nyonya Amira menghubungi dokter untuk datang. Bersamaan datangnya Dokter, seorang laki laki turut datang dengan raut kebingungan. Pria itu segera menyusul ke dalam kamar Zafira, dia tertegun melihat dokter yang menangani Zafira saat ini.


"Apa yang terjadi dengan putriku dokter? " tanya Nyonya Amira panik.


"Maaf nyonya penyakit nona Zafira kembali kambuh dan saya sudah memberinya obat penenang. " ungkap Dokter. Nyonya Amira tentu saja terkejut, meminta dokter menjelaskan detail penyakitnya.


"Asma kronis. "


Yudhistira Wiranata, laki laki yang selalu ada untuk keduanya semenjak pengkhianatan itu terjadi. Pria itu juga yang membantu ibu dan anak itu untuk bangkit.


Nyonya Amira menggenggam erat tangan putrinya, wanita itu menangis terisak melihat keadaan sang anak. Dia tak ingin kehilangan belahan jiwanya itu, Zafira adalah benda berharga yang satu satunya dia miliki dalam hidupnya.


"Eungh. " Gadis itu membuka matanya perlahan, dia mengerutkan kening melihat sang mami menangisi dirinya. Zafira bangun dan di bantu sang ibu, dia merasa jantungnya berdetak tak karuan melihat wajah sendu ibunya.


"Sayang, kenapa kamu menyembunyikan penyakit kamu nak. Mami merasa gagal menjaga dan melindungi kamu sayang!

__ADS_1


"Mami sudah tahu? " Mami mengangguk, Zafira tersenyum getir melihatnya. Gadis itu mencoba tersenyum sambil menggenggam tangan sang ibu tercinta.


"Aku pasti bisa sembuh Mi, aku selama ini berjuang untuk sembuh demi Mami dan Evan, bukanlah begitu om Wira? " tanya Zafira pada pria di dekat sang ibu.


"Iya nak kamu benar, ini baru calon putri om yang pintar, kau tak pernah putus asa dalam hal apapun. Om akan mencari dokter terbaik untuk bisa menyembuhkan penyakit kamu sayang. " ujar Om Wira. Nyonya Amira menatap pria di sebelahnya dengan tatapan sinis, dia tak terima mendengar Wira menganggap Zafira sebagai calon anak pria itu.


Zafira tertawa pelan melihat sang ibu berdebat dengan Om Wira, Nyonya Amira mengajak pria tua di dekatnya untuk ke luar, keduanya membiarkan Zafira beristirahat. Raut cerianya kembali muram, setelah penyakitnya di ketahui sang ibu membuat gadis itu merasa menyesal. "Maafin Fira Mi, Fira gak yakin jika nantinya Fira akan sembuh, mengingat mendiang papa juga memiliki penyakit yang sama!


Dia merasa membebani sang ibu, Zafira hanya mampu menahannya sendirian tanpa mengatakan isi hatinya pada sang mami tercinta. Zafira mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Evan, gadis itu tersenyum tipis setelah mendengar suara kekasihnya itu.


"Kenapa kamu hanya diam Fira? " tanya Evan dengan lembut.


"Enggak papa, kepalaku sedikit pusing tadi. " elaknya berbohong. Zafira hanya tersenyum mendengar omelan kekasihnya itu. Dengan sikap Evan yang sekarang ini dia merasa cukup bahagia.


"Aku harap kelak bisa mendengar ungkapan cinta kamu Van meski hanya satu kali. " batin Zafira penuh harap. Gadis itu kini mengubah suara menjadi panggilan Video, dia tampak bahagia mengobrol dengan Evan. Diapun membicarakan banyak hal termasuk persiapan pertunangan mereka, Zafira tampak begitu semangat membahasnya.


Selesai mengobrol Zafira menutupnya lebih dulu, gadis itu menghela nafas kasar. Dia memilih menyembunyikan penyakitnya, dia tak ingin Evan tahu dan hanya peduli karena kasihan.


Zafira POV


Maafin aku Van, maaf karena aku belum bisa jujur sama kamu tentang masalahku. Tanpa kamu tahu masalah 'ku, kau pasti akan bahagia tanpa aku bebani Evan. Aku tak ingin merepotkan orang lain lagi selain mami, termasuk kamu. Aku harap kamu selalu bisa menemani aku dan menjaga aku sementara, di saat itu pula aku harap kamu telah mencintaiku. Terimakasih telah hadir dalam hidupku Van, aku beruntung bisa mengenal pria sebaik kamu meski di awal sikapmu begitu dingin, cuek dan arogan.

__ADS_1


Cairan bening menetes, Zafira terisak pelan sambil membekap mulutnya. Dia tak ingin melihat sang ibu tahu jika dirinya menangis, Zafira tak ingin sang mami panik.


__ADS_2