
Hari berikutnya, Zafira mengirim pesan pada sang kekasih, mengingat hari ini hari minggu. Gadis itu pamit pada sang mami setelah mendengar suara mobil kekasihnya telah berada di luar. Dia segera membuka pintunya lalu ke luar dari rumah bertepatan dengan Evan yang baru turun dari mobilnya.
Pria itu segera menghambur memeluk gadisnya dengan erat, Zafira membalas pelukannya. Evan mengumamkan kata maaf pada sang kekasih hati.
"Aku juga minta maaf sama kamu Van, aku terlalu egois jika meminta kamu memprioritaskan aku!
"Kita berangkat sekarang baby, kita cari cincin untuk pertunangan kita. " Evan tersenyum menatap kekasihnya, Zafira mengangguk dan masuk ke dalam mobil. mobil mewah itu melesat jauh meninggalkan kediaman Zafira.
Zafira ingin sekali membahas gadis yang di temui Evan kemarin, namun dia tak ingin mereka kembali bertengkar. Gadis itu lebih memilih diam, Evan sesekali melirik kearahnya dan kembali fokus ke depan.
Tiba di toko perhiasan, keduanya langsung turun dari mobil. Mereka sama sama mencari model cincin yang berkesan, fokus Zafira tertuju pada cincin berwarna emas. Evan langsung mencobanya ke jari manis sang kekasih. Dan keduanya kembali mencoba cincin yang lainnya.
Satu jam berlalu setelah membeli dua pasang cincin, mereka berdua langsung pergi dari sana. Mereka pergi ke pusat perbelanjaan, Evan dengan sabar menemani sang kekasih berbelanja.
Tepat pukul 11 siang mereka mampir di sebuah restauran ternama, kedua pasangan kekasih itu tampak fokus dengan makanan masing masing. Dari jauh Nandika masuk ke dalam restauran, cowok itu tanpa sengaja melihat sosok Zafira. Penasaran, dia langsung menemui keduanya dan lenyap Zafira.
"Hai Fira. " sapa Nandika dengan senyuman manisnya.
"Eh Nandika, kamu sama siapa ke sini nya? " Zafira tersenyum tipis melihat kehadiran temannya itu. Evan sendiri merasa penasaran, sejak kapan kekasihnya itu mengenal pria lain selain dirinya. Diapun berdehem, berupaya mengontrol dirinya yang tak suka melihat kedekatan Zafira dengan laki laki lain.
"Nan, kenalin ini Evan kekasihku!
Nandika tentu saja terkejut sekaligus kecewa mendengatnya, raut wajahnya kini menatap kearah Evan yang menatapnya datar.
"Ayo gabung sama kami Nan. " ajak Zafira.
"Gak usah Fir, aku kembali ke meja saja kasihan temanku. " elak Nandika yang berlalu pergi. Zafira segera menghabiskan makanannya, tanpa dia sadari sang kekasih tengah menahan rasa cemburunya. Gadis itu menoleh, mengerutkan kening melihat makanan sang kekasih masih utuh.
__ADS_1
"Kamu enggak makan sayang? " tanya Zafira dengan lembut.
"Enggak selera, siapa laki laki tadi dan sejak kapan kamu mengenalnya? " tanya Evan dengan tatapan mengintimidasinya.
"Dia Nandika putra Sadewa, teman sekelas aku di kampus. " ucap Zafira dengan sangat jelas. Gadis itu memperhatikan raut muka sang kekasih yang tampak datar.
"Kau cemburu? "
"Tentu saja tidak!
"Yakin, tidak cemburu? "
"Yakin!
Zafira hanya bergumam, entah apa yang di pikirkan gadis itu. Evan sendiri mendengus jengkel, melihat bagaimana Zafira tampak nyaman berbicara dengan Nandika tadi membuatnya sangat kesal.
"Kau bertukar pesan dengan Nandika? " ucap Evan dengan nada dinginnya.
"Menurutmu. " jawabnya tanpa menoleh kearah sang kekasih. Evan langsung mengerem mendadak, pria itu menepikan mobilnya. Zafira tentu saja terkejut, dia buru buru menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Evan segera melepaskan sabuk pengaman nya, menarik tubuh sang kekasih setelah melepas sabuk gadis itu. Zafira hendak bicara namun bibirnya telah di bungkam oleh bibir Evan.
Pria itu memagut mesra bibir kekasihnya, dia meluapkan rasa cemburunya yang membuncah dengan mengigit bibir Zafira. Evan segera melepaskan tautan bibirnya, Zafira sendiri menghirup udara sebanyaknya. Bukannya marah dia justru tersenyum simpul kearah calon tunangannya itu. "Bukankah kau bilang tidak cemburu, buat apa kamu marah dan skor kita sama. " cetus Zafira enteng.
"Maksud kamu apa baby? "
"Iya, kemarin kamu bertemu dengan cinta pertamamu, sedangkan aku memiliki teman baru yang bisa di ajak sharing dalam hal apapun. " ucap Zafira dengan lugas. Dia langsung turun dari pangkuan Evan, kembali memasang sabuk pengamannya.
__ADS_1
Evan sendiri mengusap wajahnya frustrasi. dia tak rela jika gadisnya lebih nyaman bersama pria lain daripada dirinya. Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang, Evan tak mengantarkannya pulang namun justru membawa Zafira ke rumah orang tuanya.
Setelah turun, Evan justru menggendongnya dan membawanya ke dalam. Dia abaikan omelan sang kekasih, pria itu berjalan menuju ke ruang tengah. Lalu dia menghubungi calon ibu mertuanya untuk datang, kemudian memanggil kedua orang tuanya.
"Sayang ada apa nak, kenapa kamu memanggil kami untuk berkumpul? " tanya Mommy Ella pada putranya.
"Tunggu sebentar mom!
Mami Amira datang, wanita itu langsung duduk di sofa dengan raut kebingungan. Evan menurunkan tubuh kekasihnya di atas sofa, pria itu menghela nafas panjang. "Aku ingin bertunangan dengan Zafira hari ini juga dan tak perlu ada pesta. " tegas Evan.
Pria itu langsung mengeluarkan kotak cincin dari dalam sakunya lalu menaruhnya di atas meja. Orang tua mereka tentu saja terkejut namun akhirnya semua orang setuju akan keinginan Evan. Inara baru turun dan langsung bergabung bersama mereka.
Daddy Nagara memberikan sepatah kata mewakili sang putra dalam acara sederhana dan mendadak ini. Evan dan Zafira saling bertukar cincin di depan orang tua mereka. Gadis itu mengusap cincin yang ada di jemarinya, dia masih tak percaya akan kelakuan konyol kekasihnya ini.
"Untuk pernikahan kami, bisakah satu minggu dari sekarang Dad, Mom? " tanya Evan dengan wajah seriusnya.
"Ya ampun sayang, kenapa kamu begitu tergesa gesa sih. " protes Zafira pada tunangannya ini.
"Kamu sudah tahu alasanku sayang, kamu cukup setuju dengan keputusan yang aku buat saat ini. " tegas Evan. Orang tua Evan langsung mendiskusikan ya pada calon besan mereka, nyonya Amira.
"Baiklah sayang, segala persiapannya biar mommy dan Mami mertua kamu yang akan mengurusnya. " ujar mommy Ella sambil tersenyum. Evan tersenyum tipis, pria itu sedikit lega mendengarnya. Daddy Nagara hanya mau menggeleng melihat sikap putranya yang tak sabaran.
Evan menoleh kearah kekasihnya dengan seringai miringnya, Zafira yang melihatnya mendengus pelan. Gadis itu tak bisa membantah keputusan calon suaminya yang super posesif ini. Evan membawanya kepelukannya, entah apa yang di bisik kan nya hingga membuat Zafira memekik dan memakinya.
"Well aku memang cemburu baby, satu minggu lagi kita akan menjadi suami istri dan aku akan membalasmu dengan menghajarmu di atas ranjang. " bisiknya pelan namun mematikan. Zafira menelan salivanya mendengar peringatan dari Evan. Para ibu hanya menggeleng melihat kelakuan calon pengantin ini. Dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi saat mereka resmi menjadi suami istri nantinya.
"Oh My God, mati aku!
__ADS_1