
Hidup Mira semakin tak tenang, Nelson terus menerus berusaha menemuinya meski wanita itu menolaknya berkali kali. Mira telah mengetahui siapa Nelson sebenarnya, membuat wanita itu semakin menjaga jarak dari pria itu. Diapun terpaksa meminta bantuan pada Jovano, bukan karena rasa sukanya pada pria itu tapi Jovano yang selalu royal membantunya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Van? " tanya Mira dengan nada putus asa.
"Hidupmu sangat rumit Mira, mungkin ini karma untukmu karena berniat merebut suami orang. " celetuknya. Mira hanya diam, mungkin benar apa yang di katakan Jovano barusan. Pria itu menyentuh tangan Mira, wanita itu kembali menatap kearahnya dengan tatapan bingungnya.
"Menikahkahlah denganku, hanya ini satu satunya cara agar kau terlepas dari pria yang terobsesi denganmu! Miranda sangat terkejut mendengar pernyataan Jovano barusan.
"Gak Van, aku gak pantas untuk di nikahi setelah kejadian pria itu merenggut hartaku. " tolak Mira lirih. Wanita itu bangkit, memilih meninggalkan kediaman Jovano dan pria itu tak tinggal diam, mengejarnya dan membawanya kembali ke dalam.
"Kau yakin menolak, tidak sadarkah kamu jika anak buah Nelson tengah mencintaimu sekarang. " tegas Jovano.
"Tapi bukankah kamu tengah berusaha mendekati wanita bernama Ratna Van? " Mira menatap lekat wajah pria di depannya saat ini, Jovano hanya menggeleng pelan tanpa menjelaskan apapun.
"Katakan Ya atau tidak Mira? "
Mira menghembuskan nafas berat, dia tak punya alasan lain. "Iya aku mau Van!
"Ayo ikut aku sekarang. " ajak Jovano yang di angguki Mira, keduanya ke luar. Selama perjalanan tak ada yang bersuara,mereka tenggelam dalam pikiran masing masing.
Mira masih terkejut setelah keduanya selesai menandatangi surat pernikahan, Jovano menyematkan cincin ke jarinya begitu sebaliknya. Kini keduanya telah resmi menjadi suami istri, Pria itu merangkulnya, membawanya pergi dari sana.
Sampai di apartemen keduanya pergi ke kamar masing masing, Mira memilih berendam guna sejenak melupakan masalahnya. Setelah mengganti pakaiannya, wanita itu ke luar dan tanpa sengaja melihat pintu kamar Jovano terbuka.
Prang
Terdengar sesuatu yang jatuh dari dalam kamar pria itu membuat Mira panik, wanita itu langsung masuk ke dalam kamar suaminya tanpa permisi. "Astaga Vano, apa yang kau lakukan. " jerit Mira melihat Jovano yang melempar botol wine hingga tangan pria itu berdarah.
__ADS_1
"Sini aku bersihkan lukamu. " Wanita itu menariknya duduk di ranjang, setelah itu mengambil obat dan mulai mengobati luka di tangan Jovano. Jovano hanya diam membiarkan Mira mengobati tangannya.
"Sebenarnya kamu kenapa Van, kenapa kamu melempar botol itu? "
"Tidak apa apa, jangan hiraukan aku. " ketus Jovano datar. Mira berdecak pelan, meremat luka Jovano membuat pria itu meringis. Dia semakin kesal dengan tingkah Jovano, Mira bangkit dan ke luar dari kamar pria yang menjadi suaminya. Merebahkan diri di ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya.
Cklek
"Kau marah? "
Mira hanya diam, mengacuhkan keberadaan Jovano yang kini berada di belakangnya. Pria itu berjalan mendekat, naik ke atas ranjang, membuat tubuh Mira tegang kala sepasang lengan memeluknya dari belakang. "Sa..yang kau marah pada suamimu ini hm? " bisiknya sambil mengendus leher Miranda.
Sayang huh? menggelikan!
Mira berbalik, menatap kesal kearah suaminya yang terus menganggunya. Jovano sejak tadi menyentuh titik sensitifnya membuatnya meremang.
"Tatap mata aku Nyonya Miranda Jovano Smith!
Jovano tersentak, ucapan Mira begitu menohoknya. Mira menghapus setitik air di sudut matanya, dia tak ingin suaminya tahu jika dirinya menahan tangis.
"Maafkan ucapanku yang menyakitimu
Mira. " sesal Jovano.
"Lupakan saja Van, aku ingin istirahat sebaiknya kamu ke luar. " isinya dengan halus. Jovano tak bergeming, pria itu mengerjakan pelukannya. Dia tak akan membiarkan Mira ke mana pun apalagi kabur. Mira benar benar kesal ingin sekali mengumpati Jovano namun dia menahannya.
Cup
__ADS_1
"Pejamkan matamu, bukankah kamu ingin istirahat!
"Tapi? "
"Baiklah aku akan menciummu. " Jovano pura pura mendekatkan wajahnya, Mira buru buru memejamkan mata. Tak lama terdengar suara dengkuran halus, Jovano tersenyum kecil. Pria itu memeluk tubuh istrinya, menyusul istrinya terbang ke alam mimpi.
Langit berubah gelap Mira terbangun merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya, gadis itu membuka mata dan terkejut. Dirinya dalam keadaan polos dalam dekapan suaminya, Jovano tengah menatapnya lamat "Vano apa yang kamu lakukan hah? "
"Aku belum melakukan apapun sayang, aku hanya memberimu kehangatan. " ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
"Lepas Vano. " Mira berusaha melepaskan pelukan suaminya, Vano tak membiarkannya. Pria itu langsung menindihnya, membuainya dengan kecupan kecupan mesra. Dan malam itu menjadi malam pertama bagi Jovano dan Mira sebagai suami istri.
Setelah ronde ke empat Jovano baru mengakhiri kegiatan panasnya, Mira mengatur nafasnya yang tersengal lalu memukuli dada suaminya. "Kenapa kamu meminta hakmu, Vano kenapa?
"Kita telah menjadi suami istri yang seutuhnya Mira, aku ingin memulai semuanya bersamamu tanpa kontrak atau apapun itu. " tegas Jovano. Mira tertegun, tak menyangka akan pernyataan suaminya barusan. Jovano juga menjelaskan alasannya, dia akan berusaha mencintai Mira sepenuh hatinya.
"Makasih mas, makasih telah mengizinkan aku untuk berusaha masuk ke dalam hatimu. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padamu, jika suatu saat tak berhasil aku akan mundur dengan sendirinya. " ucap Mira lugas sambil tersenyum. Entah kenapa ada rasa tak suka saat dirinya mendengar kalimat terakhir istrinya.
"Mas, untuk sementara kita tunda ya punya anaknya. Aku masih ingin fokus pada tujuanku membuatmu mencintaiku!
"Tidak usah sayang, justru aku suka jika kamu hamil. " balasnya tersenyum tipis sambil menyentuh perut rata istrinya. Hati Mira berdebar cepat mendengar pengakuan suaminya. Mira memeluk tubuh suaminya erat, menciumi dada prianya membuat Jovano mendesah pelan.
"Kalau mau lagi bilang sayang. " seringai licik Jovano terbit, Mira mendadak gelagapan melihatnya. Jovano kembali mengukungnya, keduanya kembali melakukan penyatuan indah.
Pagi ini setelah mandi plus plus berdua dengan suaminya, Mira segera menyiapkan pakaian kerja sang suami. Lalu pergi membantu suaminya memasang dasi Jovano. "Sayang sini aku bantu pasang dasinya. "
Jovano melingkarkan tangannya ke pinggang Mira, memperhatikan istrinya yang terlihat lucu saat serius. Mira menepuk dada suaminya, pertanda pekerjaannya selesai. Wanita itu salah tingkah melihat tatapan intens sang suami. Vano menciumnya, memagut bibirnya lembut dan liar,Mira membalas ciumannya tak kalah mesra dan panas.
__ADS_1
"Udah sayang, nanti kamu telat!
"Kamu hati hati ya sayang. " Mira mengantar suaminya ke depan pintu, Jovano mengangguk. Saat hendak masuk ke mobil, tiba tiba perasaaan resah melanda dirinya.Dia berbalik dan memutuskan mengajak istrinya pergi ke kantor, dia tak tenang jika Mira sendirian di apartemen. Mira menuruti keinginan suaminya, lagipula semenjak keduanya menyatu entah kenapa dirinya enggan berjauhan dari Jovano.