Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Musim Ketiga - Beautiful Fairy Part 1 - Pertemuan pertama


__ADS_3


Nagara Saverio Johnstone, putera sulung pasangan Xander Johnstone dan Elena Anatasha Johnstone. Pria yang usianya 32 tahun itu telah sukses mengembangkan perusahaan JS Corp ke kancah internasional. Terkenal dengan perangainya yang buruk, membuat orang tuanya terutama sang mommy hanya bisa mengelus dadanya. Nagara tak segan segan memecat karyawannya yang tak bisa di handalkan dalam bekerja dan sikap Arogannya itu membuatnya banyak di takuti oleh orang orang. Dia memiliki saudara laki laki bernama Nicholas Demian Johnstone yang kini tengah memimpin perusahaan di cabang, usia keduanya hanya terpaut tiga tahun. Berbeda dengan sang adik yang ternyata seorang player, namun Nagara pria yang menghindari sesuatu yang tak penting dan ribet baginya terutama wanita.


Pagi ini keluarga Jonstone tengah berkumpul di meja makan, melakukan aktivitas yang biasa mereka lakukan di sana. Nyonya Elena memperhatikan kedua puteranya secara bergantian, terutama fokusnya pada si sulung.


"Nak, perusahaan sudah berkembang begitu pesat setelah berada dalam kendalimu, bukankah sekarang kamu sudah waktunya memikirkan untuk menikah? " tanya Nyonya Elena pada puteranya itu.


"Aku tahu mom, tetapi belum menemukan wanita yang cocok untukku, aku ingin wanita yang berbeda dan tak bergantung pada laki laki. " jawabnya dengan cuek. Nyonya Elena menggelengkan kepalanya, Gara selalu memiliki jawaban setiap kali dirinya bertanya.


"Itu artinya kau ingin wanita yang mandiri, berarti wanita itu tak butuh laki laki nak jika tak bergantung pada pasangannya apa jadinya nanti, sama halnya dengan mommy dan daddy yang saling bergantung satu sama lain. "


"Son, apa yang dikatakan mommy benar. Percayalah jika wanita mandiri dan serba bisa, kau akan menyesal nanti, kelak pasanganmu itu tak membutuhkanmu dan artinya dirimu tak berguna. " timpal Daddy Xander panjang lebar.


"Sepertinya Daddy sangat berpengalaman. " sindir Nickolas pada Daddynya. Daddy hanya mengulas senyumnya mendengar sindiran putera keduanya itu. Gara hanya diam dan tetap melanjutkan sarapannya hingga habis.


"Lalu bagaimana dengan kamu Nick? " tanya sang ibu yang beralih padanya.


Nickolas tersenyum lebar, memamerkan giginya seperti anak kecil. "Aku masih ingin berpetualang mommy, siapa tahu nanti menemukan belahan jiwaku yang sebenarnya!


"Cih awas rudalmu terkena penyakit dan berakhir impoten. " cibir sang Daddy yang mengetahui kelakuan Nickolas yang menjijikan itu. Nickolas tertohok mendengar ucapan dari daddynya itu. Nyonya Elena hanya bisa mendengus sebal melihat kelakuan kedua puteranya yang saling bertolak belakang.


"Cih Daddy jahat sekali. " decaknya kesal.


"Oh ya Gara, anak dari teman mommy akan pulang dan bisakah kamu menjemputnya di bandara nak lalu bawalah ke rumah, mommy ingin bertemu dengannya!


"Baiklah mom, aku berangkat. " Gara bangkit, mencium pipi ibunya sekilas bergantian dengan Nickolas. Daddy hanya bisa melotot melihat kelakuan dua puteranya yang kini tengah mengejek kearahnya.


"Hei jangan cium wanitaku. " teriak Daddy pada kedua anaknya yang telah ke luar. Terdengar suara renyah dari luar membuat pria oaruh baya itu mendengus sebal, Nyonya Elena tertawa melihat kelakuan suami dan kedua anaknya.

__ADS_1


"Daddy masih saja cemburu pada putera putera kita? "


"Tentu saja mom, kau itu hanya milikku sekarang. " dengan posesif Daddy memeluk pinggang sang istri, Nyonya Elena tersenyum geli melihat tingkahnya.


Gara melajukan roda empatnya menuju ke Bandara sesuai perintah sang Mommy. Jika dia menolak, dipastikan permaisuri daddynya itu akan mengamuk padanya. Tiba di Bandara Gara langsung turun dan mencari sesosok perempuan yang di sebutkan ciri cirinya dalam pesan sang mommy.


Seorang gadis berpenampilan culun tengah berjalan sambil menyeret kopernya. Gara langsung menghampiri gadis itu dengan wajah datarnya. "Kaukah yang bernama Daniella? " tanya Gara to the poin


"Iya Om aku Daniella Fairy Thalia. " jawabnya.


"Ikut aku, mommy ingin bertemu dengan


kamu. " ketusnya berjalan meninggalkannya. Daniella menghela nafas panjang, mengikutinya dari belakang dan masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan keduanya sibuk dengan kegiatan masing masing, Ella memilih mendengarkan musik di ponselnya.


Beberapa menit berlalu mereka telah sampai, keduanya turun. Gara masuk ke dalam lebih dulu tanpa membantu Ella membawakan kopernya. Ella hanya bisa menggerutu melihat kelakuan Gara yang seenaknya. Nyonya Elena datang menyambut Ella dengan pelukan hangatnya. "Bibi merindukanmu sayang, bagaimana kabar kamu dan orang tua kamu nak? " tanya Nyonya Elena.


"Ayo duduk dulu sayang. " Nyonya Elena mengajaknya duduk, Ellapun menurut. Gara mengabaikan keduanya, pria itu justru sibuk dengan ponselnya. Nyonya Elena dan Ella terus berbincang dan tawa keduanya membuat Gara menoleh kearahnya. Gara menatap tajam kearah Ella yang tertawa, entah apa yang dia pikirkan tentang gadis itu.


"Gara, tunjukkan kamar Ella sekarang. " pinta mommy. Gara bangkit, berjalan diikuti Ella dari belakang, menaiki tangga dan berhenti di depan kamar. Pria itu menoleh, memperhatikan penampilan Ella dari atas sampai bawah.


"Aku kira penampilanmu glamor, ternyata culun. " ejek Gara. Ella hanya diam tak menanggapi ejekan Gara padanya. Melihat respon yang di berikan Ella, Gara tersenyum miring dan berjalan mendekatinya. Justru gadis itu terlihat mundur dan berusaha menghindari Gara.


"Kenapa kau menghindar, kau takut padaku Ella? " tanya Gara.


"Tidak om, berhentilah memggodaku. " jawab Ella singkat sambil membenahi letak kaca matanya.



"Cih siapa juga yang menggoda kamu, penampilan culun, dada rata dan tubuh kurusmu itu aku yakin pria manapun tak akan suka. " sindirnya ketus. Ella memilih mengabaikannya, segera masuk ke kamar dan memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Gara terus mengamati apa yang di lakukan si culun itu.

__ADS_1


Tiba tiba keringat dingin memenuhi pelipisnya, Ella menghentikan kegiatannya itu. Gara nampak mengernyitkan dahi melihat Ella yang terdiam. Pria itu berinisiatif mendekatinya dan melihat apa yang di lakukan gadis itu. "Ada apa, kenapa kamu berhenti. " ujar Gara dari belakang.


"Err aku gak papa om. " gumam Ella pelan tanpa menoleh ke belakang. Gara membalik tubuhnya, melihat Ella yang tengah menekan dadanya dan meringis.


"Kau kenapa Ella? " wajah Gara berubah panik melihat Ella yang kesakitan. Ella hanya menggeleng, Gara berdecak pelan melihat sikap keras kepala si culun.


"Aku mohon jangan lagi. " batin Ella meringis sambil memegangi dadanya. Garapun membopong gadis itu, merebahkannya di atas ranjang kemudian menghubungi dokter. Tak lama dokter datang dan masuk ke dalam kamar. Dokter langsung memeriksa keadaan Ella yang tengah berbaring.


"Apa yang terjadi dengan Ella dokter? " tanya Gara.


"Nona Ella tidak boleh terlalu stress, sedih ataupun marah karena itu akan berpengaruh pada jantungnya. " ujar Dokter. Gara terkejut, pria itu menoleh kearah Ella yang memalingkan wajahnya.


"Ini resep dari saya dan tuan segeralah tebus di apotek. " perintah Dokter. Gara menyimpan resepnya setelah itu mengantar dokter ke luar. Setelah kepergian dokter, Gara kembali membawa obat lalu duduk di samping Ella.


"Om Gara, aku mohon jangan bilang hal ini pada Bibi Elena. " pinta Ella sambil memohon. Gara menghela nafas kasar, rasa kesal dalam dirinya lenyap begitu saja setelah mengetahui keadaan Ella.


"Sejak kapan kamu tahu penyakitmu? "


"Dua tahun om. " jawabnya singkat. Tatapan Gara berubah tajam, membuat Ella ketakutan saat melihatnya. Gara menghela nafas panjang, mengiyakan permintaan Ella. Ella tersenyum tipis melihatnya, senang melihat Gara yang menuruti permintaannya.


"Apa orang tuamu tahu hal ini Ella? " tanya Gara lagi.


"Err itu mereka tidak tahu karena selama ini aku tinggal bersama kakek dan nenek. " jawab Ella ragu ragu. Gara hanya bisa mendengus pelan, dia ingin marah pada Ella namun dirinya sadar dia bukan siapa siapa gadis itu.


"Om Gara bisakah om mengajakku jalan jalan, aku merasa bosan om setiap hari harus meminum obat. " keluhnya.


"Baiklah, tapi kau harus menuruti perintahku dan jangan membantah. " tegas Gara yang diangguki Ella. Gara membopongnya, membawanya ke luar. Mereka berdua pamit pada orang tua Gara.


tbc

__ADS_1


__ADS_2