Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
TCBS PART 17 | CEMBURU BUTA


__ADS_3

Like, Vote dan komentarnya please!


"Aku pergi! Danzo bangkit, pria itu langsung pergi begitu saja setelah membuat huru hara. Niapun mencebik kesal melihat kelakuan sang kakak yang menyebalkan.


"Apa kamu masih berhubungan dengan pria asing itu Nia. " geram Louis dengan wajah datarnya.


"Ah raja singa ngamuk nih, ini semua gara gara kak Zo nyebelin. " batinnya sebal.


"Tidak sayang, lagian sudahlah jangan dengarkan apa kata kak Zo, dia memang menyebalkan seperti itu. " Nia mengusap lengan sang suami, berusaha menenangkan Louis yang tengah terbakar api kecemburuan.


Louis masih bungkam, sepertinya pria itu masih cemburu dan kini wajahnya tampak datar. Niapun lagi lagi menahan nafas lalu menghembuskan secara perlahan, suaminya kalau cemburu memang mengerikan apalagi kalau marah. Nia kini memikirkan cara agar suaminya tidak marah lagi, dia mendekatkan wajahnya kemudian mengecup singkar bibir Louis. "Jangan marah lagi, jangan cemburu lagi oke lagian aku tidak pernah bertemu dengannya lagi!


"Lagi!"


"Apa sayang? "


Louis menunjuk bibirnya, Nia yang paham berusaha membuang malunya, mengecup bibir suaminya dan di tahan Louis. Beberapa detik berlalu pria itu menyudahi ciumannya, seringai terbit di bibirnya.


"Like Father like son. " sahut Mommy sambil melirik kearah Daddy, Daddy terkekeh dan mencium singkat sang istri di hadapan putra dan menantunya. Nia merasa malu di perhatikan oleh kedua mertuanya. Sarah pulang ke mansion, semua orang memperhatikannya namun wanita itu hanya acuh tak acuh. Mommy bangkit, wanita paruh baya itu bergegas menemui Sarah.


"Kau dari mana saja nak, dari kemarin tidak pulang? "


"Aku tidak akan tinggal di sini, jika wanita itu masih berada di sini mommy. " ungkap Sarah dengan tatapan sinisnya..


"Nia istri Louis, wajar jika dia tinggal di sini sayang. " ucap mommy memberi pengertian pada Sarah. Sarah semakin kesal mendengar penuturan dari mommynya, dia memilih pergi ke kamarnya. Kebenciannya pada Nia semakin meningkat, Sarah berusaha mencari cara untuk menyingkirkan wanita itu. Mommy menghela nafas berat, wanita paruh baya itu kembali ke ruang tamu.


"Sayang kita ke luar yuk, beli susu ibu hamil untuk kamu! ajak Louis pada istrinya. Nia mengangguk, keduanya bangkit dan sebelum pergi berpamitan pada orang tua Louis.


Keduanya membeli buah buahan, camilan susu ibu hamil. Nia tanpa sengaja menyenggol seseorang, wanita itu menoleh dan terkejut melihat pria yang kemarin. Erick mengulum senyumnya, menghampiri Nia dengan wajah sumringah.


"Hai kita ketemu lagi, apa jangan jangan kita berjodoh Nona? "

__ADS_1


Rahang Louis mengeras, dia hendak meninjunya namun di tahan Nia. Erick beralih melirik Louis dengan seringai liciknya, setelah itu bersikap sewajarnya. "Nona kau sangat cantik dan mempesona, bolehkah aku meminta nomor ponselmu. " bujuk Erick.


Louis segera menarik istrinya peri setelah membayar belanjaan mereka. Brak pria itu menutup pintu mobilnya, membuat Nia terlonjak kaget. "Hubby, jangan salah paham dulu. "


"Diam! " bentak Louis.


Niapun berkaca kaca mendengar bentakan suaminya, wanita hamil itu memilih memalingkan wajahnya kearah luar kaca mobil. Setibanya di mansion, Louis menarik istrinya ke dalam. Niapun menepis tangan sang suami, matanya tampak berkaca kaca. "Selama aku pergi, sudah ada pria lain yang menggodamu kamu membiarkannya hah. " bentak Louis lagi.


"Tidak sayang, aku tidak pernah mengubris pria itu. " ucap Nia dengan jujur.


"Kamu haus belaian laki laki, atau jangan jangan kamu bertemu Xander xander itu, jawab Nia. " geram Louis.


Hati Nia sakit, mendengar tuduhan keji dari suaminya. Baru saja mereka baikan dan kini mereka bertengkar lagi. Melihat sikap diam istrinya membuat Louis semakin murka, pikiran dalam kepalanya seakan membenarkannya.


"Atau jangan jangan calon anak itu.. "


"Cukup! Kau boleh menghinaku tapi jangan calon anakku. " pekik Nia emosi. Nia tidak bisa hanya diam saja, suaminya benar benar keterlaluan. Rasa cemburu butanya, membuat Louis kehilangan akal sehatnya.


Tangis Nia seketika pecah, Louis terdiam melihat istrinya menangis. Nia berbalik dan pergi meninggalkan suaminya, wanita itu meminta pelayan mengambil belanjaannya. Melihat kepergian istrinya, pria itu mengusap wajahnya kasar. Ada rasa penyesalan, kala dirinya mengucapkan kata kasar pada sang istri.


"Sayang, meski daddy kamu tidak mengakuimu. masih ada mommy yang selalu melindungimu, sehat sehat dalam perut mommy ya sayang. " gumam Nia dengan lirih, menyentuh perut ratanya.


Hati Nia telah hancur dan kini begitu rapuh, ucapan suaminya terus berputar dalam kepalanya. Namun begitu dia tetap akan bertahan demi calon anak dalam perutnya.


"Aku bukan wanita murahan, yang haus belaian dan sentuhan pria. Apa aku begitu buruk si katamu hingga kamu bisa menyimpulkan begitu. " batin Nia miris.


Tiba tiba dia ingin nasi goreng buatan suaminya, namun melihat keadaan sekarang membuatnya enggan. Nia bangkit, ke luar dari kamar dan pergi ke dapur.


"Bi, buatin nasi goreng sama jus apel, bawa ke kamar ya Bi. "


"Iya Nyonya! Nia berbalik, melihat suaminya berdiri tak jauh darinya membuatnya muak. Lantas dia berjalan melewati Louis begitu saja tanpa bertegur sapa. Louis mencekal tangan istrinya, Nia berhenti dan membalik tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan menyentuhku. " ucap Nia dengan sinis.


"Apakah Xander yang boleh menyentuhmu atau pria tadi di pusat perbelanjaan. " sindir Louis pada istrinya. Nia terdiam, tangannya terkepal kuat mendengar sindiran suaminya.


Plak Nia melayangkan tamparannya ke pipi suaminya, tak menyangka Louis bisa berfikir rendahan seperti itu. Louis langsung bungkam, melihat tatapan istrinya yang begitu membencinya membuat sudut hatinya terasa nyeri. Tak ada rengekan, kekaguman dan tatapan mendamba dari sang istri dan kini berubah menjadi kebencian.


"Sebaiknya kau pergi, calon anakku bisa kesakitan jika melihatmu dan aku bisa kehilangan selera makanku. " ujar Nia melenggang pergi ke kamar di sebelahnya. Ya dia memilih kamar lain, asal tidak sekamar dengan pria yang menyakiti hatinya. Pelayan mengantarkan makanan ke kamar nyonya mudanya.



Malam harinya, dengan pakaian tebal Nia termenung di balkon, dia tak ingin sakit


mengingat suasana cukup dingin. Dia menatap bintang bintang bersinar gemerlapan di atas langit serta bulan yang memancarkan cahayanya.


"Seandainya aku bisa memilih, lebih baik aku bersama kamu Dika. " Nia menghela nafas panjang, diusapnya perutnya yang rata. Dia ingin sendiri, menenangkan hatinya yang kini sangat rapuh.


Drt


drt


drt


Danzo calling


"Kakak. " gumam Nia lirih. Nia merasa berdebar, jangan sampai kakaknya thlahu, soal masalahnya dengan Louis. Dia tidak ingin masalah rumah tangganya di campuri oleh orang lain termasuk kakaknya.


"Ya kak ada apa? "


"Kakek merindukanmu Nia, besok kakak jeput kamu dan kita temui kakek. " pungkas Danzo.


"Iya kak, besok aku akan bersiap. " Sambungan terputus, Nia bernafas lega. Dia bangkit, masuk ke dalam kamarnya. Dia harus beristirahat lebih awal, karena besok harus pergi ke negara Y. Mengenai Louis, sepertinya dia tak perlu bicara pada suaminya itu, mungkin saja Louis tak mempedulikannya.

__ADS_1


tbc


__ADS_2