Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Twins ESJ part 8


__ADS_3

Tepat pukul tiga sore Zafira pergi sendiri ke toko buku, Evan tak bisa menemaninya karena kesibukan pria itu. Gadis itu kini telah memilih buku novel kesukaannya.


Dia mengambil salah satu buku novel berjudul true love. Gadis itu membaca blurb novel itu, tanpa dia sadari seseorang memperhatikan gadis itu.


''Zafira. '' panggil Nandika dari dekat.


Zafira menoleh, gadis itu menoleh dan tersenyum tipis. ''iya Nan, kamu lagi cari


apa? '' tanya Zafira dengan ramah.


''Komik dan juga novel sih. ''


Zafira menunjukkan buku yang dia pegang, Nandika tentu saja memberi pujian. Mereka tertawa bersama, bagaimana bisa mereka memilik hobi yang sama. Mereka sama kembli mencari buku yang lain sambil mengobrol. Setelah selesai keduanya segera membayar lalu pergi sana.


''Thank ya udah di bayarin bukunya, gimana kalau kita ngopi ngopi dulu. ''


Nandika tentu saja mengangguk setuju, mereka sama sama pergi ke cafe seberang. Zafira memesan dua minuman berbeda, Nandika tentu saja heran dan penasaran. Seakan mengerti apa yang di pikirkan Nandika membut Zafira tersenyum tipis. ''Aku gak suka kopi Nan!


''Ternyata kamu orangnya menyenangkan ya Fir!


''Kamu bisa aja Nan. '' dan obrolan mereka mengalir begitu saja, tampaknya keduanya sama sama nyaman dalam berteman. Nandika mengulas senyumnya melihat tawa Zafira yang baru pertama kali dia lihat.


Zafira melirik jam di tangannya, sudah sore dan kembali menatap kearah Nandika. "Sudah sore nih, aku pulang duluan ya Nan!


"Aku antar Fir, ayo. " Nandika bangkit meletakkan uang di atas meja lalu menarik Zafira ke luar dari Cafe. Sepanjang perjalanan, keduanya kembali mengobrol hingga suasana tak terasa canggung sama sekali.


Mereka sampai di rumah Zafira, gadis itu langsung turun dan mengucapkan terimakasih pada Nandika. "Oh ya Fir, bolehkah aku meminta nomor kamu, kalau perlu sesuatu aku bisa menghubungi kamu? "


"Boleh. " Zafira mengambil ponsel Nandika, lalu menyimpannya di kontak lelaki itu. Setelah selesai dia mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik, Nandika tersenyum lebar. Pria tampan itu melajukan mobilnya kencang setelah berpamitan pada Zafira.


Zafira masuk ke dalam rumah, dia menyapa sang mama tercinta. "Sayang, kamu tadi pulangnya di antar siapa nak? " tanya Mami Amira pada putrinya.


"Di antar teman Ma. " jawab Zafira tersenyum tipis. Diapun langsung menuju ke kamar, gadis itu menaruh buku bukunya di atas meja. Zafira langsung melesat ke kamar mandi, setelah selesai dengan aktivitasnya gadis itu bergegas mengganti pakaiannya.


Tiba tiba rasa sesak kembali menghantam dadanya, Zafira dengan cepat mencari obatnya. Dia mengambil sebutir pil lalu menelannya, setelah itu meneguk segelas air.

__ADS_1


"Sampai kapan aku bergantung dengan obat ini. " gumamnya lirih. Gadis itu menangis tergugu, dia meraih ponselnya dan menghubungi sang kekasih namun nomor Evan tak aktif. Zafira mendesah kecewa, dering ponselnya membuatnya kembali ceria.


"Hai Fira, ini aku Nandika. " sapa cowok tampan itu dengan ramah.


"Iya Nan. " Zafira kembali kecewa, ternyata bukan Evan yang menghubungi dirinya.


"Kok suara kamu beda, kamu sedang menangis ya? " tebak Nandika yang tampak khawatir. Zafira mengigit bibirnya, tak kuasa menahan tangisnya. Cowok itu mengubah panggilan suara menjadi video, dia berusaha menghiburnya meski tak mengetahui masalah yang di hadapi Zafira.


"Kamu jelek saat nangis Fir, sama persis seperti monyet. " ledek Nandika. Zafira menghentikan tangisan nya, dia mendadak kesal mendengar Nandika menyamakan dirinya dengan monyet.


"Ish cantik cantik gini di bilang kayak monyet, kau menyebalkan Nan. " protes Zafira tidak terima. Terdengar suara gelak tawa di ujung sana, Zafira mencebik kesal melihat Nandika yang menertawakannya.


"Fira, aku punya tebakan nih, mau dengar gak? "


"Apa? "


"Hantu, hantu apa yang menyeramkan? "


"Ck hantu itu memang menyeramkan Nandika, di kira hantu itu lucu apa ya!


"Enggak tahu, memangnya apa? "


Nandika POV


Entah kenapa melihatmu sedih, membuat hatiku ikut terluka Fir. Jujur aku ingin sekali tahu apa yang menjadi alasanmu bersedih, namun aku tak ingin melewati batasanku sebagai temanmu. Dan aku harap aku orang yang akan selalu membuat kamu tertawa di tengah kesedihanmu. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia Fira, meski alasan bahagiamu bukan karenaku.


"Kamu gak ingin jadi badut aja Nan, siapa tahu bisa menghibur orang nanti. " cetus Zafira setelah menghentikan tawanya. Nandika mendengus sebal mendengarnya, Zafira terkekeh pelan. Setelah mengobrol cukup lama gadis itu menutup sambungannya.


Cklek


Pintu terbuka, Mami masuk dan berjalan mendekati putrinya. Zafira menaruh ponselnya, menunggu sang mami berbicara.


"Sayang, mami dan kedua orang tua Evan sudah membahas perihal pertunangan kalian dan kami sepakat pertunangan kalian akan di adakan besok lusa. " ucap Mami Amira sambil tersenyum.


"Iya Mi. " jawab Zafira sambil tersenyum manis. Gadis itu begitu bahagia mendengar kabar pertunangan dirinya dengan pria yang dia cintai. Mami Maira mengusap kepala putrinya, wanita itu ikut bahagia melihat sang anak bahagia.

__ADS_1


Di sisi lain Evan hanya diam, melihat Zianka yang terus berbicara membahas masa kecil mereka. "Cukup jangan membahasnya lagi Zia, itu hanya masa lalu. " ucap Evan dengan wajah datarnya. Saat ini keduanya berada di salah satu restauran.


"Tapi kak, aku hanya ingin bernostalgia bersama kamu. Selama ini aku sudah menunggu untuk bisa bertemu dengan kamu lagi. " ungkap Zianka dengan tatapan sendunya.


"Maafkan aku Zia, aku tak bisa berdekatan dengan kamu lagi, aku sudah memiliki kekasih yang aku sayangi dan cintai. " ungkap Evan. Zia tentu saja terkejut sekaligus patah hati mendengar pengakuan Evan.


"Apa kamu tak merasa sejak remaja aku sudah menyukai kamu kak, bagaimana bisa kamu justru bersama gadis lain. Lalu siapa gadis itu hingga mampu membuat kamu berpaling dariku? " cecar Zianka penasaran.


"Itu bukan urusanmu Zia, sebaiknya ingat batasanmu sekarang. " Evan langsung bangkit, pria itu langsung pergi namun tangannya di cekal. Evan menghela nafas panjang, menepis kasar tangan Zia setelah itu pergi dari sana.


Zia menangis tergugu, dia kecewa sekaligus patah hati akan kenyataan yang dia terima. Pria yang dia cintai ternyata ke kasih dari gadis lain. "Apa selama ini tak ada sedikitpun mamaku dalam hatimu kak. " cuma Zia lirih.


Evan sendiri mengumpat pelan setelah memeriksa ponselnya, kekasihnya telah menghubungi dirinya berulang kali namun dia tak menjawabnya. Pria itu melajukan roda empatnya menuju kediaman Zafira.


"Maafkan aku sayang, maaf karena aku berbohong padamu!


Setelah sampai di sana, dia di biarkan masuk oleh pelayan. Evan memilih menunggu di ruang tamu, tak lama Zafira datang menemuinya dengan wajah di tekuknya. Gadis itu memilih duduk berhadapan dengan sang kekasih tanpa berkata apapun. "Maaf sayang, aku lupa menghubungi kamu karena ada kepentingan di luar. " ujar Evan.


"Kepentingan apa yang mengharuskan kamu mematikan ponselmu Van? " tanya Zafira dengan pandangan penuh selidik. Melihat sikap diam sang kekasih membuat Zafira semakin curiga padanya, dia mencoba mengahalu pemikiran buruknya namun tidak bisa.


"Kau bertemu dia, perempuan cinta pertama kamu? " tebak Zafira asal.


Evan mengatupkan bibirnya rapat, Zafira sendiri matanya sudah berkaca kaca. Sikap diamnya Evan menandakan tebakannya sangatlah tepat.


"Aku kecewa sama kamu Van, di saat aku butuh kamu, kamu justru bersama gadis


lain. " ungkap Zafira dengan tatapan kecewanya.


"Maafkan aku!


"Mami memberitahu bahwa pertunangan kita di adakan besok lusa, hal ini harusnya menjadi hal menggembirakan untukku namun sepertinya tidak lagi. " gumam Zafira mengabaikan permintaan maaf sang kekasih.


Evan tertegun mendengar pernyataan Zafira barusan. Suasana tampak dingin, tak ada lagi yang berbicara saat ini. "Sebaiknya kamu pulang, kepalaku pusing jika semakin melihatmu!


"Tapi kamu enggak papa 'kan? " Evan tampak mengkhawatirkan Zafira, Zafira menepis tangan sang kekasih. Melihat penolakan gadisnya membuat Evan merasakan sesak di dadanya. Ada rasa sakit dalam dirinya melihat dirinya di abaikan Zafira.

__ADS_1


"Baiklah aku pulang dulu. " Evan bangkit, pergi begitu saja setelah tak mendapat balasan. Setelah kepergian Evan, tangis Zafira pecah dan lagi lagi hatinya kembali patah hati karena pria itu masih memikirkan cinta pertamanya.


"Mungkin aku hanya akan memiliki ragamu Van tapi tidak dengan cintamu. " gumam Zafira lirih.


__ADS_2