
Sore hari Zafira mengajak suaminya menjenguk Meisya di kediaman orang tua Meisya. Dia sempat membeli parcel buah di jalan tadi, kini keduanya dalam perjalanan ke sana.
Tiba di kediaman Bunda Asya, keduanya langsung turun dan masuk ke dalam. Bunda Asya sendiri menyambut kedatangan mereka,kini keduanya mengobrol di ruang tengah. Zafira menanyakan keadaan Meisya saat ini pada bunda Asya, keduanya bangkit dan pergi ke kamar Meisya.
Wanita hamil itu menyapa sahabatnya, keduanya saling berpelukan sekilas. Zafira duduk di sebelahnya, dia memberikan semangat untuk sang sahabat. Meisya tersenyum lebar melihat kehadiran sahabatnya, setidaknya saat ini dia merasa tenang.
"Semua orang sayang kamu Mei, kamu jangan takut ya dan lawan trauma itu dengan pelan pelan Meisya. " ucap Zafira dengan pelan.
"Terima kasih Fira, terimakasih telah memberi semangat untuk aku. " ucap Meisya dengan tulus. Zafira mengangguk, dia mengalihkan obrolannya dengan membahas rencana pernikahan Zafira dan Garvin. Meisya tentu selalu bersemangat jika mengingat rencana pernikahannya dengan Garvin.
"Oh ya untuk sementara kamu ganti nomor dulu deh, nomor lama kamu matiin aja dulu takutnya ada hal hal tak di inginkan
nantinya. " ucap Zafira memberikan saran. Meisya setuju dengan ide yang di berikan sang sahabat.
Zafira bangkit, ke luar dari kamar Meisya dan membiarkan sahabatnya istirahat. Dia kembali bergabung bersama suami dan orang tua Meisya. Dia menjelaskan jika keadaan Meisya jauh lebih baik dan tenang.
Bunda Asya membuatkan cemilan favorit untuk Zafira, tentu saja dengan senang hati memakannya dengan lahap. Evan terkekeh melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan. Setelah puas makan wanita hamil itu meminum teh buatan bunda Asya.
__ADS_1
Setelah dua jam di sana Zafira dan suami pamit pulang. keduanya ke luar dari kediaman bunda Asya. Sepanjang perjalanan Zafira banyak bicara, Evan hanya diam mendengarkan ucapan istrinya.
Beberapa menit berlalu mereka akhirnya sampai di mansion, keduanya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Ternyata Ethan dan Shenna telah berada di ruang tamu, pasangan suami istri itu menemui Ethan di sana.
"Hai Shenna, bagaimana kabar kamu? " tanya Zafira dengan ramah.
"Aku baik kak Fira. " jawab Shenna dengan canggung. Gadis itu sepertinya memang belum mengingat dia belum mengingat apapun, Zafira sendiri paham akan keadaannya.
Ethan menjelaskan tujuannya datang ke mari pada kakak dan iparnya. Evan tentu saja setuju dengan keputusan saudara kembarnya yang ingin menikahi Shenna secepatnya. Zafira justru memperhatikan Shenna yang terlihat banyak diam.
"Shenna, apa kamu keberatan dengan keinginan Ethan? " tanya Zafira lembut, dia tak ingin Shenna terpaksa menerima lamaran Ethan. Terlihat jelas gadis itu masih ragu ragu akan keputusannya. Ethan sendiri merasa gemas dengan tingkah sang kekasih hati.
Ethan mendengus pelan, kakak iparnya ini semenjak hamil begitu bawel padahal dirinya hanya bercanda tadi. Zafira mendengus jengkel, adik iparnya ini benar benar menyebalkan pikirnya. Evan memberikan nasehat pada Ethan agar memberi Shenna waktu, Ethan tentu saja setuju.
Zafira bangkit, mengajak Shenna dan mengantar gadis itu ke kamarnya. Shenna menuruti ajakan Zafira, keduanya banyak mengobrol. Di kamar tamu keduanya masuk ke dalam kamar, Zafira menepuk bahu Shenna dengan pelan.
"Kamu jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya Shen, itu hanya akan membuatmu sakit kepala. Mengenai pernikahan kamu dengan Ethan, menurutku kalian serasi dan Ethan itu pria yang bertanggung jawab!
__ADS_1
"Oh ya kak, apa kakak tahu tentang siapa ibu aku kak? " tanya Shenna penasaran. Zafira mengatupkan bibir nya, haruskah dia mengatakan kebenarannya pada Shenna. Namun dia tak sanggup membuat hati Shenna kembali hancur akan kenyataan pahit itu.
"Aku bingung harus bicara bagaimana sama kamu She, aku takut kamu hancur setelah mendengarnya. " Shenna sendiri memaksa Zafira untuk bicara siapa orang tuanya,wanita hamil itu memberitahu jika dia memiliki seorang mama. Setelah mendengarkan penjelasan Zafira, tubuh Shenna langsung lemas seketika. Terdengar suara isakan tangis membuat Zafira ikut hanyut di dalamnya.
Perempuan hamil itu memeluk Shenna, memberi kekuatan pada calon adik iparnya ini.
Shenna POV
Jadi aku anak yang tak di inginkan oleh mama, aku pergi dari rumah setelah mama bicara kasar padaku. Ya Tuhan apa salahku kenapa mamaku sendiri begitu membenciku dan sekarang mama tak ada niat mencari ku atau mengkhawatirkan aku. Kenapa ini semua harus terjadi sama aku, hanya mama yang aku miliki namun mama justru tak menginginkan aku.
Zafira melepaskan pelukannya, dia bangkit dari sana dan ke luar. Dia sengaja membiarkan Shenna untuk sendiri, mungkin gadis itu perlu waktu. Dia mengusap setitik cairan bening menetes ke pipinya, Zafira memilih pergi ke kamarnya.
Cklek dia segera melakukan aktivitas sorenya di kamar mandi, beberapa menit berlalu Zafira segera ke luar dan mengganti pakaiannya. Dia menaruh handuk kotornya ke ranjang pakaian, setelah itu berbaring di atas ranjang.
Tiba tiba dia jadi teringat dengan Zia, dia merasa bersalah pada adiknya itu. Mungkin benar jika Zia tak bersalah dalam masalalu orang tua mereka, karena egonya yang besar dia begitu membenci Zianka.
Lagi lagi terdengar suara helaan nafas berat, entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia harus datang ke rumah tanya Vera dan meminta maaf pada Zia. Lebih baik nanti dia membicarakan hal ini pada sang suami. Lagipula mami nya pernah bilang agar dirinya berdamai dengan masa lalu, dia cukup kagum dengan kebesaran hati mami Amira.
__ADS_1
Zafira POV
Selama ini aku egois, membenci Zia hanya karena Zia putri dari wanita yang merebut ayah kandungnya. Bukankah menyimpan dendam hanya akan membuat dirinya tersiksa nantinya, dan juga membuat hidup tak bahagia. Ya aku harus berubah dan menekan egoku, aku tak ingin mengecewakan semua orang.