Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Musim Ketiga Part 19


__ADS_3

"Untuk apa kamu ke sini? " ketus Ella menatap tajam kearah Miranda yang berdiri di hadapannya.


"Tentu saja menjengukmu,memastikan apa kamu hidup atau tidak. " sinis Miranda tanpa peduli tatapan tak suka dari Ella.


"Aku yakin hidupmu tak lama lagi, kamu tak akan bisa melayani suamimu lagi nanti.Kau memang wanita tak punya hati, membiarkan Gara merawat wanita penyakitan sepertimu " ujarnya basa basi. Ella menghela nafas panjang, mencoba tidak termakan ucapan pedas Miranda.


"Sebaiknya kamu ke luar dari sini sebelum aku berteriak, meskipun aku penyakitan nyatanya Mas Gara sangat mencintaiku lalu apa salahnya? " tanya Ella setengah menyindir Miranda. Miranda mengepalkan tangannya, sangat kesal dengan Ella yang tak termakan hasutannya.


"Oh kau berniat merebut mas Gara dariku, dengar sampai kapanpun hal itu tak akan terjadi. Mas Gara hanya milikku, begitu juga mas Gara dan kau pelakor sebaiknya urungkan saja buatmu itu. " cibir Ella.


"Lihat saja nanti, aku yakin akulah pemenangnya dan kupastikan kau akan menderita nantinya! Miranda berbalik pergi, ke luar dari ruangan rawat Ella.


Ella POV


Ya Tuhan bagaimana mungkin ada manusia yang tak punya malu seperti Miranda, jelas jelas Gara sudah memiliki aku istrinya. Tak akan aku biarkan kamu merebut suamiku Miranda. Beginilah resikonya jika memiliki suami tampan dan kaya seperti Nagara, akan banyak wanita gila yang mengejar Nagara.


"Menyebalkan sekali. " gumamnya sebal.


"Sayang. " Nagara kembali, menghampiri istrinya yang tengah melamun. Ella tersadar, segera memeluk sang suami tak terlalu erat. Wanita itu mengatakan kedatangan Miranda ke ruangannya pada sang suami tanpa di tutup tutupi.


"Tapi kamu gak papa 'kan Sayang? " Gara begitu cemas setelah tahu Miranda datang menemui istrinya.


"Aku gak papa Mas, hanya saja aku takut dia merebut kamu dariku, membuat kamu berpaling. " gumamnya lirih. Gara menciumi kening sang istri, meyakinkan Ella jika dirinya hanya milik sang istri.


"Ada kabar baik untuk kamu sayang? " ujar Gara sambil tersenyum mengalihkan pembicaraan.


"Apa mas? "


"Kamu sudah di perbolehkan pulang. " sahut Gara yang membuat Ella tersenyum sumringah. Ella bisa bernafas lega setelah satu minggu berada di rumah sakit. Gara membantu istrinya bersiap, keduanya akan pulang hari ini juga. Pria itu tertawa kecil melihat sang istri yang mengatakan keluhannya.

__ADS_1


Gara menggendong istrinya ke luar, membawanya ke dalam mobil. Ella bersandar di bahu sang suami, selama perjalanan wanita itu memilih istirahat. Tak perlu waktu lama mereka akhirnya tiba di mansion, Gara menuntun sang istri dan mengajaknya ke dalam.


"Surprise. " pintu terbuka semua orang menyambut kedatangan Ella, Ella terharu melihat keluarganya datang menyambutnya. Gara menggandeng istrinya ke dalam, wanita itu benar benar terkejut luar biasa melihat kejutan yang di siapkan Gara dan keluarga mereka.


"Hai Bumil, welcome home dan setelah ini kamu harus bahagia terus oke. " ujar Hanum memeluk tubuh Ella sekilas.


"Iya Num, makasih ya kejutannya. Gak nyangka aja kalian ada di sini menyambut kepulangan aku. " balas Ella tersenyum lebar.


"Sebaiknya kalian segera duduk nak, kalian 'kan sama sama hamil. " sahut Mommy Elena. Keduanya menuruti ucapan mommy, Gara membiarkan sang istri mengobrol dengan Hanum.


"Pi, gimana pendonor itu sudah siap 'kan? " tanya Gara pelan sambil menatap sang mertua dengan serius.


"Iya nak, dia telah siap dan kita hanya tinggal menunggu Ella melahirkan! Gara mengangguk, dia berharap operasi istrinya nanti akan berjalan lancar.


Gara kembali memperhatikan istrinya yang telrihat ceria bersama mommy dan Hanum, sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyum.


###


Sania ingin sekali menemui Ella, memberi dukungan pada wanita itu namun mengingat sikap posesif Elvan membuatnya mengurungkan niatnya itu.


"Ehem. " Sania menoleh, melihat sosok suaminya datang sambil menggendong putera kecil mereka.


"Kenapa mas? " tanya Sania menatap dalam raut suaminya.


"Aku lihat tadi kamu melamun sayang,kamu lamunin apa? " tanya Elvan pada sang istri. Sania merasa salah tingkah di tatap intens sang suami.


"Itu aku lihat kabar di media mengenai Ella dan Bara. " jawabnya.


"Apa kamu masih memiliki perasaan pada Bara? " tuduh Elvan.

__ADS_1


"Tentu saja tidak mas, lagian kenapa kamu mikirnya kayak gitu. " Sania benar benar tak nyaman dengan sikap suaminya yang terlalu protektif padanya. Elvan hanya diam tak menjawabnya, terlihat jelas jika pria itu tengah menahan cemburunya.


"Cemburu kamu berlebihan mas, apa salah kalau aku berteman dengan Ella dan Bara, hanya itu tak ada alasan lain. " Wajahnya berkaca kaca, sikap dingin Elvan berubah melihat raut sedih sang istri. Elvan segera menurunkan Andra, membiarkan puteranya bermain.


"Maafkan aku sayang. Aku salah karena cemburu berlebihan. " Elvan memeluk sang istri yang kini diam tak mengatakan apapun, dia tak ingin Sania stress dan berakibat pada calon anak kedua mereka. Sania menghela nafas panjang, bersandar di dada sang suami.


"Aku maafkan, sekarang buatkan aku salad mas. Aku lapar. " rengeknya manja. Dengan sigap Elvan melakukan apa yang di minta istrinya itu. Tak lama pria itu membawakan salad buah, Sania memakannya dengan lahap. Setelah menghabiskan salad nya, dia menatap kearah sang suami yang tengah fokus pada laptopnya. Melihat perubahan sikap Elvan padanya membuatnya sangat bahagia, perhatian dan cinta yang besar dari Elvan dan anak anak mereka membuatnya cukup.


"Lihat Papa kamu sayang, papa begitu mencintai mama, kakak kamu Andra dan juga kamu baby. Mama harap kamu selalu sehat dalam perut mama nak. " gumamnya pelan.


Ya hubungan mereka di awal pernikahan begitu dingin dan datar, kurangnya komunikasi dan terbuka, membuat mereka sering bertengkar dan salah paham. Andra hadir dalam kehidupan mereka karena satu kejadian di mana Elvan mabuk. Namun Sania tak pernah menyesali kehadiran putera kecilnya itu, dia sangat mencintai si kecil Andra dan calon anak keduanya.


Drt


drt


From Ella


San, kamu bisa hadirkan di acara penyambutan aku nanti malam.


Sania menghela nafas panjang, membaca pesan dari Ella. Dia melirik kearah sang suami, terlihat ragu ragu untuk mengatakannya. "Ada yang ingin kau katakan sayang? " tanya Elvan.


"Ella mengundang kita malam ini di acara penyambutannya mas, menurut mas Elvan gimana? "


"Kita akan datang. " jawab Elvan singkat. Sania mengangguk, dia cukup senang dengan respon yang di tunjukkan sang suami. Dia segera memberitahu Ella jika nanti malam mereka akan datang ke sana. Elvan menaruh laptopnya di meja, merapatkan tubuhnya pada sang istri.


"Tapi berikan aku amunisi lebih dulu. " bisiknya di telinga Sania. Elvan menggendong sang istri, membawanya ke kamar namun dia juga memanggil babysitter untuk menjaga Andra. Sania yang paham akan maksud suaminya hanya bisa mengangguk pasrah, lagipula ini adalah tugasnya sebagai istri.


Dan malamnya Sania dan Elvan berangkat bersama menuju ke mansion Gara, keduanya membawa Andra ikut serta. Selama perjalanan Andra terus berceloteh, Sania tertawa melihat tingkah lucu puteranya itu. Elvan sesekali mengulas senyumnya, melihat interaksi anak dan istrinya itu.

__ADS_1


tbc


__ADS_2